Oleh: Etta Adil
Tulisan sebelumnya: Autum in Paris: Une tasse de Cafe’ sur le mur
PALONTARAQ.ID – Pernah dengar Boneka Barbie? Ya, itu boneka wanita cantik yang dikagumi karena tampak hidup dan membuat senang siapa saja yang melihatnya. Di sisi lain, ada pula boneka kayu (b. makassar: Dato’-dato’), yang dikagumi karena bisa memainkan lakon cerita yang lucu jika dikendalikan dengan baik.
Pernah dengar seseorang yang mirip Barbie? Sebut saja misalnya Nama Valeria Lukyanova dan Alina Kovalevskaya yang sempat jadi perbincangan hangat di dunia maya karena keduanya dianggap memiliki fisik dan paras cantik menyerupai Boneka Barbie.
Ada pula nama Wanita asal Rusia, Lolita Richi. Penampilannya menarik perhatian dunia karena dianggap mirip Boneka Barbie. Penasaran dengan sosok Lolita Richi? Searching aja di Google.
Anda mau jadi wanita yang terkenal? Silakan memirip-miripkan penampilan dengan Boneka Barbie, dan segera setelahnya duplikasi fotonya sebanyak mungkin di dunia maya. Ternyata memang ada begitu banyak orang menyenangi boneka, apalagi ‘boneka hidup’.
Boneka Barbie memang diproduksi sebagai ‘boneka hidup’, karena itu segala apapun yang melekat pada dirinya dibuat mempesona, dari rambutnya, wajahnya, pakaiannya, segala aksesorisnya, sampai sepatu yang dikenakannya.
Boneka Barbie diproduksi dari Perusahaan Mattel dan pertamakali diproduksi Ruth Handler di Amerika Serikat. Sebagai Boneka favorit dan disukai masyarakat, produsen Barbie kemudian menerbitkan cerita serial Barbie dengan beberapa karakter, seperti Ken, Merliah Summers, Rapunzel, Calissa, dan Ibu Gothel.
Booming-nya Barbie membuat banyak yang ingin tampil layaknya boneka ini. Bahkan ada yang sampai mengalami sindrom Barbie, yaitu suatu istilah ketika seseorang menginginkan bentuk tubuh dan trend yang ada pada Boneka Barbie, termasuk meniru aktivitas sehari-harinya.
Di Indonesia sendiri, seorang cewek bernama Billa asal Cikarang diviralkan karena berparas mirip Barbie. Konon mahasiswi ini tidak melakukan operasi dan hanya menggunakan makeup. Penampilan Billa dikagumi banyak orang. Tak heran Billa memiliki banyak ratusan ribu followers.
Selain Billa, ada pula Thalasya. Namanya melambung dan tenar lantaran penampilannya dianggap mirip Boneka Barbie. Sosok Thalasya semakin dikenal sejak Raditya Dika berfoto dengannya. Akun Instagramnya pun langsung melonjak followersnya.
Ternyata kekaguman seseorang terhadap Boneka bukan hanya kepada Barbie atau untuk sekadar menjadikannya pajangan unik di ruang keluarga. Tapi ada juga yang mengagumi boneka karena mudah dan lincah digerakkan, layaknya wayang dikendalikan Ki Dalang.
Lihat pula: Ketika Boneka memilih Pemimpin
Boneka menjadi Pemimpin
Adakah memang Boneka disukai juga homo-politicus? Dalam seni kepemimpinan, justru sangat naif jika kita menjawab tidak suka, tidak tahu, atau malah mengingkari bahwa hal seperti itu tidak ada atau tidak betul.
Adakah memang kita ikut-ikutan mengagumi Boneka? atau adakah Boneka menjadi Pemimpin karena begitu banyak Ki Dalang yang memainkannya?
Tak perlu jauh-jauh sih sebetulnya jika ingin bukti, lihat saja kenyataan di sekitar kita, di lingkungan kerja atau organisasi kita, atau pelototilah berbagai macam kelakuan Boneka di media sosial.
Seni kepemimpinan adalah seni mempengaruhi. Artinya, leaderships adalah kata lain dari influence, sehingga seorang pemimpin adalah influencer. Kalau ada pemimpin yang tidak berpengaruh, baik kata-katanya atau kebijakannya, maka tentu sangat layak kita curigai dia sebagai boneka yang dihidupkan Ki Dalang.
Adakah di kekinian, dalam kehidupan demokrasi dan berbangsa kita, partai politik memperkenalkan Boneka dengan mendustakan kenyataan, sebagai Boneka yang dicitrakan hidup dan menjadi sosok yang dikagumi?
Karena akan sangat berbahaya, mengagumi wayang dari Ki Dalang yang mengambil keuntungan dari ceritanya. Bahayanya lagi, kalau wayang tak pernah menyadari dirinya sebagai boneka yang dihidupkan untuk menghibur kepentingan Ki Dalang.
Dalam pewayangan, memang perlu kecerdasan memahami Semar sebagai Semar dan Gareng sebagai Gareng. Sebab jika tidak, akan sangat berbahaya menganggap Gareng, yang suka bercanda dan memiliki ketulusan pengabdian terhadap tuannya sebagai Sosok Semar, yang mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.
Jika suka boneka dan wayang, mari menyukainya sewajarnya. Jangan menyukai boneka yang dihidupkan atau wayang yang mengingkari karakter aslinya dalam lakon cerita hidupnya.
Tabe’, Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)


