Tulisan Sebelumnya: EGO (39-42)
EGO (43): Aku dan tiga kawan bertamu ke rumah sahabat kala SMA nun jauh dari perkotaan. Di desa pegunungan itu, sahabat kami itu kini begitu dihormati sebagai tokoh masyarakat meski setahun lalu sudah melepas jabatan sebagai kepala desa. Kami berempat dijamu dengan kue tradisional yang disebut “barongko”.
Banyak perkembangan kehidupan sosial budaya yang kami perbincangkan dan sepulang dari rumah sahabat tersebut, kawan pertama menanyaiku, “Tak ada yang berubah pada sahabat kita itu yah, hanya saja kok kita cuma dijamu barongko, padahal kan masih banyak kue yang lain terlihat, apalagi ini baru habis hajatan?”
Aku tersenyum menanggapinya. Kucoba menjelaskan bahwa penyajian kue tersebut adalah simbol penegasan karakter diri sahabat yang kami datangi.
“Seharusnya kalian sudah tahu Hal-hal seperti itu. Kue “Barongko” itu terbuat dari pisang dan dibungkus pula dengan daun pisang. Artinya, baik isi maupun pembungkusnya dari pisang. Jadi itu penegasan, bahwa setelah sekian lama bertemu, sahabat kita itu ingin menegaskan lewat jamuan barongkonya bahwa tidak ada yang berubah pada dirinya, apa yang diucapkan dan apa yang tersimpan dalam hati itu sama, selaras pula perbuatan dengan perkataannya,”jelasku.
“Wah, saya baru tahu soal itu kawan. Berarti jika disuguhi Barongko, kita tak perlu tanya lagi tentang karakter tuan rumah” sambut kawan kedua.
“Nah, itu berarti sahabat kita itu jauh lebih memahami kearifan lokal dibanding kalian bertiga,” ujarku seraya menertawai kawan ketiga yang menenteng pulang kantong plastik berisi barongko.
Catatan Ego (43) Etta Adil, Pangkep, 21 Oktober 2012.

EGO (44): Tetangga depan rumah berpulang ke rahmatullah. Aku, beberapa guru dan pengurus yayasan sekolah dalam kompleks tempat tinggalku menyempatkan waktu untuk melayat.
Sesampai di rumah duka, beberapa orang tua mendekat dan menanyaiku soal lain, yaitu tentang plang (papan nama) PLIK (Pusat Layanan Internet Kecamatan) yang terpajang di depan rumah duka. Sehari sebelumnya memang aku perintahkan seseorang untuk memasang plang PLIK itu.
“Itu PLIK dimana tempatnya, Pak?” tanya seorang diantaranya.
“Aku tempatkan dalam sekolah, dalam lingkungan pesantren. Silakan datang kalau mau berinternet.” – begitu jawabku sekadar menyambung perbincangan yang tak kuminati.
“Oh kukira tempatnya di udara, saya menengok ke atas kok tidak ada. Maaf, soalnya tanda panahnya menunjuk ke atas, tidak menunjuk ke dalam lingkungan sekolah,” ujar orangtua itu lagi yang diiringi gelak tawa Orang-orang di belakangnya.
“Oh, kalau soal itu, saya juga mafhum. Plang itu bukan dibuat olehku, bukan juga oleh sekolah, tetapi memang sudah begitu adanya diterima dari Jakarta”.
Seorang teman guru menggamit lenganku berlalu meninggalkan kerumunan pelayat yang seakan mau menyalahkanku, padahal aku sendiri menganggapnya tertawaan mereka sebagai candaan yang cukup menghibur.
Catatan Ego (44) Etta Adil, Pangkep, 22 Oktober 2012.
EGO (45): Hari masih pagi saat pesan pendek tiga kawan yang anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan dua Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) memenuhi inbox ponselku. Pesan pendek itu memintaku untuk menjadi pembicara pada Sosialisasi Pilgub 2013 di dua PPS sekaligus, yaitu di PPS Bontokio pada Pukul 09.00-10.30 WITA dan di PPS Panaikang pada Pukul 10.00 WITA-selesai.
Pagi itu aku sakit perut, mencret dan dua-tiga kali bolak balik ke kamar kecil hingga berpikir untuk tidak usah memenuhi undangan Sosialisasi Pilgub itu, apalagi ada kewajiban lain yang harus kupenuhi pada jam yang bertepatan, yaitu bertemu dengan Kadis Pertambangan dan Kadis Pariwisata setempat.
“Ah, lebih baik bertemu dengan masyarakat. Sosialisasi ini penting, dan menentukan masa depan Sulawesi Selatan lima tahun ke depan. Lagian, Siapa lagi yang mereka harapkan memberikan sosialisasi yang baik kalau bukan Aku,” ujarku kepada istri yang menyarankanku agar ke Kantor Pemerintah Kabupaten saja memenuhi janji dengan dua kadis itu.
“Tapi, Etta kan tidak pernah belajar! Bagaimana bisa memberikan sosialisasi yang baik?” – begitu tanya istri yang langsung kusanggah.
“Aku ini pembaca koran tiap hari. Artinya perkembangan tahapan pelaksanaan pilgub ini cukup aku ikuti dari media. Lagi pula, siapa yang bisa meragukan kalau Aku punya cukup pengalaman dalam Bidang Kepemiluan serta pernah menjadi Anggota Tim Seleksi KPUD.”
Catatan Ego (45) Etta Adil, Pangkep, 23 Oktober 2012.


