BerandaKolomEGO (39-42)

EGO (39-42)

Tulisan Sebelumnya:  EGO (36-38)

EGO (39) : “Surprise,” – pikirku saat melihat sebuah nama pengirim pesan yang masuk di ponselku. Setelah lama tak saling kirim kabar dan bertemu, aku menerima pesan pendek dari seorang kawan karib yang Direktur Penerbitan Buku di Makassar.

“Assw. Seorang penulis haruslah menyampaikan kiritik dan kegelisahannya atas sisi gelap masyarakat dan keburukan sifat manusia. (Mo Yan, Peraih Nobel Sastra 2012). Salam Kehidupan,” tulisnya.

Pertamanya, aku kira ia kirim pesan menanyakan kabarku setelah sekian lama aku tak mengunjungi kantor dan rumah bacanya. Aku mencoba memahami makna kedalaman dari pesan singkatnya.

“Ahh, mungkin pikirnya, aku bukanlah kategori orang baik sebagaimana diungkapkan Mo Yan seperti tulisnya setelah beberapa naskah buku untuk penerbitnya tak mampu kuselesaikan. Ah biar saja, toh sekarang aku tak merasa diri sebagai seorang penulis,” batinku di depan komputer saat tanganku gemetaran memegang mouse tak menemukan folder naskah buku yang kucari.

“Biarlah aku disini, belajar lagi dari awal untuk menjadi lebih baik, membenahi semua kata dan kalimat yang perlu diperbaiki, membenahi semua file dan folder naskah buku yang bercerai-berai. Suatu saat aku akan tampil lagi dengan karya yang lebih elegan,” ujarku pada sepi seraya menatap Buku-buku elegan pemberian seorang kawan yang beberapa hari terakhir ini lebih akrab denganku dan mengajariku cara menulis yang baik.

Catatan Ego (40) Etta Adil, Pangkep, 17 Oktober 2012

EGO (40): Aku duduk di teras rumah sendiri saat seorang kawan datang mendekat. Tanpa basa basi, kawan paruh baya itu duduk di kursi teras dan langsung mengeluhkan anaknya yang harus berhenti kuliah karena tak mampu lagi membiayai, belum lagi anak gadisnya yang sudah cukup umur untuk menikah, serta keluhan hidupnya yang lain.

“Tolonglah carikan pekerjaan sampingan atau saya bekerja saja kepada bapak, barangkali ada pekerjaan yang bisa saya bantu,” ujarnya.

Aku menarik nafas panjang melihatnya bercerita seraya mengepulkan asap rokok. “Sebenarnya bapak ini tergolong orang tua yang sangat mampu menyekolahkan anak. Hanya saja bapak mementingkan diri sendiri. Coba lihat diri bapak, seenaknya saja bapak mengatakan tidak punya uang untuk membiayai kuliah anak sementara di depanku bapak dengan santainya ‘membakar’ uang,” jawabku melirik rokok yang dihisapnya tergolong mahal.

“Soal anak gadis bapak, tak perlu terlalu dipikirkan, kan bapak tinggal tunggu lamaran,” tambahku. Muka tamuku seketika memerah dan bergeming di tempat duduknya. Sesaat kemudian ia permisi dan membuang sebatang rokok yang tengah dihisapnya.

Catatan Ego (40) Etta Adil, Pangkep, 18 Oktober 2012

EGO (41): Aku tiba-tiba terperangkap diantara dua kawan yang pejabat daerah terlibat perbincangan serius. “Soal Poligami. Ya, Soal Poligami. Bagaimana menurutmu?” tanya dua kawan hampir bersamaan.

Sebenarnya Aku bukanlah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Itu hukumnya sudah jelas dan tidak usah diperdebatkan.  Menurutku, persoalan poligami adalah persoalan cara atau manajemen menghargai wanita dalam pernikahan, keluarga dan rumah tangga.

“Poligami tidak terkait dengan cinta dan kesetiaan. Mengapa begitu? Ya, karena ada laki-laki diberi kemampuan untuk setia pada satu wanita dan adapula laki-laki yang diberi kemampuan untuk setia pada dua, tiga atau empat wanita.  Poligami adalah “sistem pernikahan” yang direstui oleh Tuhan untuk menantang kaum laki-laki yang secara nafsu, libidonya lebih tinggi dan secara sosial ditakdirkan menjadi pemimpin bagi kaum wanita,” jelasku.

“Ya…Ya…Bagaimana dengan syarat berbuat Adil?” tanya kedua kawan dengan pertanyaan yang sama.

“Adil itu relatif, bisa menurut pikiran, bisa menurut perasaan. Adakah yang bisa mengukur seseorang itu dapat berbuat adil atau tidak jika belum dilaksanakan, sedang yang dilaksanakan ini adalah salah satu hukum Tuhan untuk menghindari perzinahan,” jawabku.

Kedua kawan bergeming dan berpikir serius. Seorang diantaranya seketika tersenyum dan bertanya, “Jadi, bisa dong saya poligami?” Aku ikut tersenyum, kujabat tangan kawan itu dan setengah berbisik kukatakan kepadanya, “Soal syarat adil dalam poligami, jangan jadi pengecut, kawan ! Bagaimana kamu tahu dirimu bisa berbuat adil atau tidak, jika belum mencobanya”.

Catatan Ego (41) Etta Adil,  Pangkep, 19 Oktober 2012.

EGO (42) : Puluhan mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi di Pangkep terlibat dalam diskusi kecil pada jejeran kursi di depan ruangan kantor bupati. Aku yang berlalu di depan mereka sempat mendengar perbincangan para mahasiswa itu. Keluhan mereka hampir sama, tidak tahu siapa yang harus dihubungi terkait penelitian skripsinya.

Tiba-tiba seorang diantara mahasiswa itu mengenaliku dan berlari menegurku, “Assalamu “Alaikum. Ini Pak Farid ya?” Satu persatu akhirnya para mahasiswa itu menjabat tangan, mengenalkan diri dan mengajakku diskusi.

“Lima tahun terakhir aku terlibat dalam penulisan dan penyusunan buku “Profil Daerah Pangkep”. Karena itu seharusnya jika mau meneliti di Pangkep, akulah orang pertama yang harus kalian hubungi. Aku siap membantu, tentu dengan syarat satu rangkap hasil penelitian kalian harus disetor untuk kelengkapan pustakaku,” ujarku setelah menginformasikan alamat dan nomor kontakku.

Catatan Ego (42) Etta Adil, Pangkep, 20 Oktober 2012.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT