BerandaLiterasiKetika Sejarah Menari di Atas Panggung: Syukur, Perjuangan, dan Penghargaan atas Hak...

Ketika Sejarah Menari di Atas Panggung: Syukur, Perjuangan, dan Penghargaan atas Hak Cipta Dua Naskah Sendratari Pangkep

Oleh: M. Farid W. Makkulau *)

Related Post: Sendratari Sebagai Media Pembelajaran Sejarah Daerah

PALONTARAQ.ID – Ada kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan angka. Ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata. Ada pula proses panjang yang terkadang hanya dipahami oleh mereka yang pernah duduk berjam-jam di hadapan catatan sejarah, membaca fragmen peristiwa, menelusuri ingatan kolektif masyarakat, lalu mencoba mengubahnya menjadi sebuah karya yang dapat berbicara melalui gerak, musik, ekspresi, dan keheningan panggung.

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah Swt., Alhamdulillah, penulis menerima penghargaan dan pengakuan penting dari negara atas dua karya naskah berbasis budaya yang telah memperoleh pencatatan hak cipta. Kedua karya tersebut adalah Naskah Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep dan Naskah Sendratari Perjuangan Andi Maruddani Melawan Belanda.

Bagi penulis, pencatatan hak cipta ini bukan sekadar selembar sertifikat atau pengakuan administratif atas sebuah karya. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk apresiasi negara terhadap proses kreatif, kerja intelektual, serta upaya untuk mengangkat sejarah dan kebudayaan lokal ke dalam ruang ekspresi yang lebih hidup.

Pemerintah, melalui sistem perlindungan hak kekayaan intelektual, memberikan pengakuan bahwa karya seni pertunjukan berbasis sejarah dan kebudayaan juga memiliki nilai, identitas, serta hak untuk dihargai. Namun, di balik kebanggaan itu, saya juga memandangnya sebagai sebuah tanggung jawab. Sebab, ketika sebuah karya lahir dari sejarah dan kebudayaan, maka ia tidak boleh lahir secara sembarangan.

***

Sejarah sering kali hadir di hadapan kita sebagai deretan tahun, nama tokoh, tempat, dan peristiwa. Ia dibaca dalam buku, dipelajari di ruang kelas, kemudian kadang-kadang berhenti sebagai hafalan. Padahal sejarah sesungguhnya adalah kehidupan manusia. Di dalamnya ada air mata, ketakutan, keberanian, pengorbanan, pengkhianatan, harapan, dan perjuangan.

Dari kesadaran itulah lahir gagasan untuk menghadirkan sejarah Pangkep melalui Sendratari Perjuangan Kemerdekaan, sebuah karya naskah seni pertunjukan untuk menggambarkan denyut perjuangan rakyat dan semangat kemerdekaan dalam konteks sejarah lokal. Bahwa perjuangan menuju dan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar yang selama ini lebih sering mendominasi narasi sejarah nasional.

Di daerah-daerah, termasuk di Pangkep, ada rakyat biasa, pejuang, tokoh masyarakat, dan generasi yang turut merasakan getirnya penjajahan serta besarnya harga sebuah kemerdekaan. Sementara itu, Sendratari Perjuangan Andi Maruddani Melawan Belanda menghadirkan kembali narasi perjuangan seorang tokoh lokal dalam menghadapi kekuasaan kolonial.

Tokoh-tokoh perjuangan lokal, seperti Andi Bangkung Mappesona (Andi Mappe) dalam Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep dan Andu Maruddani Karaengta Bonto-bonto dalam Sendratari Perjuangan Andi Maruddani melawan Belanda—sering kali hanya hidup dalam ingatan masyarakat tertentu. Mereka mungkin dikenal oleh generasi tua, disebut dalam cerita lisan, atau tersimpan dalam fragmen sejarah yang belum banyak dibaca oleh generasi muda.

Melalui sendratari, penulis ingin sejarah itu tidak sekadar disebut, tetapi dihidupkan kembali. Tokoh tidak hanya dibaca namanya. Ia hadir melalui karakter. Perjuangan tidak hanya diceritakan. Ia diterjemahkan melalui gerak. Konflik tidak hanya dijelaskan. Ia dihadirkan dalam ekspresi. Dan kemerdekaan tidak hanya diperingati melalui upacara, tetapi dirasakan sebagai sebuah perjuangan yang memiliki harga dan pengorbanan.

***

Kedua naskah sendratari tersebut bukan hanya berhenti sebagai tulisan. Dengan rasa bangga dan penghargaan yang mendalam, kedua karya tersebut pernah diwujudkan dalam bentuk pertunjukan Sendratari bersama Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep pada malam ramah tamah peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 dan ke-79 di Alun-Alun Pangkajene, Kabupaten Pangkep.

Di atas panggung, naskah yang sebelumnya hanya berupa kata-kata mulai memperoleh tubuhnya. Para penari menerjemahkan narasi menjadi gerakan. Musik memberi jiwa kepada suasana. Ekspresi para pemain menghadirkan emosi. Tata panggung dan cahaya membantu penonton memasuki kembali suasana sejarah.

Inilah keajaiban sebuah sendratari. Seorang penulis naskah mungkin memulai dengan kalimat, tetapi sebuah pertunjukan tidak hidup hanya karena kalimat. Ia membutuhkan banyak tangan, banyak pikiran, dan banyak hati. Ada sutradara atau penata pertunjukan, koreografer, penari, pemusik, penata artistik, tim pendukung, dan tentu saja para pegiat seni yang bersedia mengorbankan tenaga serta waktu untuk satu tujuan: membuat sejarah berbicara kembali kepada generasi masa kini.

Karena itu, pencapaian kedua karya ini bukanlah keberhasilan seorang penulis semata. Ada semangat kolektif yang turut melahirkannya.  DKPK Pangkep telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kreatif tersebut. Melalui kerja sama dan semangat pemajuan kebudayaan, sebuah naskah dapat keluar dari ruang kerja penulis dan menemukan kehidupan di tengah masyarakat.

Banyak orang mungkin melihat pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa puluh menit di atas panggung. Namun, di belakang pertunjukan itu terdapat proses yang panjang. Menulis naskah sendratari berbasis sejarah dan budaya bukan pekerjaan yang mudah.

Penulis tidak dapat sekadar membayangkan cerita yang menarik. Ketika yang ditulis adalah sejarah, terdapat tanggung jawab untuk memahami narasi dengan baik dan benar. Penulis harus membedakan antara fakta, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan unsur kreatif yang dibutuhkan untuk kepentingan dramatik.

Di sinilah tantangannya. Sejarah tidak selalu menyediakan cerita secara utuh. Ada peristiwa yang hanya tersisa dalam fragmen. Ada tokoh yang jejaknya tersebar dalam berbagai sumber. Ada pula ingatan masyarakat yang hidup secara lisan, tetapi memerlukan kehati-hatian untuk ditempatkan dalam narasi.

Karena itu, proses kreatif penulisan naskah membutuhkan pembacaan terhadap sejarah dan pemahaman terhadap budaya. Seorang penulis harus bertanya: apakah peristiwa ini benar-benar terjadi? Bagaimana konteks zamannya? Siapa tokohnya? Apa konflik yang dihadapi? Nilai budaya apa yang hidup dalam masyarakat ketika itu? Bagaimana semua itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa panggung?

Tidak semua fakta sejarah dapat langsung dipindahkan menjadi pertunjukan. Sebaliknya, kreativitas seni juga tidak boleh dengan mudah menghilangkan ruh sejarah. Di antara keduanya, penulis harus menemukan keseimbangan. Itulah perjuangan kreatif sesungguhnya: menjaga kebenaran sejarah tanpa membunuh daya hidup seni.

***

Penerimaan hak cipta atas kedua naskah sendratari ini menjadi bukti bahwa karya kebudayaan dan kerja kreatif patut memperoleh penghargaan. Selama ini, kita sering terlalu mudah menikmati sebuah karya tanpa memikirkan proses panjang di belakangnya. Kita menyaksikan pertunjukan, membaca tulisan, atau menikmati karya seni, tetapi tidak selalu melihat waktu, pemikiran, riset, kegelisahan, dan perjuangan yang mendahuluinya.

Hak cipta mengingatkan kita bahwa sebuah karya memiliki pencipta. Namun, lebih dari sekadar perlindungan atas nama, pencatatan hak cipta juga merupakan bentuk penghargaan terhadap keberanian untuk berkarya. Dalam konteks naskah berbasis budaya, penghargaan itu sekaligus menjadi dorongan agar semakin banyak penulis, seniman, dan pegiat kebudayaan berani menggali sejarah lokal.

Pemerintah telah memberikan ruang pengakuan melalui perlindungan hak kekayaan intelektual. Kini tantangan berikutnya berada pada kita: apakah kita mau terus berkarya? Sebab, kebudayaan tidak akan maju hanya dengan seminar. Sejarah tidak akan hidup hanya dengan peringatan. Tradisi tidak akan lestari hanya dengan slogan. Ia harus ditulis. Ia harus diteliti. Ia harus dipentaskan. Ia harus diceritakan kembali. Sebuah Syukur, Sebuah Kebanggaan, dan Tanggung Jawab yang Lebih Besar.

Penulis bersyukur karena perjalanan kreatif kedua naskah sendratari ini mendapat pengakuan melalui pencatatan hak cipta. Penulis bangga karena sejarah dan perjuangan lokal Pangkep dapat memperoleh ruang untuk tampil sebagai karya seni. Dan penulis terharu karena naskah yang lahir dari proses pembacaan sejarah dan kebudayaan pernah benar-benar hidup di atas panggung, disaksikan masyarakat pada peringatan hari kemerdekaan.

Tetapi kebanggaan tidak boleh menjadi akhir. Justru penghargaan ini harus menjadi pengingat bahwa masih banyak sejarah lokal yang belum ditulis. Masih banyak tokoh yang belum diperkenalkan kepada generasi muda. Masih banyak cerita perjuangan yang tersimpan dalam ingatan masyarakat dan menunggu untuk digali.

Dua naskah sendratari ini hanyalah bagian kecil dari ikhtiar tersebut. Semoga Naskah Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep dan Naskah Sendratari Perjuangan Andi Maruddani Melawan Belanda tidak hanya menjadi dokumen karya yang tercatat dalam administrasi hak cipta. Semoga keduanya terus menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sejarah besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengingat, merawat, dan menceritakan kembali sejarahnya. Dan selama masih ada penulis yang mau menggali, seniman yang mau menghidupkan, serta generasi muda yang mau menyaksikan dan belajar, maka sejarah tidak akan benar-benar mati. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Penulis Naskah dan Narator Sendratari/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT