Oleh: M. Farid W Makkulau *)
PALONTARAQ.ID – Tak banyak yang mengetahui tentang Jejak Kekaraengan dan Spirit Budaya yang Tetap Menyala di Desa Biringere, tepatnya di Dusun Borong Untia yang dikenal sebagai warisan Adat “Puang TelluE ri Borong Untia”. Saya pun alpa menuliskannya dalam Buku Sejarah Kekaraengan di Pangkep, namun sejarah itu nyata dan tradisi yang melingkupinya pun masih lestari hingga kini.
Berikut ini merupakan teks sambutan atau semacam Pappaseng terkait “Narasi Sejarah Budaya Turiolo di Borong Untia” yang penulis akan ungkapkan dalam Pembukaan Upacara Adat Ziarah ke Pemakaman Adat Borong Untia di Desa Mangilu.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menganugerahkan kepada kita tanah yang subur, negeri yang kaya akan sejarah, serta leluhur yang mewariskan adat, budaya, dan nilai-nilai kehidupan yang hingga hari ini masih menjadi pegangan masyarakat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan dalam membangun peradaban yang berakar pada akhlak, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Para tokoh adat, tokoh masyarakat, para sesepuh, pemerintah, pemuda, serta seluruh hadirin yang saya muliakan.
Hari ini kita tidak sekadar mengenang masa lalu. Kita sedang menyambung mata rantai sejarah yang tidak pernah putus. Sejarah bukan hanya tersimpan dalam arsip dan lontaraq, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam petuah para orang tua, dalam upacara adat, dalam bunyi gendang, dalam syair mangngaru, serta dalam setiap langkah masyarakat yang tetap menjaga warisan leluhurnya.
Jika menyebut nama “Borong Untia”, kawasan ini bukan sekadar nama sebuah dusun, melainkan ruang sejarah yang menyimpan memori tentang keberadaan sebuah kekuasaan adat yang oleh masyarakat dikenal sebagai Puang Tellue ri Borong Untia.
Puang Tellue: Simbol Kepemimpinan Kolektif
Menurut tradisi tutur masyarakat Borong Untia yang diwariskan secara turun-temurun, pada masa lampau wilayah ini dipimpin oleh tiga orang bersaudara yang dikenal sebagai Puang Tellue ri Borong Untia. Sebutan tellue dalam bahasa Makassar berarti “tiga”, sehingga nama tersebut merujuk pada kepemimpinan tiga tokoh adat yang menjalankan pemerintahan secara bersama dalam satu wilayah kekaraengan.
Dalam pandangan masyarakat adat, kepemimpinan ini bukanlah bentuk persaingan kekuasaan, melainkan pembagian amanah. Masing-masing menjalankan fungsi yang saling melengkapi demi menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Nilai ini memperlihatkan bahwa sejak dahulu masyarakat Borong Untia telah mengenal prinsip musyawarah, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para tokoh masyarakat dan pewaris adat, Simpuang Ago (almarhum), tokoh masyarakat dan tokoh adat yang ada sekarang ini di Borong Untia sejatinya adalah pewaris tradisi kepemimpinan Puang Tellue’. Bukan semata karena posisi dan kedudukan adatnya, tetapi karena keteladanan dalam menjaga marwah adat, memelihara persatuan masyarakat, dan mempertahankan Nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Borong Untia sebagai Wilayah Kekaraengan
Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa Borong Untia pernah menjadi wilayah kekaraengan yang memiliki kewenangan adat sendiri. Kekuasaan tersebut berkembang secara mandiri dan memiliki struktur sosial yang berbeda dengan beberapa kekaraengan lain yang pernah ada di Pangkep.
Dalam konteks sejarah lokal, keberadaan Borong Untia menjadi menarik karena memperlihatkan keragaman sistem pemerintahan tradisional. Tidak semua wilayah berada dalam konfigurasi kekuasaan yang sama. Sebagian memiliki otonomi adat yang lahir dari sejarah lokal, hubungan kekerabatan, dan legitimasi masyarakat.
Karena keterbatasan arsip tertulis, sebagian besar pengetahuan mengenai sejarah Borong Untia bertumpu pada tradisi lisan, silsilah keluarga, dan ingatan kolektif masyarakat. Dalam historiografi modern, sumber seperti ini tetap memiliki nilai penting selama diperlakukan secara kritis dan dibandingkan dengan sumber-sumber lain.
Ikut Modernisasi, Namun Tetap Mempertahankan Ruang Sejarah
Perjalanan sejarah Borong Untia mengalami perubahan besar ketika kawasan ini berkembang menjadi pusat industri semen nasional. Sebagian wilayah adat kemudian menjadi lokasi pembangunan Pabrik Semen Tonasa II, III, IV, dan V.  Modernisasi membawa banyak manfaat ekonomi, namun juga menghadirkan tantangan besar terhadap pelestarian identitas budaya.
Masyarakat Borong Untia tetap mengikuti Modernisasi dan Perkembangan Industrialisasi di sekitarnya, namun disisi lain tetap mempertahankan situs dan ruang sejarahnya sendiri, tetapkan melestarikan budaya dan memberi ruang hidup untuk tradisi yang diwarisinya. Dalam artian, perubahan fisik wilayah tidak menghapus ingatan masyarakat terhadap sejarahnya. Ingatan kolektif tetap hidup melalui tradisi, upacara adat, kesenian, serta penghormatan kepada para leluhur.
Salah satu bentuk pelestarian sejarah tersebut diwujudkan melalui keberadaan beragam pelaksanaan Upacara Adat dan Seni Budaya Turiolo, hal ini sekaligus menjadi representasi simbolik dari warisan tradisi dan nilai budaya Puang Tellue. Melalui simbol dan pelestarian nilai inilah, masyarakat sesungguhnya sedang mengajarkan sejarah kepada generasi muda tanpa harus membuka buku.
Keistimewaan Borong Untia bukan hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya mempertahankan tradisi hingga sekarang. Tradisi Mangngaru masih dipentaskan sebagai simbol keberanian, kesetiaan, dan kehormatan. Dahulu merupakan ikrar kesetiaan kepada pemimpin, kini menjadi pengingat bahwa masyarakat harus tetap setia kepada nilai-nilai kejujuran, persatuan, dan pengabdian kepada bangsa.
Demikian pula Tari, Genrang, Lae-lae, dan berbagai unsur kesenian lainnya tetap dipertahankan sebagai identitas budaya masyarakat Biringere. Pelestarian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan bukanlah peninggalan masa lalu yang membeku, melainkan warisan yang terus hidup mengikuti perkembangan zaman.
Pappaseng Leluhur Orang tua dahulu selalu mengingatkan, “KIALLEI GAUKANG RIOLOTA, IYAMINJO PANGNGASSENGANG RI LINO.” “Jangan engkau meninggalkan adat dan kebajikan leluhur, karena di sanalah pengetahuan menjalani kehidupan.” Pappaseng ini mengandung makna bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan manusia dengan akar budayanya.
Ada pula pesan yang sangat terkenal dalam tradisi Bugis-Makassar, “RESOPA TEMMANGINGNGI, NAMALOMO NALETEI PAMMASE DEWATA.” “Kerja keras yang tidak mengenal lelah akan menghadirkan rahmat Tuhan.”
Bagi masyarakat Borong Untia, kerja keras bukan hanya membangun ekonomi, tetapi juga menjaga budaya agar tetap hidup. Dan yang tidak kalah penting adalah pesan persatuan, “SIPAKATAU, SIPAKALEBBI, SIPAKAINGE.” Saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan. Inilah nilai yang sesungguhnya diwariskan oleh Puang Tellue kepada masyarakatnya. Warisan yang Harus Tetap Dijaga
Hadirin yang saya hormati,
Suatu daerah kehilangan masa depannya ketika melupakan masa lalunya. Sebuah kampung akan kehilangan jati dirinya apabila melupakan sejarah para leluhurnya. Karena itu, sejarah Puang Tellue ri Borong Untia bukan sekadar cerita tentang tiga kepemimpinan adat. Ia adalah simbol persatuan, simbol musyawarah, simbol kebijaksanaan, dan simbol keberanian mempertahankan identitas di tengah perubahan zaman.
Oleh sebab itu, menjaga budaya bukan berarti menolak kemajuan. Menjaga budaya berarti memastikan bahwa pembangunan selalu memiliki akar yang kuat pada identitas masyarakatnya.
Kiranya sejarah Puang Tellue ri Borong Untia terus menjadi pengingat, bahwa ada nilai dan tradisi yang harus tetap dirawat dan dijaga. Dengan perayaan ini, sebagai pengantar atau pembuka acara dalam pelaksanaan ziarah adat ke pemakaman leluhur di Mangilu, sebagai salah jalan bagi kita semua untuk tetap mengenal siapa leluhur kita, memahami adatnya, mencintai budayanya, dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Borong Untia yang memiliki sejarah panjang.
Sebagaimana petuah leluhur, “RIOLO NAPOLEI ADA’, RI LALANG NAPOLEI SIRI’, RI MUNRINNA NAPOLEI TAU.” “Di depan harus dijaga adat, di dalam harus dijaga harga diri, dan di belakang harus dijaga manusia.” Semoga warisan Puang Tellue tetap hidup dalam setiap langkah masyarakat Borong Untia, bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai panduan budaya dalam membangun kehidupan sosial yang berbudaya dan bermartabat.
Salamakki Tapada’ Salama’.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya Sulawesi Selatan, Tinggal di Pangkep.


