BerandaEdukasiSelamat Jalan, Sussureng: Mengenang Hasmiati, Guru Kehidupan yang Tak Pernah Lelah Menyalakan...

Selamat Jalan, Sussureng: Mengenang Hasmiati, Guru Kehidupan yang Tak Pernah Lelah Menyalakan Harapan

Oleh: Hj. Hariani, S.S. *)

PALONTARAQ.ID – Ada orang yang hadir dalam hidup kita sekadar sebagai teman. Ada pula yang hadir sebagai guru, penguat, pengingat, sekaligus tempat pulang ketika hati sedang kehilangan arah. Bagi kami, Hasmiati adalah sosok yang kedua.

Hari-hari ini, masih terasa sesak menerima kenyataan kalau dia telah pergi. Kabar itu datang begitu tiba-tiba, seakan merenggut sebagian cerita yang belum selesai kami tuliskan bersama. Rasanya baru kemarin kami mendengar suaranya yang penuh semangat, candanya yang menghidupkan suasana, nasihatnya yang menenangkan, dan keyakinannya yang selalu membuat kami percaya bahwa setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar.

Kini, Hasmiati telah berpulang. Namun jejak kebaikannya tetap hidup di hati banyak orang.

Hasmiati lahir di Samaelo pada 8 September 1977. Ia adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara, putri dari pasangan Mustafa Gau dan Halima, dua petani sederhana yang menjalani hidup dengan kerja keras, kejujuran, dan prinsip yang kuat.

Masa kecilnya sangat dekat dengan kehidupan desa dan dunia pertanian. Ia tumbuh bersama sawah, kebun, dan ternak. Kepada sahabat-sahabatnya, ia sering bercerita bagaimana dahulu ia menggembalakan sapi dari Samaelo hingga Lapangan Tonasa untuk mencari rumput. Pekerjaan yang bagi sebagian orang terasa berat itu dijalaninya dengan riang dan penuh keikhlasan.

Tidak heran jika suatu ketika ia pernah berkelakar, kelak setelah tua ia ingin memiliki peternakan sapi sendiri. Baginya, dunia peternakan bukanlah sesuatu yang asing. Ia mengenal setiap seluk-beluknya sejak kecil.

Sapi-sapi itulah yang menjadi saksi perjuangan keluarganya. Dari hasil ternak dan hasil kebun, orang tuanya membiayai pendidikan anak-anak mereka. Di balik keberhasilan Hasmiati meraih pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral, terdapat keringat seorang ayah petani yang memiliki mimpi besar untuk anak-anaknya.

Mustafa Gau selalu menanamkan pesan yang tak pernah dilupakan Hasmiati:

“Massikolako tappodo iyyana de umassikolah.”

“Bersekolahlah nak, terlanjur bapak tidak pernah merasakan bangku sekolah.”

Kalimat sederhana itu menjadi warisan paling berharga. Ia tumbuh menjadi perempuan tangguh yang memahami bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan.

Namun Hasmiati tidak hanya belajar dari bangku sekolah. Ia belajar dari sawah, dari ternak, dari perjuangan orang tua, dan dari kehidupan itu sendiri. Mungkin karena itulah setiap nasehat yang keluar dari lisannya selalu terasa begitu dalam.

Meski usianya tidak jauh berbeda dengan sebagian sahabatnya, sering kali kami merasa sedang mendengar petuah seorang yang telah hidup lama. Kata-katanya sederhana, tetapi penuh makna.

Ketika ada sahabat yang menghadapi persoalan rumah tangga, ia berkata:

“Sukkurukini pabberena Puangnge apa anu pura muputawa narekki. Tawata na yatu.”

Bersyukurlah atas pasangan yang Allah titipkan, karena itulah yang telah menjadi bagian takdirmu.

Sebagai seorang guru, sosoknya seringkali menitipkan pesan:

“Paggurui anak-anakmu makkareso atau maperri, apa yatu asogirenge demma yaggurui.”

Ajarkan anak-anakmu bekerja keras dan tahan menghadapi kesulitan, karena kemewahan tidak pernah mengajarkan ketangguhan.

Ketika seseorang mengeluhkan buruknya penilaian orang terhadap pasangannya, ia berkata dengan tenang:

“Taroni makkeda tauwe maja’ lakkaimmu, yang penting magello mutoi ko iko.”

Biarlah orang berkata buruk tentang pasanganmu, yang penting engkau tetap menjaga kebaikan dirimu.

Begitulah Hasmiati. Ia tidak pernah menggurui. Ia hanya berbicara dengan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidupnya.

Sebagai seorang guru, Hasmiati adalah pendidik sejati. Ia tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mengajarkan Nilai-nilai kehidupan kepada siapa pun yang berada di sekitarnya. Ia selalu optimis, selalu memberi semangat, dan hampir tidak pernah memperlihatkan kelelahan di hadapan orang lain.

Di balik kiprahnya sebagai pendidik, tersimpan kecintaan yang besar terhadap seni dan budaya.

Perjalanannya di dunia seni bermula ketika ia harus membimbing siswa mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada cabang musik tradisional. Dari sanalah ia mulai menggali kembali kenangan masa kecilnya tentang kehidupan para petani, lagu-lagu sawah, dan syair-syair yang dahulu sering dinyanyikan ayahnya saat membajak sawah.

Lagu-lagu itu kemudian ia hidupkan kembali. Sebagian lirik diwarisi dari generasi sebelumnya, sebagian lagi lahir dari pengalaman hidup masyarakat tani yang perlahan mulai terlupakan. Bersama rekan-rekannya, ia mengemasnya dalam bentuk musik tradisional agar tetap dapat dinikmati oleh generasi muda.

Dari kegelisahan melihat budaya yang mulai memudar, lahirlah sebuah tekad besar.

Pada tahun 2012, ia mendirikan Sanggar Seni Budaya Mapakarennu di Desa Mangilu. Nama “Mapakarennu” dipilih dengan harapan sanggar itu menjadi tempat yang membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi banyak orang.

Menariknya, Hasmiati sebenarnya tidak pernah merasa dirinya seorang seniman. Ia bahkan sempat menawarkan posisi ketua kepada orang lain yang dianggap lebih berpengalaman dalam dunia seni. Namun tidak ada yang bersedia. Sebagian bahkan pesimis bahwa orang-orang desa mampu membangun sebuah sanggar seni.

Tetapi Hasmiati memiliki keyakinan yang berbeda.

“Kalau kita tidak mampu, kita cari orang yang pintar. Kita belajar kepada mereka. Yang penting hati dan niat kita tulus.”

Kalimat itu menjadi fondasi perjuangannya.

Ia percaya bahwa budaya tidak akan lestari jika tidak ada yang memulainya. Dan jika bukan mereka, siapa lagi?

Dari keyakinan itulah Sanggar Mapakarennu tumbuh menjadi wadah pembinaan generasi muda, ruang belajar seni tradisi, sekaligus tempat menanamkan kecintaan kepada warisan budaya leluhur.

Yang lebih mengagumkan, meski memiliki banyak prestasi dan pengetahuan, Hasmiati tetap rendah hati. Ia menerima kritik dengan lapang dada. Ia tidak pernah merasa paling benar. Setiap saran dari seniman senior diterimanya sebagai kesempatan untuk belajar.

Dalam pergaulan sehari-hari pun demikian. Ia tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan status sosial, jabatan, pendidikan, ataupun latar belakang ekonomi. Anak-anak, remaja, orang tua, masyarakat desa, pejabat, hingga akademisi—semuanya diperlakukan dengan penghormatan yang sama.

Mungkin karena itulah begitu banyak orang mencintainya.

Perjalanan pendidikannya juga menjadi bukti keteguhan hati yang luar biasa. Dari SMEA Negeri Pangkep, ia melanjutkan studi S1 Ekonomi di Universitas Negeri Makassar, kemudian meraih gelar Magister Administrasi Pendidikan, hingga melanjutkan pendidikan doktoral pada bidang yang sama.

Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap berjuang menempuh perjalanan dari Pangkep ke Makassar hampir setiap minggu demi menyelesaikan studi doktoralnya. Tidak ada keluhan. Tidak ada alasan untuk menyerah.

Bahkan ketika sakit mulai menggerogoti tubuhnya, ia tetap terlihat tegar.

Banyak orang tidak mengetahui bahwa selama ini ia berjuang melawan infeksi paru-paru dan diabetes. Ia memilih menyimpan rasa sakitnya sendiri. Di hadapan orang lain, ia tetap hadir sebagai seorang teman yang optimis, tersenyum, dan peduli.

Karena itulah banyak sahabat merasa sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa kondisinya memburuk. Setelah beberapa hari menjalani perawatan dengan bantuan oksigen, Allah akhirnya memanggilnya pulang.

Ia pergi tidak lama setelah berhasil menyelesaikan ujian doktoralnya.

Sebuah akhir perjalanan yang begitu mengharukan.

Hasmiati telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan sangat baik.

Hari-hari terakhir ini, kami kehilangan seorang sahabat. Kami kehilangan tempat bertanya, tempat berbagi cerita, tempat mencari semangat ketika hidup terasa berat. Kami kehilangan suara yang selalu menenangkan, tawa yang selalu menghidupkan suasana, dan sosok yang selalu hadir tanpa pamrih.

Namun kami percaya, orang-orang seperti Hasmiati sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi.

Ia mungkin telah hilang dari pandangan mata, tetapi tidak pernah hilang dari hati kami.

Ia hidup dalam kenangan, dalam lagu-lagu yang ia wariskan, dalam anak-anak yang pernah ia didik, dalam budaya yang ia lestarikan, dalam nasihat yang masih kami ingat hingga hari ini, dan dalam jejak kebaikan yang terus mengalir kepada banyak orang.

Selamat jalan, Sussureng.

Terima kasih telah mengajarkan arti ketulusan, kerja keras, dan pengabdian. Terima kasih telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Terima kasih telah menjadi sahabat yang begitu tulus bagi kami semua.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Engkau telah pergi untuk selamanya, tetapi cintamu, keteladananmu, dan kebaikanmu akan tetap hidup dalam hati kami.

Always we love you forever. My sista is the best. 

(*)

 

(* Hj.Hariani, S.S., Guru SMPN 2 Bungoro

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT