Beranda Islam Sunnah Menikah di Bulan Syawal

Sunnah Menikah di Bulan Syawal

Ilustrasi - Menikah di Bulan Syawal. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi – Menikah di Bulan Syawal. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – Ramai menjadi perbincangan di media sosial bahwa setelah Ramadhan dan Lebaran, berikutnya adalah Lamaran.  Karena setelah Ramadhan, sunnah menikah di Bulan Syawal. Benarkah?

Rentetan waktu ini membuat banyak para pemuda dan remaja putri baper (bawa perasaan), katanya, “Kenapa tidak dibalik. Lamaran (menikah) dulu, sehingga bisa merasakan nikmatnya Ramadhan dan Lebaran bersama dengan pasangan halal?

Ramadhan memang telah berlalu, dan usai pula kita merasakan lebaran, Hari Raya Idul Fitri di 1 Syawal.   Di Bulan Syawal ini pada umumnya masyarakat muslim sudah mengenal tentang adanya sunnah berpuasa selama 6 hari, yang fadhilahnya sama dengan berpuasa setahun penuh.

Tak banyak muslim yang tahu, bahwa di Bulan Syawal ini, ternyata ada juga sunnah lain yang dianjurkan, yaitu anjuran menikah di bulan Syawal.   Ummul Mukminin ‘Aisyah radiyallahu ‘anha,  istri Nabi SAW menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ

كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

Artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada Bulan Syawal pula. Maka istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah radhiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di Bulan Syawal” (HR. Muslim)

Lihat juga: Dari Ikhtiarmu Selama Ini, Apa yang Kau Bela?

Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua Id (bulan Syawal termasuk di antara Idulfitri dan Iduladha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

Pemikiran jahiliyah  beranggapan bahwa unta betina mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha) pada bulan Syawal.  Hal ini dianggap sebagai tanda tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para wali pun enggan menikahkan putri mereka.

Bulan Syawal dijadikan waktu disunahkannya menikah ditujukan untuk menghilangkan kepercayaan Orang-orang Arab Jahiliyah yang menganggap bahwa pernikahan di Bulan Syawal sebagai suatu kesialan dan akan berujung dengan perceraian. Sehingga para orangtua atau wali tidak ingin menikahi putri-putri mereka begitu juga para wanita tidak mau dinikahi pada bulan tersebut.

Lihat juga: Pesan-pesan Lebaran di Kota New York

Untuk menghilangkan kepercayaan menyimpang tersebut, pernikahan di bulan Syawal pun dijadikan sebagai ibadah, sebagai sunnah Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam.

Hadits di atas pun dijadikan sebagai anjuran untuk menikah dan menikahkan di Bulan Syawal, mematahkan keyakinan atau anggapan sial terhadap sesuatu yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.

Imam An-Nawawi juga, sebagaimana dijelaskan dalam “Syarah Shahih Muslim”, 9/209 tentang Larangan “merasa sial” (thiyarah) mengungkapkan bahwa, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada Bulan Syawal.

Jika ingin melaksanakan sunnah ini, ada baiknya persiapan dimulai sebelum atau saat bulan Ramadhan yang penuh berkah. Cari calonnya, lalu melamar atau dilamar, dan semoga Allah SWT memberikan kemudahan serta pertolongan-Nya.

Insya Allah berkah. (*)

Berita sebelumyaCatatan Utteng (2)
Berita berikutnyaCatatan Utteng (3)
Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...