Oleh: Dr. Adian Husaini
PALONTARAQ.ID – Media sosial FB Pesantren At-Taqwa Depok, pada 15 Maret 2023, menyiarkan berita berjudul: “Presentasi Makalah Tugas Akhir Santri Pristac Angkatan 5, Mudir At-Taqwa Depok: Jadilah Penjaga Islam!”
Disebutkan, bahwa sebanyak 23 Santri PRISTAC angkatan ke-5, sukses mempresentasikan makalah tugas akhir di hadapan para guru Pesantren at-Taqwa Depok, pada hari Selasa-Rabu, 14-15 Maret 2023.
PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization), atau Pesantren Pemikiran dan Peradaban Islam. Yakni, jenjang pendidikan tingkat SMA di Pesantren At-Taqwa Depok. PRISTAC menekankan pentingnya para santri atau pelajar memiliki pemikiran yang benar dan adab yang baik.
Seperti empat angkatan sebelumnya, makalah para santri memiliki tema-tema yang “berat”. Itu bisa dilihat dari daftar judul makalah para santri, yang yang rata-rata berusia 15-17 tahun. Para santri telah diberikan kajian yang cukup mendalam tentang Islamic Worldview, konsep ibadah, sejarah peradaban Islam, konsep ilmu dalam Islam, konsep pendidikan Islam, dan sebagainya.
Guru-guru pembimbing makalah santri ini adalah: Dr. Muhammad Ardiansyah, Dr. Suidat, Ahda Abid al-Ghiffari, S.Pd., Bana Fatahillah, Lc., Dina Farhana, M.Hum., Dr. Rahmatul Husni, Azizah Fakhria Zahra, M.A., dan beberapa guru lainnya.
Berikut ini 23 judul makalah santri beserta para penulisnya:
(1). Denniz Syaikhani Muttaqien – “Jawaban terhadap Tuduhan Muhammad Sa’id Asymawi Mengenai Asbabun Nuzul”
(2). Muhammad Wisnu Fadhillah – “Analisis Ateisme Jean-Paul Sartre Berdasarkan Islamic Worldview”
(3). Alwan Muhammad Zaidan – “Pemikiran dan Pengamalan Tasawuf M. Natsir”
(4). Muhammad Ayaz Malik Asytar – “Kristenisasi di Indonesia dalam Pandangan Mohammad Natsir”
(5) Muhammad Fathan Qoriba – “Peran Pesantren Di Tengah Tantangan Pemikiran: Sejarah Dan Visi Kebudayaan”
(6). Khalid Aqil M. – “Pendidikan Adab Bangsa: Antara Cita dan Realita, Meninjau Pemuda New Generation”
(7). Khalidah Abdullah – “Problematika Kekerasan Seksual dalam Pandangan Feminis: Kritik Konsep Sexual Consent dan Relasi Kuasa”
(8). Zaydan Ilmi Taqiyuddin – “Peran Muhammad Al Fatih Dalam Pendidikan Untuk Kejayaan Islam”
(9) Bimo Gumilang Wicaksana – “Pembekalan Untuk Generasi Milenial Memahami Pemikiran Islam Liberal”
(10). Muhammad Umar Faqihbillah – “Kiprah Abdul Kahar Muzakkir dan Kritiknya Terhadap Sekularisme”
(11). Farros Halim – “Snouck Hurgronje dan Sekularisasi Pendidikan: Aksi Dan Respons”
(12). Azra Rabbania Zulkarnain – “Kontroversi Childfree dalam Tinjauan Islam”
(13). Chamilla Yusuf – “Peran Masjid Di Indonesia Dalam Membendung Sekularisasi”
(14). Muhammad Miftah Hasan Asy’ari – “Kajian Tazkiyatun Nafs: Solusi Diri dalam Mengobati Penyakit Hati”
(15). Ahmad Zaydan Januarto – “Pendidikan Adab Guru dan Murid Dalam Kitab Tadzkiratu As-Sami”
(16). Abdurrahman Gymnastiar – “Pemikiran Dan Ajaran Syi’ah dalam Timbangan Adab”
(17). Muhammad Fakhir Mumtaz Agusrin – “Konsep Manusia Dalam Pemikiran Yuval Noah Harari: Sebuah Kritik”
(18). Yusuf Sholih – “Perjuangan Syaikh Yusuf Al-Maqassari dalam Menghadapi Kolonialisme Di Nusantara”
(19). Hilal Azka Fadhillah – “Jawaban Syekh Ramadhan Al-Buthi Seputar Tuduhan terhadap Sayyidah ‘Aisyah r.a.”
(20). Muhammad Jennerhaq Farabi Rachman – “Kritik Pemikiran Ignaz Goldziher tentang Qiraat Alquran”
(21). Rafa Elzahira Ashary – “Konsep Universalisme Islam dalam Menjawab Tantangan Modernisme Barat”
(22). Alfidhiya Zitazkiya Fika – “Sains Dan Peradaban Islam: Konsep Sains dalam Tradisi Keilmuan Umat Islam”
(23). Muhammad Hilmi Aminuddin – “Konsep Dan Tujuan Pendidikan Islam Menghadapi Tantangan Sekularisasi”
Setelah melaksanakan presentasi di hadapan guru Pesantren at-Taqwa Depok ini, para santri juga akan melaksanakan presentasi-presentasi selanjutnya, yakni di hadapan para santri, orang tua santri, dan juga para siswa dan guru SMA-SMA lainnya. Setelah memasuki jenjang At-Taqwa College, para santri ditugaskan untuk mempresentasikan makalah ke Kuala Lumpur, sebagaimana beberapa angkatan sebelumnya.
***
PRISTAC adalah salah satu model pendidikan tingkat SMA yang menekankan pada penanaman budaya ilmu, penguasaan pemikiran Islam, dan kemampuan komunikasi – khususnya dalam bentuk penulisan makalah ilmiah berkualitas. Para santri SMA dipandang sebagai anak yang sudah memasuki dewasa awal, sehingga mereka harus dilatih berpikir mendasar tentang hal-hal penting dalam hidup mereka.
Para santri itu bukan hanya dilatih berpikir untuk bagaimana bisa mencari makan, dengan cara memasuki Perguruan Tinggi tertentu, tetapi mereka dilatih untuk memahami tujuan dan makna hidup. Bahwa, mereka adalah hamba Allah dan khalifatullah fil-ardh, yang mempunyai kewajiban melanjutkan perjuangan para Nabi dan para ulama.
Karena itu, mereka harus dikenalkan dengan konsep dan budaya ilmu dalam Islam. Islam memiliki budaya dan konsep ilmu yang unik. Ini berbeda dengan konsep dan budaya ilmu pada peradaban Barat modern. Islam mendorong lahirnya manusia-manusia yang baik dan unggul; manusia yang taat kepada Tuhannya dan memiliki akhlak mulia.
Pendidikan tingkat SMA dengan model seperti PRISTAC inilah yang sepatutnya dikembangkan dan diterapkan di Indonesia, sebagai pelaksanaan UUD 1945 pasal 31 ayat 3. Bahwa, tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia, serta kecerdasan. Mohon doanya! (Depok, 23 Maret 2023).
(* Dr. Adian Husaini, www.adianhusaini.id


