BerandaAl-Qur'anMemahami Istilah Qira'ah, Riwayah, dan Thariq dalam Ilmu Qira'at

Memahami Istilah Qira’ah, Riwayah, dan Thariq dalam Ilmu Qira’at

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengenal Kitab-kitab Matan dalam Ilmu Qira’at

PALONTARAQ.ID – Apa yang dimaksud Qira’ah, Riwayah, dan Thariq dalam Ilmu Qira’at itu? Ya, Ilmu Qira’at merupakan salah satu cabang ulumul Qur’an yang paling esensial sekaligus kompleks. Ia menjaga autentisitas bagaimana Al-Qur’an dibaca, sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam diskursus ini, sering muncul istilah Qira’ah, Riwayah, dan Thariq. Memahami perbedaan serta hubungan ketiganya sangat krusial agar tidak terjadi kerancuan dalam memahami keragaman bacaan Al-Qur’an yang sah secara syariat.

Definisi dan Hakikat Ilmu Qira’at

Secara etimologi, qira’at adalah bentuk jamak dari qira’ah yang berarti bacaan. Secara terminologi, Imam al-Zarqani dalam Manahil al-Irfan mendefinisikannya sebagai madzhab yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan imam lainnya dalam hal pengucapan/pembacaan Ayat-ayat Al-Qur’an, dengan kesesuaian riwayat dan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Penting untuk dicatat bahwa perbedaan qira’at bukanlah perbedaan teks, melainkan perbedaan cara melafalkan teks yang sama—baik dalam hal mad (panjang-pendek), imalah, hamzah, maupun perbedaan dialek (lughat) yang semuanya diakui secara mutawatir.

Penting Untuk Diingat:

Dalam hierarki ilmu Qira’at, terdapat istilah-istilah khusus untuk membedakan tingkatan sumber bacaan. Qira’ah berada di tingkatan paling atas dalam struktur ini. Berikut adalah penjelasan mengenai struktur tersebut:

  • Qira’ah adalah bacaan yang dinisbatkan kepada Imam Qira’at (salah satu dari Imam yang sepuluh atau tujuh), seperti Qira’ah Imam Nafi’ atau Qira’ah Imam Ashim. Pilihan ini didasarkan pada ijtihad sang Imam dalam memilih riwayat yang paling kuat menurutnya.

  • Riwayat adalah bacaan yang dinisbatkan kepada Rawi (murid atau penerus Imam). Contohnya: Riwayat Hafs dari Imam Ashim. (Pilihan C salah karena ini disebut Riwayat).

  • Thariq adalah jalur sanad yang berasal dari orang-orang di bawah Rawi. Contohnya: Thariq Syathibiyyah atau Thariq Thayyibatun Nasyr. (Pilihan A dan D salah karena ini disebut Thariq).

Beda Qira’ah, Riwayah, dan Thariq

Untuk memahami struktur transmisi bacaan Al-Qur’an, para ulama membaginya menjadi tiga tingkatan utama. Pertama, Qira’ah. Qira’ah adalah bacaan yang disandarkan kepada salah satu imam dari imam-imam qira’at yang tujuh (al-qira’at al-sab’) atau sepuluh (al-qira’at al-‘asyr). Istilah ini merujuk pada “puncak” dari sebuah mazhab bacaan. Contoh: Qira’ah Ashim, Qira’ah Nafi’, atau Qira’ah Hamzah. Jika kita menyebut “Qira’ah Ashim”, maka itu mencakup seluruh kaidah bacaan yang dipilih dan diajarkan oleh Imam Ashim berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai kepadanya. Jadi, jika ditanya apa itu Qiraah? maka secara sederhana dapat dijawab bahwa Qirā’ah adalah Bacaan yang dinisbatkan kepada imam qirā’āt.

Kedua, Riwayah. Riwayah adalah bacaan yang disandarkan kepada murid yang mengambil langsung dari imam qira’at tersebut, atau murid dari muridnya meskipun melalui perantara, namun tetap dalam jalur mazhab sang imam. Contoh: Dalam Qira’ah Ashim, terdapat dua perawi terkenal, yaitu Hafsh dan Syubah. Maka kita menyebutnya “Riwayah Hafsh ‘an Ashim”. Perbedaan antara Riwayah Hafsh dan Riwayah Syubah dalam satu Qira’ah (Ashim) bisa terjadi pada beberapa letak kata atau kaidah tajwid tertentu, namun keduanya tetap bersumber dari guru yang sama.

Ketiga, Thariq. Thariq adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil dari perawi (rawi) ke bawah. Contoh: Jika kita membaca Riwayah Hafsh, jalur yang paling populer digunakan di dunia saat ini adalah Thariq asy-Syathibiyyah. Perbedaan pada level thariq biasanya sangat teknis, seperti durasi panjang mad jaiz munfashil (apakah dibaca 2, 4, atau 5 harakat).

Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah urutan hierarkinya:

Tabel Perbedaan Istilah

Istilah Dinishbatkan Kepada Contoh
Qira’ah Imam (Guru Utama) Qira’ah Imam Ashim
Riwayat Rawi (Murid Langsung/Tidak Langsung) Riwayat Hafs
Thariq Jalur Sanad (Di bawah Rawi) Jalur Asy-Syathibiyyah
Wajh Cara Baca (Pilihan Pembaca) Membaca Mad Jaiz 4 atau 5 harakat
  1. Qira’ah (Imam), bacaan yang dinisbatkan kepada pimpinan madzhab qira’at (Imam Utama). Contoh: Qira’ah Imam Ashim.

  2. Riwayah (Rawi), bacaan yang dinisbatkan kepada murid atau perawi dari Imam tersebut. Contoh: Riwayah Hafs atau Riwayah Syu’bah.

  3. Thariq (Jalur), bacaan yang dinisbatkan kepada orang yang mengambil dari perawi (Rawi) hingga ke bawah. Contoh: Thariq Syathibiyyah atau Thariq al-Fil.

Sejarah Singkat dan Munculnya Imam Qira’at

Pada masa awal Islam, Al-Qur’an diturunkan dalam “Tujuh Ahruf” (Sab’atu Ahruf) untuk memudahkan kabilah-kabilah Arab dengan dialek yang berbeda-beda. Setelah standarisasi Mushaf Usmani pada masa Khalifah Usman bin Affan, bacaan-bacaan yang tidak sesuai dengan rasm (tulisan) Mushaf Usmani mulai ditinggalkan.

Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, muncul ulama-ulama besar yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an. Imam Abu Bakar bin Mujahid (w. 324 H) kemudian mengkodifikasi “Tujuh Qira’at” yang paling masyhur dan memiliki sanad paling kuat. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Qira’ah Sab’ah.

10 Imam Qira’at dan Para Perawinya

Berikut adalah daftar sepuluh Imam Qira’at yang mutawatir beserta para perawinya:

  1. Imam Nafi’ al-Madani, Perawinya adalah Qalun dan Warasy.

  2. Imam Ibnu Katsir al-Makki, Perawinya adalah Al-Bazzi dan Qunbul.

  3. Imam Abu Amr al-Bashri, Perawinya adalah Ad-Duri dan As-Susi.

  4. Imam Ibnu Amir asy-Syami, Perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

  5. Imam Ashim al-Kufi, Perawinya adalah Syubah dan Hafsh. (Paling populer di Asia Tenggara).

  6. Imam Hamzah al-Kufi, Perawinya adalah Khalaf dan Khallad.

  7. Imam Al-Kisa’i al-Kufi, Perawinya adalah Abul Harits dan Ad-Duri.

  8. Imam Abu Ja’far al-Madani, Perawinya adalah Isa bin Wardan dan Ibnu Jammaz.

  9. Imam Ya’qub al-Hadrami, Perawinya adalah Ruwais dan Rauh.

  10. Imam Khalaf al-Bazzar, Perawinya adalah Ishaq dan Idris.

Syarat Sahnya Qira’ah (Arkanul Qira’ah)

Tidak semua bacaan yang berbeda bisa dianggap sebagai Al-Qur’an. Imam Ibnu al-Jazari menegaskan tiga rukun yang harus dipenuhi agar sebuah qira’ah dianggap sah dan bukan Syadzah (menyimpang). Pertama, Sesuai dengan Kaidah Bahasa Arab. Meskipun hanya dari satu sudut pandang tata bahasa (nahwu) yang fasih. Kedua, Sesuai dengan Rasm (Tulisan) Mushaf Usmani. Baik sesuai secara eksplisit maupun kemungkinan maknanya (ihtimalan). Ketiga, Sanad yang Shahih. Harus diriwayatkan oleh orang-orang yang adil, dhabit (kuat hafalan), dan bersambung sampai ke Rasulullah, serta masyhur di kalangan ahli qira’at.

Signifikansi Perbedaan Qira’ah dan Riwayah

Perbedaan qira’at bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan makna. Beberapa manfaat dari adanya keragaman riwayah antara lain: Pertama, Menunjukkan Mukjizat Al-Qur’an. Bahwa satu kata bisa dibaca dengan cara berbeda namun memberikan cakupan makna yang lebih luas tanpa saling bertentangan. Kedua, Istinbath Hukum. Perbedaan qira’at seringkali memperjelas hukum fikih. Contoh: Pada surah Al-Maidah ayat 6, kata arjulakum (kaki kalian) dibaca nasab (fathah) dalam mayoritas qira’at yang berarti kewajiban membasuh kaki, namun ada riwayat yang membaca khafadh (kasrah) yang mengisyaratkan bolehnya mengusap khuff. Ketiga, Kemudahan (Taisir). Memudahkan umat Islam dari berbagai latar belakang dialek untuk melafalkan wahyu Allah.

Jadi, dengan Memahami perbedaan antara Qira’ah, Riwayah, dan Thariq membawa kita pada kesadaran betapa ketatnya para ulama terdahulu dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an. Qira’ah adalah identitas mazhab imam besar, sedangkan riwayah adalah jalur transmisi yang membawa pesan tersebut kepada kita. Tanpa pemahaman ini, seseorang akan mudah menyalahkan bacaan orang lain yang berbeda, padahal perbedaan tersebut bersumber dari satu mata air yang sama, yaitu lisan Rasulullah SAW. (*)

Bahan Bacaan:

Al-Jazari, Ibnu. An-Nasyr fi al-Qira’at al-’Asyr. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. (Kitab standar untuk qira’at sepuluh).

Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azhim. Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits. (Membahas sejarah dan rukun qira’at).

Asy-Syathibi, Imam. Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani (Matan Syathibiyyah). (Referensi utama untuk qira’at tujuh).

Al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Riyadh: Mansyurat al-Asr al-Hadits.

Ad-Dani, Abu Amr. Al-Taisir fi al-Qira’at al-Sab’. (Rujukan dasar bagi Imam Syathibi).

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT