Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Apa arti menjadi “Nun Mati diantara Idgham Bilagunnah”? Ya, aku menikmatinya dan bertahan disini, menjadi nun mati diantara idgham bilagunnah, ada tapi dianggap tak ada. Jika sebab adanya bisa merubah makna, maka akan lebih baik menepi dan memilih tak disebut, seperti halnya pula membiarkan diri menjadi “dhamir mustatir” dalam kaidah nahwu atau menjadi “fardhu kifayah” dalam sunyi, sebagaimana diajarkan dalam Ilmu Fikih.
Bagi pembelajar Ilmu-ilmu kepesantrenan dan penikmat puisi, kali ini penulis mencoba merajut hati, menata hati lebih ikhlas dalam bekerja, dan kesemuanya penulis tuangkan dalam puisi ini, “Risalah Ikhlas”. Selamat memaknainya.
Risalah Ikhlas
Belajar Tajwid: Menjadi Nun Mati diantara Idgham Bilagunnah
Di antara hiruk-pikuk pujian yang dicari,
Aku memilih menjadi sunyi yang paling menepi.
Tak perlu ada dengung yang menggema di telinga,
Cukuplah makna tersampaikan tanpa ada sisa.
Sebab bagiku, mengabdi adalah sebuah rahasia,
Seperti Nun Mati di antara Idgham Bilagunnah,
Aku rela lebur, aku memilih untuk tak ada,
Menghilangkan ego demi sempurnanya sebuah nada.
Tak apa namaku tak disebut dalam riuh cakrawala,
Asalkan tujuan besar tetap tegak melintasi masa.
Karena di balik hilangnya bunyi yang kupersembahkan,
Ada harmoni yang tetap terjaga dalam kebaikan.
Belajar Nahwu: Khidmat dalam Dhamir Mustatir
Aku tak ingin menjadi Isim Zhahir yang pongah terpampang,
Dikenal wajahnya, disebut namanya di setiap ruang.
Aku lebih memilih menjadi Dhamir Mustatir,
Sembunyi di balik kerja, namun membuat makna tetap mengalir.
Biarlah aku menjadi Huruf Zaidah yang tak mengubah kedudukan,
Namun kehadirannya memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
Tak butuh Rafa’ untuk merasa tinggi di mata manusia,
Cukuplah Khafadh dalam kerendahan hati yang senantiasa terjaga.
Sebab aku tahu, menjadi ikhlas itu seperti Amil Maknawi,
Keberadaannya tak terlihat mata, tapi mampu menggerakkan hati.
Tak perlu I’rab yang jelas untuk sebuah pengabdian,
Karena dalam senyap, Allah-lah yang memberi penilaian.
Belajar Fikih: Fardu Kifayah di Balik Tabir
Aku memilih menjadi Fardu Kifayah yang sunyi,
Bergerak dalam senyap saat yang lain memilih unjuk kehadiran.
Tak perlu riuh pujian untuk membuktikan sebuah bakti,
Sebab jika kewajiban telah tegak, gugurlah beban di hati.
Biarlah amalku menjadi Syarat yang Tak Terlihat,
Menjadi fondasi kuat agar bangunan syariat tetap berkat.
Tak butuh Riya’ yang merusak rukunnya sebuah niat,
Cukuplah Qashad yang murni menjadi penguat saat penat.
Aku bekerja dalam prinsip Al-Umuru bi Maqashidiha,
Bukan tentang bagaimana mata manusia menilainya.
Karena di hadapan-Nya, yang tersembunyi justru berharga,
Bekerja nyata tanpa pamrih, mengharap ridha Sang Pencipta.
***
Semoga bermanfaat adanya dan dapat diambil hikmahnya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 20 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Seni Budaya/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


