Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini bukan sekadar pujian personal, tetapi potret nilai dan teladan. Untuk dan atas nama “Nayla Fadhiyah Ilham”, puisi dirangkai dan disusun dengan pendekatan kaidah tajwid. Puisi ini menyampaikan beberapa pesan utama bahwa Keindahan Lahir dari Kebenaran Bacaan. Dengan metafora tajwid, puisi menegaskan bahwa hidup yang baik harus dibaca dengan benar—tidak tergesa, tidak ceroboh.
Waqaf Indah di Nama Nayla
Niatnya seteguh idzhar, jelas dan jujur saat memulai hafalan.
Ayat demi ayat ia jaga dengan tartil, tak tergesa, karena makna harus sampai ke hati.
Yakin dalam sabar, ia memanjangkan waktu seperti mad, sebulan karantina tahfidz—hingga 30 juz terselesaikan.
Lembut paras dan santunnya bagai ghunnah, halus terdengar, menetap di ingatan.
Adabnya selalu lebih dulu dari suara, sebab bacaan indah lahir dari hati yang bersih.
Faṣih langkahnya saat mengemban amanah, Aman sebagai sekretaris OSIS, rapi dan bertanggung jawab.
Dalam seni, jiwanya idgham, menyatu dengan irama saat tari dipentaskan.
Hatiku menyebut namanya dengan ikhfa’, prestasi yang tenang, tak perlu diumumkan keras.
Inteleknya mantap, selalu lima besar, tanpa kehilangan rendah hati.
Yang ia kejar bukan sekadar angka, melainkan makna di balik usaha.
Arah langkahnya tak pernah lahn, tepat niat, tepat jalan.
Harumnya akhlak menjadi waqaf hasan, tempat orang lain berhenti dan menaruh hormat.
Izin Allah menaungi setiap bacaannya
Lantunan tajwid menjadi cermin jiwanya.
Harapan tumbuh dari Maros, mengalir menjadi cahaya yang menenangkan.
Aku melihat masa depan dibaca dengan benar, tanpa tergesa, tanpa salah makna.
Maknanya satu: santriwati yang cantik adabnya, cerdas ilmunya, dan utuh hafalannya.
***
Puisi akrostik ini menjadi salah satu pembuktian sosok santriwati bahwa Proses Panjang Melahirkan Ketuntasan. Untuk mendapatkan capaian besar harus lahir dari kesabaran yang dipanjangkan (mad) dan hidup dibaca dengan tartil.
Tartil adalah ruh tajwid: tenang, benar, dan penuh kesadaran, sedang Adab adalah ruh santri: cantik akhlak sebelum prestasi. Pesannya, jika menghafal al-Qur’an, jagalah hafalan yang bertajwid, dan jika mengukir prestasi, raihlah prestasi yang Beradab. Hal ini penting untuk menekankan keseimbangan Qur’ani dan akademik. (*)
Minasatene-Pangkep, 19 Januari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


