Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Related Post: Sudah Siapkan Kita Menyambut Ramadhan?
PALONTARAQ.ID – Banyak versi cerita yang mengaitkan Alexander the Great dengan Iskandar Zulkarnain. Benarkah Alexander the Great adalah Zulkarnain? Banyak pihak yang meyakini, Aleksander yang Agung adalah Zulkarnain. Termasuk di antara mereka adalah Michael H Hart, penulis buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (100 Tokoh Berpengaruh di Dunia). Ada yang pula menyebutnya dengan nama Aleksander dari Makedonia (Alexander of Macedonia), Iskandar al-Maqduni, Cyrus II dan banyak lagi.
Kisah tentang Zulkarnain dalam Alquran, disebutkan dalam Qs. Al-Kahfi: 83-98. Zulkarnain yang dimaksud dalam Al-Qur’an tersebut oleh beberapa mufassir tak lain tak bukan adalah Iskandar Zulkarnain atau Alexander the Great. Benarkah demikian?
Hal inilah yang perlu diluruskan supaya tidak berlarut-larut dalam kesalahan pemahaman. Faktanya, adalah Alexander the Great adalah putra Raja Philip. Dalam riwayatnya, disebutkan bahwa ia lahir pada Tahun 356 sebelum Masehi (SM) dan meninggal dalam usia 33 tahun, lalu menggantikan ayahnya yang mangkat pada 341 SM, atau tiga tahun setelah menaklukkan Yunani.
Dalam kamus Bahasa Arab Al-Munjid karangan Lewis, yang berasal dari Libanon, Alexander the Great ditulis dengan nama Iskandar Al-Kabir. Selama 12 tahun memimpin kerajaan, Alexander the Great berhasil menaklukkan berbagai imperium Persia, Yunani, hingga Punjab (India timur.) Alexander the Great memang dikenal memiliki visi menaklukkan dunia. Karena luasnya daerah taklukannya itulah sehingga dijuluki “Zulkarnain” karena menguasai dua kekuasaan terbesar, dari timur ke barat, serta memakai mahkota dengan dua tanduk di kepalanya.
Dalam versi Kristen, nama Alexander disebut dalam Kitab Daniel Bab 8 ayat 21, disebut sebagai Raja Yunani yang disimbolkan sebagai kambing jantan dengan tanduk besar diantara kedua matanya. Versi lain menyebutkan bahwa kendati Alexander memiliki wilayah yang luas karena kebesaran pasukannya, tidaklah disebut lebih hebat dari Cyrus II Raja Persia. Hal ini dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan Aleksander setelah mengambil wilayah Cyrus II yang telah ditaklukkannya. Cyrus II dan Darius sudah melakukannya dua abad sebelumnya, yakni sekitar abad ke-5 SM.
Lantas, bagaimana dengan Zulkarnain? Benarkah dia adalah Alexander the Great? Ada yang menyebut, Zulkarnain hidup pada Abad VI SM (545 SM). Artinya, jauh sebelum Alexander the Great. Ada pula yang menyebutkan periodenya antara Tahun 152-115 SM dengan nama asli Abu Karb al-Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari Daulah al-Jumairiyah.
Kalau banyak yang mempersepsi Zulkarnain adalah Alexander the Great, maka jauh lebih banyak lagi yang membantahnya. Perbedaan mendasarnya adalah karena Alexander seorang raja yang tidak beragama Islam (non-Muslim). Subhan Nurdin dalam buku, “Benarkah Isa dan Dajjal Akan Turun?” mengutip pendapat Imam Syaukani, menegaskan bahwa Alexander the Great bukanlah Zulkarnain. Sebab, yang pertama itu seorang non-Muslim.
Siapa sebenarnya Zulkarnain? Menurut sejumlah sejarawan Muslim, sebagaimana dikutip Subhan Nurdin, Zulkarnain adalah julukan Abu Karb al-Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari Daulah al-Jumairiyah (152-115 SM). Kerajaannya disebut at-Tababi’ah. Dijuluki Zulkarnain alias ‘pemilik dua tanduk’ karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di barat sampai timur.
Sementara itu, menurut Ibnu Abbas, Zulkarnain adalah seorang raja yang saleh. Ia adalah seorang utusan Allah (Nabi), karena Allah berfirman kepadanya. Ada pula yang menyebutkan, Dzulqarnayn berasal dari Mesir. Dia merupakan salah seorang anggota keluarga Firaun, zaman Nabi Musa AS. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Al-Mu’min:28, “Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya.” Menurut versi ini, nama laki-laki itu adalah Akhnaton, putra dari Aminhotep (Mineptah) III, raja yang tewas di Laut Merah.
Dalam Alquran, tidak dijelaskan siapa ‘laki-laki yang beriman’ tersebut. Konon, laki-laki yang beriman ini pernah melakukan perjalanan hingga ke daerah Cina. Dari sini, kemudian banyak yang mengaitkannya dengan pembangunan Tembok Cina untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Menurut beberapa arkeolog, bangunan reruntuhan tembok itu berkonstruksi besi dan tembaga yang cara pembuatan dan desainnya menggunakan pola desain Mesir.
Hal lain yang mendukung pendapat bahwa Zulkarnain dari Mesir adalah pengolahan kertas yang berkembang pesat di Cina setelah masa itu. Sebab, sebelumnya pengembangan kertas hanya ada di Mesir dengan bahan papyrus (sehingga menjadi asal kata paper, kertas).
Sebagai kesimpulan, Ada beberapa perbedaan antara Alexander the Great dengan Zulkarnain, diantaranya: Alexander the Great adalah (1) penyembah berhala, (2) suka sesama jenis (homoseksual), (3) penjajah yang sangat kejam (merusak dan merampas), (4) tidak membangun tembok pembatas. Adapun Zulkarnain adalah: (1) menyembah Tuhan Yang Esa (Monoteisme), (2) mendapat firman (ilham atau wahyu) Tuhan, (3) tidak mengambil harta negeri jajahan secara zalim, (4) membuat tembok pembatas untuk melindungi negeri yang didatanginya.
Demikianlah tulisan ini sebagai penegas bahwa Zulkarnain bukanlah Alexander the Great, sebagaimana kita dapat pastikan bahwa Alexander the Great tidaklah dapat menyamai atau disamakan dengan Zulkarnain. Wallahu A’lam bish-shawab. (*)


