Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Ayu Wandira” ini menggambarkan perjalanan seorang santri yang memulai dari titik paling dasar, lalu tumbuh melalui latihan, kesabaran, dan keberanian beradaptasi. Kaidah tajwid dijadikan simbol bahwa keberhasilan tidak hadir secara instan, tetapi melalui proses belajar yang tertib—seperti membaca huruf demi huruf hingga menjadi lantunan yang fasih.
Suara Bertajwid, Langkah Berprestasi
(1)
Awalnya lirih seperti ikhfa’ yang tersembunyi,
Yakin perlahan tumbuh bagai idzhar yang mulai terlihat,
Usaha tak henti meski tertatih di baris paling sunyi.
Waktu berjalan, ia belajar seperti mad thabi’i yang dipanjangkan sabar,
Adaptasi dengan teman unggul laksana idgham yang melebur tanpa gentar,
Niatnya jernih bagai qalqalah yang mantap bergetar,
Dalam setiap kata, bakat MC mulai bersinar,
Intonasinya seperti hukum ghunnah yang merdu dan teratur,
Raih prestasi setara teman—waqaf sejenak lalu melesat lebih luhur,
Akhirnya menjadi kebanggaan orang tua, muslimah cerdas nan tangguh bersyukur.
(2)
Adalah langkah kecil seperti harakat yang baru belajar bunyi,
Yang dulu ragu kini tegas seperti tasydid menguatkan diri,
Untai harapan tumbuh bagai mad wajib yang panjang berarti.
Wajah tekun terpahat seperti mim sukun yang terjaga,
Adapun teman lebih unggul menjadi ikhfa syafawi—belajar menyatu tanpa luka,
Napasnya terlatih bak penyiar yang fasih membaca makna,
Diksi kata mengalir seperti idzhar halqi yang nyata,
Irama suaranya merdu laksana ghunnah di rongga jiwa,
Rintangan dilewati bagai iqlab—berubah jadi peluang berharga,
Ayu Wandira pun menjelma muslimah sukses, harapan orang tua sepanjang masa.
***
Kedua puisi akrostik menggambarkan perjalanan Ayu Wandira seperti membaca Al-Qur’an dengan tajwid: dari suara pelan, belajar aturan, berlatih napas dan artikulasi, hingga akhirnya fasih, percaya diri, dan bersinar—baik sebagai santri, MC, maupun talenta penyiar yang membanggakan keluarga.
Pesan utamanya puisi meliputi: (1) Ketekunan mengalahkan rasa minder, karena setiap orang punya waktu tumbuhnya masing-masing. (2) Adaptasi dan kerendahan hati membantu seseorang menyatu dengan lingkungan yang lebih maju. (3) Bakat perlu dilatih, sehingga potensi berbicara (MC dan penyiar) menjadi kekuatan nyata.
Puisi akrostik ini ingin mengingatkan bahwa Doa dan harapan orang tua menjadi energi moral yang menuntun langkah. Begitupula Keseimbangan kecerdasan, ketangguhan, dan akhlak adalah kunci menjadi muslimah yang sukses dan membanggakan, seperti tajwid yang memperindah bacaan, usaha yang disiplin dan hati yang lurus akan memperindah perjalanan hidup hingga mencapai prestasi. (*)
Minasatene-Pangkep, 14 Januari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen


