Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Dua puisi akrostik ini dihadirkan sebagai satu napas cerita tentang perjalanan seorang santri bernama Fatimah Az-Zahra—santri kelas tiga SMA asal Kota Makassar yang tumbuh dalam lingkungan pesantren dengan kecintaan pada ilmu agama, ibadah, dan pengabdian. Melalui aktivitas organisasi, Palang Merah Remaja di tingkat sekolah dan kabupaten, amanah kebersihan OSIS, serta bakat seni tari yang kerap tampil di berbagai panggung, Fatimah menapaki proses pendewasaan diri yang nyata dan bermakna.
Namun perjalanan ini bukan hanya tentang prestasi dan peran sosial. Pada fase penting kehidupannya, ia diuji dengan kepergian sang ayah—figur yang menitipkan harapan agar dirinya tumbuh dewasa dalam berpikir dan bertindak, mencintai agama, guru, dan orang tua, serta setia memeluk cita-cita. Dua puisi ini, ketika digabungkan, menjadi potret utuh seorang muslimah muda yang belajar tegar, ikhlas, dan tetap melangkah dengan cahaya nilai-nilai yang diwariskan.
Menari dalam Doa, Tumbuh dalam Amanah
(1)
Fokus menuntut ilmu di bangku kelas tiga SMA
Asal Makassar ia bawa dalam semangat merantau
Tekun pada pelajaran keagamaan yang dicintai
Ibadah terjaga, tilawah menjadi teman setia
Menari adalah bahasa jiwa yang ia rawat
Aktif berorganisasi, belajar memimpin dan melayani
Hadir sebagai pengurus Palang Merah Remaja
Amanah kebersihan OSIS ia pikul dengan tanggung jawab
Zona-zona kebaikan ia hidupkan lewat keteladanan
Zikir dan kerja berpadu dalam keseharian
Aksi kemanusiaan dijalani di tingkat sekolah dan kabupaten
Hobi menari mengiringi banyak panggung pengabdian
Rajin, disiplin, dan peka pada sekitar
Arah hidup dituntun iman dan cita-cita
(2)
Fajar hidupnya diuji saat ayah berpulang
Airmata jatuh, namun tekad tak runtuh
Tersimpan pesan ayah: tumbuhlah dewasa dalam pikir dan sikap
Ikatlah iman, cintai agama, guru, dan orang tua
Memeluk cita-cita dengan sabar dan berani
Anak shalehah—doa yang terus dihidupkan
Harapan itu ia rawat dalam langkah sunyi
Ada rindu yang menjelma kekuatan
Zaman mengajarkannya tegar dan ikhlas
Zuhud dalam niat, luas dalam kasih
Ayah menjadi cahaya di setiap keputusan
Hingga kini ia berjuang meraih ridha
Rela berproses, setia pada kebaikan
Akhirnya tumbuh sebagai muslimah yang cerdas dan tulus kasih.
***
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kedewasaan sejati lahir dari pertemuan antara tanggung jawab dan keteguhan hati. Fatimah Az-Zahra merepresentasikan santri yang tidak hanya aktif dan berprestasi, tetapi juga mampu memaknai kehilangan sebagai kekuatan spiritual. Ibadah yang tekun, kepedulian sosial, kecintaan pada seni, dan amanah organisasi menjadi jalan pengabdian yang dijalani dengan tulus.
Lebih jauh, puisi ini mengajarkan bahwa menjadi muslimah yang cerdas bukan hanya soal kecakapan berpikir, melainkan juga kemampuan mencintai dengan ikhlas, berproses dengan sabar, dan berjuang meraih ridha Allah serta orang tua. Dalam doa-doa yang sunyi dan kerja-kerja yang nyata, tumbuhlah pribadi yang lembut dalam kasih, kuat dalam prinsip, dan teguh memeluk masa depan.
Minasatene-Pangkep, 5 Desember 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


