Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Dalam konteks pendidikan, “Pilar Sosial” yang paling diakui dan digunakan secara luas untuk mendesain pembelajaran sosial emosional (SEL) adalah Lima Kompetensi Inti yang dikembangkan oleh Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL).
Kompetensi ini menjadi kerangka dasar untuk membantu individu—baik anak-anak maupun orang dewasa—mengembangkan keterampilan penting untuk mengelola emosi, mencapai tujuan, menunjukkan empati, membangun hubungan positif, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Lima Pilar/Kompetensi Inti CASEL tersebut meliputi: Pertama, Kesadaran Diri (Self-Awareness). Kompetensi ini adalah fondasi dari SEL. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali emosi, pikiran, dan nilai-nilai diri sendiri dan bagaimana semua itu memengaruhi perilaku. Contoh dalam Pembelajaran: Mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, memiliki pola pikir positif (optimisme), dan memiliki rasa efikasi diri (keyakinan akan kemampuan sendiri).
Kedua, Manajemen Diri (Self-Management). Ini adalah kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif dalam berbagai situasi serta untuk bekerja menuju pencapaian tujuan dan aspirasi. Contoh dalam Pembelajaran: Mengelola stres, mengendalikan dorongan impulsif, menunda kepuasan (kontrol diri), dan memiliki motivasi internal untuk mencapai tujuan akademik atau pribadi.
Ketiga, Kesadaran Sosial (Social Awareness). Kompetensi ini berfokus pada kemampuan untuk memahami perspektif orang lain dan berempati dengan orang-orang dari latar belakang dan budaya yang berbeda. Contoh dalam Pembelajaran: Mengambil perspektif orang lain (melihat dari sudut pandang mereka), mengakui kekuatan orang lain, dan memahami norma-norma sosial dan etika dalam konteks lingkungan yang berbeda (sekolah, komunitas).
Keempat, Keterampilan Berhubungan (Relationship Skills). Ini adalah kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan suportif serta untuk bernavigasi secara efektif dalam lingkungan sosial. Contoh dalam Pembelajaran: Berkomunikasi dengan jelas, bekerja secara kolaboratif (kerja tim), menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan meminta atau menawarkan bantuan ketika dibutuhkan.
Kelima, Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making). Pilar terakhir adalah kemampuan untuk membuat pilihan yang konstruktif mengenai perilaku pribadi dan interaksi sosial berdasarkan pertimbangan etika, masalah keselamatan, dan evaluasi konsekuensi yang mungkin terjadi. Contoh dalam Pembelajaran: Menganalisis situasi secara kritis, mengidentifikasi solusi untuk masalah, dan mempertimbangkan kesejahteraan diri sendiri dan orang lain saat membuat keputusan.
Jika mengikuti kerangka pikir seorang desainer pembelajaran senior, Shaun Thompson, maka hasil utama dari Workshop Pembelajaran Sosial adalah mengacu pada aspek berikut ini:
1. Pergeseran Fokus: Dari “Konten” ke “Koneksi”. Pembelajaran sosial yang efektif mengharuskan desainer untuk mengalihkan fokus dari sekadar menyajikan konten (model broadcast) menjadi memfasilitasi koneksi antar peserta didik. Ini berarti pembelajaran harus dirancang sebagai sebuah proses dialogis dan ko-kreasi (penciptaan bersama) pengetahuan.
2. Pentingnya Struktur dan Perancah (Scaffolding). Thompson kemungkinan menyoroti bahwa pembelajaran sosial tidak terjadi secara spontan hanya karena adanya fitur forum atau chat. Sebaliknya, desainer harus menyediakan struktur yang jelas (panduan, pertanyaan pemantik, kerangka kerja kolaborasi) untuk memastikan interaksi bermakna dan terarah menuju tujuan belajar.
3. Mengukur Interaksi yang Bermakna. Hasilnya mungkin menekankan bahwa desainer perlu mendefinisikan dan mengukur kualitas interaksi (misalnya, sejauh mana peserta didik memberikan feedback yang mendalam atau membangun gagasan satu sama lain), bukan hanya kuantitas (jumlah postingan).
4. Peran Fasilitator yang Transformatif. Pembelajaran sosial membutuhkan fasilitator yang aktif—baik berupa instruktur atau alat bantu digital—untuk: Memberikan pengakuan atas kontribusi, Menghubungkan ide-ide yang berbeda, serta Memastikan lingkungan yang aman dan inklusif.
Intinya, Pembelajaran Sosial harus dipertimbangkan sebagai elemen desain yang disengaja dan bukan hanya hasil sampingan dari kursus, yang didukung oleh Kreasi Bersama dimana Pembelajar mengambil kepemilikan kreatif dan kolektif atas pembelajaran mereka bersama teman sebaya, guru, dan mentor; berkontribusi dan mengonfigurasi ulang lingkungan dan pengalaman belajar mereka bersama sebagai sebuah kelompok.
Begitu pula terkait Crowdsourcing. Harus ada upaya aktif mengumpulkan ide, keputusan, umpan balik, kontribusi individu, atau artefak yang dihasilkan dari tugas-tugas kecil dari seluruh komunitas pembelajar, atau bahkan dari kumpulan peserta yang lebih besar.
Hal yang tak kalah pentingnya adalah tentang bagaimana mengelola kolaborasi, Mengoptimalkan pembentukan kelompok atau tim, pengorganisasian, dan alur kerja yang berkaitan dengan pengelolaan komunikasi, kontribusi, pendelegasian, dan kemudahan interaksi sosial.
Dalam Desain pembelajaran sosial, sangat diperlukan kehadiran sosial, dalam kebutuhan membantu peserta didik merasakan kehadiran orang lain yang suportif dalam komunitas pembelajaran dengan mendorong interaksi sosial insidental dan jaringan. Begitu pula terkait Ekspresi Diri, dalam mendorong peserta didik untuk membangun pengetahuan, pemahaman, ide, makna, nilai, sikap, dan identitas mereka sendiri, yang dibentuk oleh pengalaman dan minat mereka sendiri. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


