BerandaLiterasiPuisi: I‘rāb Sunyi Sang Penurut

Puisi: I‘rāb Sunyi Sang Penurut

Oleh: Etta Adil  *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Aleeya Nafeeza” yang menggambarkan sosok santriwati yang penurut. Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kehidupan, seperti kalimat dalam nahwu, menemukan maknanya ketika setiap unsur berada pada posisinya yang tepat.

Sosok Aleeya Nafeeza digambarkan sebagai siswi yang Berpikir tenang dan berprinsip. 
Istilah nahwu (mubtada’, khabar, i‘rāb, rafa‘, nasab, jarr) menjadi metafora bagi cara berpikir yang tertata dan dewasa. Aleeya Nafeeza lebih senang bergerak tanpa mencari sorotan. Kiprahnya di forum perdamaian dunia menunjukkan keberanian dan kepedulian, namun ia tetap memilih jalan sunyi yang fokus pada belajar dan yang memberi manfaat.

I‘rāb Sunyi Sang Penurut

(1)

Alee ya hidupnya bermula sebagai mubtada’—niat yang jernih,
Langkahnya marfū’ oleh akal yang tenang dan hati yang lapang,
Etika dijaga, ia memilih i‘rāb yang lurus dalam tiap keputusan,
Era dunia disimaknya, pernah hadir di konferensi pemuda untuk perdamaian,
Yakin bahwa makna tak selalu butuh tanda seru,
Akhirnya khabar itu sederhana: setia belajar, tanpa sorotan.

Nafas pengabdian menjadi fā‘il yang bekerja dalam diam,
Arah tujuannya manshūb pada manfaat dan maslahat,
Fitrah rendah hati membuatnya nyaman di baris belakang,
Elegi langkahnya majrūr oleh adab dan doa orang tua,
Esensi kiprahnya tak mencari panggung,
Zikirnya satu: bahagiakan dan banggakan ayah bunda,
Amin—itulah titik akhir kalimat hidupnya.

(2)

Analisisnya jernih, seperti jumlah ismiyyah yang seimbang,
Lembut tutur, kuat makna—ia tahu kapan rafa‘, kapan nasab,
Empati mengikat kata, menautkan manusia pada damai,
Energinya pernah diuji di forum pemuda lintas bangsa,
Yang ia bawa bukan gemerlap, melainkan solusi,
Adil pada diri sendiri: belajar tekun, tak perlu riuh.

Niatnya menjadi maf‘ūl bih bagi doa orang tua,
Amal kecil disusun rapi, seperti na‘at yang memperindah isim,
Fokusnya majrūr oleh ketulusan, tak melonjak oleh pujian,
Elmu dijaga mu‘rab—fleksibel namun berprinsip,
Endap sorak, naikkan manfaat,
Zaman boleh bising, ia memilih makna,
Akhir kalimatnya sama: bakti yang menenangkan hati keluarga.

***

Puisi akrostik ini menegaskan pesan bahwa makna lebih penting daripada kebisingan, Seperti kalimat yang indah tak butuh banyak tanda seru, hidup yang bermakna tidak selalu perlu tepuk tangan. Intinya, puisi ini menegaskan bahwa, “hidup yang tertata, tenang, dan berbakti adalah kalimat paling indah yang bisa dibaca orangtua.

Minasatene-Pangkep, 1 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT