Smotrich menyampaikan pidatonya di podium dengan tutupan variasi bendera Israel menunjukkan batas-batas negara Israel yang diperluas, mencakup diantaranya Tepi Barat, Yerusalem Timur, Gaza, dan Yordania. “Apakah ada sejarah atau budaya Palestina? Tidak ada. Tidak ada yang namanya orang Palestina,” ujar pengawas wilayah pendudukan Tepi Barat dalam suatu pidato konferensi di Perancis yang dibagikan secara luas di media sosial.
Yordania menyuarakan kemarahan atas bendera di atas panggung di samping Smotrich. Pemerintah Amman mengatakan telah memanggil duta besar Israel untuk memprotes.
“Ini adalah perilaku provokatif yang tidak bertanggung jawab oleh seorang menteri pejawat, melanggar norma internasional dan perjanjian perdamaian Yordania-Israel. Perilaku ekstremis ini mendorong ke arah eskalasi,”tegas Sinan al-Majali, juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania.
Majali menegaskan, Yordania meminta pemerintah Israel untuk mengambil sikap jelas dan jujur. Kementerian Luar Negeri Israel kemudian menulis di Twitter, bahwa negara itu berkomitmen pada perjanjian damai 1994 dengan Yordania.
“Tidak ada perubahan dalam posisi Negara Israel, yang mengakui integritas teritorial Kerajaan Hashemite,” tulis keterangan tersebut. Juru bicara Smotrich mengatakan, bendera itu dipasang oleh penyelenggara konferensi dan menteri adalah tamu.
Sementara itu, Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengecam keras Smotrich. Shtayyeh mengatakan bahwa Smotrich telah melakukan kekerasan. Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan, dengan menyangkal keberadaan rakyat Palestina dan hak-hak nasionalnya, Israel mendorong ekstremisme dan terorisme Yahudi terhadap rakyat Palestina.
Wakil juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Farhan Haq menggambarkan pernyataan Smotrich sebagai tindakan yang sama sekali tidak membantu. “Jelas, ada orang Palestina yang sangat jelas dan nyata. Hak-hak mereka ditegakkan oleh PBB,” ujarnya.
Sekutu Barat juga mengkritik pernyataan tersebut. “Kami sangat keberatan dengan bahasa seperti itu. Kami tak ingin mendengar retorika dan tindakan apapun yang dapat menjadi penghalang bagi solusi dua negara yang layak,”ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Kirby.
Uni Eropa menyatakan dengan tegas menyesalkan komentar Smotrich. Pernyataan itu dinilai berbahaya dan kontraproduktif. Terjadi lonjakan konfrontasi di Tepi Barat selama setahun terakhir, dengan serangan militer Israel hampir setiap hari dan meningkatnya kekerasan oleh pemukim Yahudi.
Selama setahun terakhir, pasukan Israel telah membunuh lebih dari 250 warga Palestina, termasuk pejuang dan warga sipil, sementara lebih dari 40 warga Israel dan orang asing tewas dalam serangan Palestina.
Pemerhati Palestina, Muhammad Farid Wajdi, menegaskan bahwa Dunia tidak diam, paham sejarah yang sebenarnya, dan terus menyorot perkembangan Israel-Palestina. Israel lah yang sebenarnya penjajah, yang telah merebut wilayah Palestina di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza, dan mendirikan negara Yahudi Israel. Wilayah-wilayah Palestina lainnya secara rakus dan sadis terus menerus diambil dengan kekejaman perang hampir setiap hari, setiap bulan dan sepanjang tahun pendudukan. (*)


