BerandaLiterasiPuisi: I’rab Rindu dalam Tata Bahasa Cinta

Puisi: I’rab Rindu dalam Tata Bahasa Cinta

Oleh: Etta Adil 

Related Post: Puisi: Nahwu Cinta

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Cinta Ramadhani Mutiara Takbir” ini menggambarkan bahwa cinta dan rindu dapat dianalogikan seperti kaidah nahwu dalam bahasa Arab—memiliki aturan, susunan, dan keseimbangan. Perasaan tidak selalu bebas tanpa arah, tetapi justru indah ketika tertata seperti mubtada’ dan khabar, rafa’, nashab, dan jar.

Maknanya, cinta yang baik adalah cinta yang teratur, sabar, dan memiliki tujuan yang jelas. Rindu digambarkan sebagai penguat (taukid) yang membuat perasaan semakin dalam, sementara doa dan harapan menjadi “harakat” yang menghidupkan makna. Intinya, puisi ini menyampaikan bahwa hati yang tertata dengan ilmu, kesabaran, dan keikhlasan akan membuat cinta berakhir pada kebaikan dan pertemuan yang indah.

I’rab Rindu dalam Tata Bahasa Cinta

Cinta bagai Isim yang selalu hadir sebagai subjek hati,
I’rab perasaan berubah, namun makna tetap sejati.
Niat terucap seperti Nashab yang jelas arahnya,
Tarkib kata rindu tersusun indah dalam jiwa.
Ada harap seperti Marfu’ yang selalu terangkat doanya.

Rindu laksana Rafa’ yang meninggi ke langit harapan,
Amal kata menjadi Fi’il yang hidup dalam ungkapan.
Maknawi cinta seperti Majrur yang terikat sebab,
Arabkan hati pada huruf-huruf yang lembut beradab.
Dalam Dhamir tersembunyi nama yang selalu disebut,
Harokat rasa tak pernah benar-benar surut.
Antara Athaf dan jeda, kenangan tetap tersambung,
Nun rindu berbaris panjang tak pernah terhitung.
I’tiqad hati tetap satu meski jarak membentang.

Mutiara cinta bagaikan Mubtada’ yang membuka kalimat,
Untaian rindu menjadi Khabar yang paling hangat.
Tata bahasa jiwa tersusun tanpa cela,
Ikhlas bagai Isim Nakirah yang luas maknanya.
Alam perasaan menjadi Ma’rifah saat namamu disebut nyata.
Rangkaian huruf seperti Rabitah pengikat makna,
Akhirnya cinta tetap kembali pada asalnya.

Takbir rindu menggema seperti Taukid yang menguatkan,
Ayat perasaan tak pernah salah penempatan.
Kaidah hati lebih rapi dari ilmu Nahwu tertulis,
Baris doa tersusun tanpa harus ditulis.
Intisari cinta adalah kesabaran yang halus,
Rindu pun berakhir indah saat pertemuan terutus.

***

Minasatene-Pangkep, 16 November 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi, Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT