Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Hari itu suasana ruang sidang proposal terasa seperti arena jihad ilmiah. Tiga dosen duduk berjejer di depan — lengkap dengan ekspresi khas: Dosen pertama serius seperti sedang menilai ijazah akhirat, Dosen kedua tampak santai tapi tajam pandangan matanya, dan Dosen ketiga… hobi bertanya balik daripada menjawab.
Sementara di depan mereka berdiri Ahmad, mahasiswa S2 Dirāsah Islāmiyyah yang sudah tiga malam begadang. Di tangan kirinya: powerpoint berjudul megah, “Analisis Maqāṣid al-Syarī‘ah terhadap Transformasi Sosial di Era Digital.”
Dan di tangan kanannya: segelas air putih… yang bergetar.
Bab I: Presentasi yang Mulai Terguncang
Ahmad membuka sidang dengan percaya diri, “Bismillāh… penelitian saya menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologis berbasis maqāṣid.”
Dosen 1 langsung menatap serius, “Baik, Saudara Ahmad… bisa jelaskan apa bedanya fenomenologi dengan deskriptif analisis?”
Ahmad tersenyum gugup, “Fenomenologi itu… hmm… lebih fenomenal, Prof.”
Seluruh ruangan tertawa, kecuali Dosen 1. Dosen 2 menepuk meja sambil tertawa, “Nah, ini baru jujur secara metodologis!”
Bab II: Desain Penelitian yang Tak Jelas Ujungnya
Setelah tawa reda, Dosen 3 — yang terkenal suka menjawab dengan pertanyaan — mulai bicara, “Saudara Ahmad, Anda menyebut penelitian ini kualitatif fenomenologis maqāṣidistik.
Tapi apakah maqāṣid itu paradigma, teori, atau instrumen?”
Ahmad terdiam sejenak, mencoba berpikir keras. Akhirnya ia menjawab, “Menurut saya… maqāṣid itu semangat epistemologis, Prof.”
Dosen 3 tersenyum sinis, “Epistemologis dalam arti apa?”
Ahmad mulai panik, tapi tetap berusaha ilmiah, “Dalam arti… tidak ontologis, Prof.”
Ruangan hening dua detik. Lalu Dosen 2 menepuk bahu Ahmad sambil berkata pelan, “Jawabanmu bagus, tapi sayangnya tidak bermakna.”
Bab III: Antara Objek dan Subjek yang Tersesat
Dosen 1 kemudian bertanya lagi, “Objek penelitian kamu apa sebenarnya?”
Ahmad menjawab, “Objeknya adalah pemahaman masyarakat digital terhadap maqāṣid.”
Dosen 1 melanjutkan, “Lalu subjeknya siapa?”
Ahmad dengan cepat menjawab, “Subjeknya maqāṣid itu sendiri, Prof.”
Dosen 1 langsung menatap tajam, “Jadi kamu mau wawancara maqāṣid?”
Suasana ruangan langsung pecah oleh tawa. Ahmad mencoba menenangkan diri, “Bukan, Prof. Maksud saya… wawancara orang yang mempraktikkan maqāṣid.”
Dosen 3 ikut menimpali dengan nada reflektif, “Lalu… apakah orang itu sadar bahwa dia sedang maqāṣid?”
Ahmad hanya bisa tersenyum kaku, “Insya Allah sadar, Prof. Kalau tidak sadar… mungkin subconsciously maqāṣid.”
Dosen 2 tertawa lagi, “Luar biasa! Ini penelitian bisa jadi psikologi maqāṣidiyyah!”
Bab IV: Instrumen yang Belum Diciptakan
Ketika ditanya tentang instrumen penelitian, Ahmad menjawab dengan mantap, “Instrumen yang saya gunakan adalah wawancara mendalam dan observasi.”
Dosen 2 bertanya, “Kamu pakai pedoman wawancara?”
Ahmad menjawab, “Sudah saya siapkan, Prof. Tapi masih dalam tahap kontemplasi maqāṣidiyyah.”
Dosen 3 langsung memotong, “Kontemplasi? Maksudnya apa?”
Ahmad dengan polos menjawab, “Maksud saya, saya belum sempat menulisnya, Prof.”
Seluruh ruangan kembali tertawa. Dosen 1 menggeleng sambil tersenyum, “Jadi instrumenmu masih dalam bentuk niat?”
Bab V: Ketika Teori Menjadi Filsafat Hidup
Dosen 2 lalu bertanya dengan gaya santai tapi menjebak, “Kalau penelitianmu fenomenologi, siapa tokoh acuannya?”
Ahmad menjawab mantap, “Husserl, Prof. Tapi dengan pendekatan maqāṣidiyyah.”
Dosen 2 menatap dengan heran, “Kamu yakin Husserl paham maqāṣid?”
Ahmad mencoba bertahan, “Mungkin tidak, Prof. Tapi kalau beliau hidup sekarang, mungkin beliau akan memahami maqāṣid sebagai kesadaran transendental Islam.”
Dosen 3 menepuk meja sambil tertawa, “Hebat! Ini bukan penelitian lagi, ini dakwah filsafat!”
Bab VI: Kesimpulan yang Tak Diharapkan
Akhirnya, setelah setengah jam tanya jawab, Dosen 1 menutup sidang, “Baik, Saudara Ahmad, proposal Anda menarik, tapi perlu pemurnian metodologis.
Jangan semua hal dianggap maqāṣid, nanti dosen penguji juga jadi maqāṣid.”
Semua tertawa lagi.
Ahmad menunduk lega, meski keningnya berkeringat. Sambil membereskan laptopnya, ia berbisik ke temannya di belakang, “Ternyata yang paling berat dalam penelitian bukan cari data, tapi cari jawaban yang masuk akal di depan dosen.”
Temannya menjawab, “Iya, apalagi kalau dosennya suka nanya balik. Rasanya seperti main catur dengan orang yang punya paradigma fenomenologis sendiri.”
Epilog: Refleksi Seorang Mahasiswa Pascasarjana
Malam itu, Ahmad menulis status di grup WhatsApp kelas, ‘Sidang proposal hari ini berjalan lancar. Banyak maqāṣid, sedikit metodologi, tapi penuh makna spiritual.’
Dan sejak hari itu, setiap kali ada teman yang stres karena belum paham desain penelitian, Ahmad selalu berkata, “Tenang saja, bro. Di dunia ini tidak ada metodologi yang sempurna — bahkan skripsi pun butuh takdir.”
Pesan Moral dari cerita ini adalah: (1) Jangan terlalu cepat bilang “desain penelitian saya sudah matang.” Bisa jadi masih setengah mentah. (2) Jika dosen bertanya balik, anggap saja itu bentuk muḥāsabah metodologis. (3) Dalam penelitian S2 Dirāsah Islāmiyyah, yang paling penting bukan hanya memahami teori — tapi juga punya kesabaran, selera humor, dan doa kuat untuk bertahan di depan dosen. (*)


