BerandaAkademiaCerita Lucu (2): “Ketika Metodologi Lebih Sulit dari Ibadah Sunnah”

Cerita Lucu (2): “Ketika Metodologi Lebih Sulit dari Ibadah Sunnah”

Oleh: Etta Adil 

PALONTARAQ.ID – Hari itu suasana ruang kuliah S2 Dirāsah Islāmiyyah sangat tegang.
Mata kuliahnya adalah Metodologi Penelitian Islam, dibimbing oleh Prof. Dr. K, seorang dosen yang terkenal suka bertanya balik sebelum menjawab. Mahasiswa sudah datang dengan wajah siap, tapi jujur saja—siap dalam arti “siap kebingungan”.

Bab I. Permulaan yang Membingungkan

Profesor membuka kelas dengan pertanyaan, “Baik, siapa yang bisa jelaskan: apa bedanya metode penelitian dengan metodologi penelitian?”

Mahasiswa A yang biasanya paling rajin langsung menjawab cepat, “Metode penelitian itu teknik pengumpulan data, Prof. Sedangkan metodologi itu… hmm… ya pokoknya lebih tinggi dari metode.”

Profesor tersenyum tipis, “Jadi metodologi itu lebih tinggi? Maksudmu seperti derajat wali dibanding jamaah?”

Seluruh kelas tertawa. Mahasiswa A langsung terdiam sambil membuka catatan, mencari definisi “metodologi” yang lebih syar’i.

Bab II: Tentang Paradigma dan Penderitaan

Lalu dosen bertanya lagi, “Dalam penelitian Islam, kita pakai paradigma apa?”

Mahasiswa B menjawab dengan yakin, “Paradigma Qur’ani, Prof!”

Profesor mengangguk, lalu bertanya, “Kalau begitu, paradigma Qur’ani itu masuk kategori positivistik, interpretatif, atau kritis?”

Mahasiswa B terdiam, menatap ke langit-langit, seolah mencari wahyu metodologis turun dari langit. Akhirnya ia menjawab pelan, “Mungkin… maqāṣidistik, Prof?”

Seketika seluruh kelas tertawa keras. Profesor pun menepuk meja sambil tertawa, “Wah, itu paradigma baru! Mungkin bisa jadi topik disertasi!”

Bab III: Drama Variabel dan Hipotesis

Ketika giliran membahas variabel penelitian, Profesor meminta contoh variabel dalam konteks Dirāsah Islāmiyyah.

Mahasiswa C mencoba menjawab, “Variabel bebasnya, Prof, adalah iman, dan variabel terikatnya amal saleh.”

Profesor tersenyum bijak, “Kalau begitu, berarti penelitianmu sudah selesai. Allah sendiri sudah konfirmasi korelasinya di Al-Qur’an.”

Semua tertawa lagi. Mahasiswa C langsung menulis di catatan: “Cari variabel selain iman dan amal saleh.”

Bab IV: Pertanyaan yang Tidak Pernah Terjawab

Di tengah kuliah, Profesor menulis di papan, ‘Apa perbedaan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian tafsir?’

Mahasiswa D dengan percaya diri menjawab, “Kalau kuantitatif, ayatnya dihitung, Prof. Misalnya berapa kali kata ‘adl muncul di Al-Qur’an.”

Profesor mengangguk sambil menahan tawa, “Lalu kualitatif?”

Mahasiswa menjawab cepat, “Kalau kualitatif, ayatnya direnungi, Prof.”

Kelas meledak lagi. Profesor menulis di papan besar, “RENUNGAN ≠ METODE PENELITIAN”

Bab V: Fenomena Plagiarisme Spiritual

Menjelang akhir semester, mahasiswa harus menyusun proposal penelitian.
Salah satu mahasiswa, E, dengan bangga mempresentasikan judulnya, “Analisis Epistemologi Ilmu Ladunni dalam Perspektif Hermeneutik Fazlur Rahman.”

Profesor terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, “Kamu yakin bisa menganalisis ilmu ladunni pakai teori hermeneutik?”

Mahasiswa E menjawab mantap, “Insya Allah, Prof. Saya akan menggabungkan pendekatan empiris dan ilham.”

Profesor tertawa keras sambil berkata, “Kalau begitu, kamu tidak perlu SPSS, cukup istikharah!”

Seluruh kelas terbahak, sambil mencatat: Catatan penting: Ilham bukan teknik pengumpulan data.

Bab VI: Kesimpulan yang Tak Pernah Final

Menjelang akhir semester, dosen bertanya kepada seluruh kelas, “Sekarang, siapa yang sudah tahu metodologi apa yang akan digunakan dalam tesisnya?”

Mahasiswa serempak menjawab, “Masih dalam tahap pra-tafsir metodologis, Prof!”

Profesor hanya menghela napas sambil tersenyum, “Baiklah. Yang penting kalian sadar bahwa kebingungan itu tahap pertama dari pencerahan ilmiah.

Epilog

Setelah kelas berakhir, para mahasiswa berkumpul di kantin sambil ngopi.

Salah satu dari mereka berkata, “Metodologi itu seperti jodoh ya. Dikenalkan sejak semester satu, tapi baru benar-benar paham setelah bertahun-tahun berjuang.”

Yang lain menimpali, “Iya, dan kalau salah pilih metodologi, hasil penelitian bisa gagal — kayak salah pilih pasangan.”

Kelas S2 pun tertawa lagi. Dan hari itu, mereka sadar bahwa metodologi penelitian bukan cuma ilmu — tapi juga ujian kesabaran, keimanan, dan ketekunan.

Pesan Moral dari cerita ini adalah: (1) Jangan takut bingung — bahkan para profesor pun pernah bingung soal metodologi. (2) Dalam penelitian Islam, kadang doa lebih cepat turun daripada inspirasi variabel. (3) Satu hal pasti: humor adalah bagian dari metodologi bertahan hidup di pascasarjana. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT