BerandaAkademiaBenarkah Peradaban Barat Segera Berakhir?

Benarkah Peradaban Barat Segera Berakhir?

Oleh: Dr. Adian Husaini

PALONTARAQ.ID – Selepas serangan terhadap Irak tahun 2003, Thomas L. Friedman, menulis satu kolom di International Herald Tribune (3 November 2003), dengan judul “ Is this the end of the West ?”

Ketika itu, dunia Barat memang telah pecah. AS dan Eropa, khususnya Jerman dan Perancis, telah berbeda dalam banyak hal prinsip. Carld Bildt, mantan PM Swedia, menyatakan, bahwa selama satu generasi, Amerika dan Eropa bersepakat dalam hal (tahun): 1945. Selama puluhan tahun, Aliansi Atlantik Utara membangun komitmen bersama untuk menciptakan pemerintahan demokratis, pasar bebas, dan menangkal pengaruh komunisme Uni Soviet .

Namun, kini, semua itu sudah berubah. Bagi Eropa, tahun penting adalah 1989 (keruntuhan Soviet), sedang bagi AS adalah 2001 (Tragedi WTC). Eropa dan AS juga gagal membangun visi bersama dalam menghadapi isu-isu global. “ Kami juga telah gagal mengembangkan visi bersama ke mana kami ingin pergi pada isu-isu global yang menghadang kami ,” kata Bildt.

Fenomena ini telah membuat AS resah. Tulisan Menlu AS, ketika itu, Colin Powell di Kompas (29-30 Januari 2004), menunjukkan nada keresahan itu, meskipun, dikemas dengan nada optimis. Kata Powell: “Kemitraan transatlantik yang didasarkan pada kepentingan bersama dan nilai-nilai kuat tak mungkin dilemahkan oleh kepribadian yang bermusuhan maupun perbedaan persepsi.”

Upaya untuk menyatukan Barat pernah dicoba oleh Presiden George W. Bush saat menggelorakan Perang Salib (Crusade) melawan terorisme, pasca Tragedi 11 September 2001, sejatinya Bush tidak sedang terpeleset lidah. Sebagai seorang Kristen yang ‘terlahir kembali’ (reborn), Bush sedang mengungkap alam sadarnya, bahwa semangat Crusade kini diperlukan menggalang kekuatan Barat. Berakhirnya Perang Dingin (Cold War), yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, telah mengubah peta dunia. Barat, dengan serangkaian ideologinya, tidak lagi legitimate untuk eksis.

Padahal, menurut penasehat kawakan politik luar negeri AS, Samuel P. Huntington (1996), untuk self-definition dan membangun motivasi, manusia perlu rival dan musuh. (It is human to hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement, opponents in politics).

Maka, konsekuensinya, Barat perlu mencari musuh dan semangat baru, selepas komunisme. Semangat Crusade itulah yang ingin digelorakan oleh Bush. Namun, tidak terlalu sukses. Citra AS di Eropa justru jeblok. Dalam jajak pendapat di Eropa, awal November 2003, AS menduduki posisi keenam sebagai negara yang mengancam perdamaian dunia, setelah sekutu utamanya, Israel, disusul Korea Utara, Iran, Afghanistan dan Irak.

Keterbalahan Barat itu juga terjadi dalam berbagai hal lain. Tahun 2017, AS memindahkan keduataan besarnya di Israel, dari Tel Aviv ke Jerusalem. Lagi-lagi, AS tidak didukung oleh para sekutunya dari Eropa. Bahkan, sebagian besar negara di dunia pun tidak mendukung.

Dalam kondisi keterbelahan seperti itu, Barat membutuhkan ‘faktor pemersatu’ (uniting factor). George W. Bush yang didukung oleh Kristen fundamentalis, mencoba menacari faktor pemersatu dengan menjadikan Islam sebagai musuh bersama. Sejumlah ilmuwan, seperti Bernard Lewis dan Samuel Huntington, merumuskan cara pandangnya, seperti ditulis dalam buku The Clash of Civilizations.

Upaya Bush dan kawan-kawannya pun gagal. Di masa Presiden Joe Biden, PBB justru mengeluarkan resolusi melawan Islamofobia. Awalnya adalah keputusan Majelis Umum PBB pada 15 Maret yang dinyatakan sebagai “Hari Internasional untuk Melawan Islamofobia” (The International Day to Combat Islamofobia). Dalam publikasinya disebutkan, bahwa: “General Assembly calls for strengthened international efforts to foster global dialogue on promotion of culture of tolerance & peace, based on respect for human rights & for diversity of religion &beliefs.”

Islamofobia adalah prasangka, kebencian, serangan dan diskriminasi terhadap Islam. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus Islamofobia itu sendiri semakin meningkat. Umat Islam di berbagai negara Barat, mendapat diskriminasi dan serangan baik secara verbal ataupun fisik. Tetapi, ironisnya, kasus-kasus Islamofobia juga terjadi di berbagai negeri yang mayoritasnya muslim.

***

Dalam menghadapi dunia yang multipolar saat ini, umat Islam perlu merumuskan jalan kebangkitannya sendiri. Islam adalah agama dan peradaban yang adil. Islam tidak menolak apa yang baik dari peradaban lain. Tetapi, Islam memiliki konsep-konsep dasar yang tetap karena berdasar wahyu yang terjaga otentisitasnya.

Dalam berbagai hal, kondisi kaum Muslim kini, serupa dengan kondisi saat Perang Salib berlangsung. Perang ini sendiri memakan waktu yang panjang (1096-1204). Pasukan Salib hanya berhasil menduduki Jerusalem sekitar 87 tahun (1099-1187). Kelemahan aqidah, moral, dan politik umat Islam dipandang sebagai satu problem.

Para ulama, seperti Syekh Ali al-Sulami melihat problem umat secara komprehensif dan mengajukan solusi secara integral. Solusi seperti inilah yang diperlukan umat saat ini. Problem politik, ekonomi, dan militer umat, tidak dipisahkan dari problem pendidikan dan dakwah. Bahkan, al-Sulami menempatkan aspek ini pada tahap awal, sebelum menyelesaikan problem politik dan militer.

Jalan kebangkitan adalah satu sunnatullah. Al-Quran banyak menjelaskan tentang jatuh bangunnya satu kaum atau peradaban (Mis. QS 6:44, 17:16). Dalam kondisi Barat yang melemah, dan PBB yang gagal mewujudkan perdamaian dunia, umat Islam memang dituntut untuk tampil ke depan, menawarkan solusi baru untuk mewujudkan perdamaian dunia. Wallahu A’lam bish-shawab. (Solo, 15 Februari 2023).

 

Dr. Adian Husaini, sumber: www.adianhusaini.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT