Laporan: Etta Adil
PALONTARAQ.ID, MAROS – Upaya mengangkat kawasan karst Leang-Leang Maros ke tingkat internasional terus dilakukan, salah satunya lewat kegiatan Gau Maraja 2025 yang rencannya akan dilaksanakan pada pekan pertama Juli 2025 nanti.
Pemerintah Kabupaten Maros bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX Sulawesi Selatan-Tenggara dan Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (PERWIRA-LPMT) telah menggelar rapat koordinasi persiapan Gau Maraja Leang-Leang Maros 2025 di Kantor Bupati Maros (sebagai kelanjutan dari rapat sebelumnya di Rujab Bupati Maros pekan lalu (1/2).
Festival Gau Maraja’ sebenarnya adalah forum silaturahmi bagi keturunan Raja La Patau Matanna Tikka—Raja Bone XVI, Datu Soppeng XVII, dan Ranreng Tuwa Wajo XVII untuk menguatkan ikatan sejarah serta komitmen bersama dalam merawat tradisi dan menjalin sinergi.
Bupati Maros, Dr. A.S. Chaidir Syam menegaskan bahwa festival Gau Maraja dengan pilihan tempat di Leang-leang Maros ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga langkah strategis dalam mempromosikan Maros sebagai pusat sejarah peradaban manusia. “Maros bukan hanya kaya akan warisan alam, tetapi juga memiliki sejarah panjang peradaban manusia. Melalui Festival Gau Maraja’, kita ingin mengenalkan kembali Maros sebagai pusat kebudayaan dan destinasi wisata sejarah unggulan,” ujarnya.
Dengan mengusung tema “Leang-Leang Maros sebagai Gerbang Peradaban Awal dan Manusia Purba Dunia”, dan slogan “Leang-Leang Goes to World Heritage”, Festival ini diharapkan menjadi pendorong utama menjadikan Leang-Leang Maros sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Ketua Panitia, Marjan Massere, mengungkapkan bahwa festival Gau Maraja nantinya melibatkan banyak elemen masyarakat, termasuk akademisi, budayawan, komunitas masyarakat, lembaga adat dan generasi muda termasuk siswa dan mahasiswa sebagai bagian dari menghadirkan pameran budaya komprehensif, termasuk dalam Pameran Pusaka yang akan menampilkan koleksi bersejarah bernilai budaya tinggi.
Berikut ini Rangkaian Acara Gau Maraja Leang-Leang Maros 2025, “Leang-Leang Art and Cultural Festival” pada 3-5 Juli 2025:
- Pertunjukan Seni Kolosal dan Video Mapping
- Kirab Budaya dan Festival Flora & Fauna
- Festival Kuliner Tradisional
- Pameran Pusaka (bekerja sama dengan SPNI) dan Artefak Prasejarah
- Seni Instalasi dan Pertunjukan Rakyat
- Seminar Internasional: “Bio and Cultural Diversity of Leang-Leang Maros”
- Kajian Akademik dan Publikasi Ilmiah
- Deklarasi dan Rekomendasi UNESCO
- Kampanye Digital: “Leang-Leang Goes to World Heritage”
- Produksi Short Film dan Dokumentasi Edukatif
- Tour Off-Road Geo Park Maros-Pangkep
- Leang-Leang Award: Penghargaan bagi pelestari budaya dan peneliti sejarah
- Pertemuan Akbar Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (PERWIRA-LPMT)
Menurut Ketua Umum PERWIRA.LPMT yang juga Dirut BUMN PT Indah Karya (Persero), A. M. Sapri Pamulu, Ph.D., Kegiatan Festival Gau’ Maraja ini merupakan kolaborasi antar lembaga yaitu Pemkab Maros, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XIX Sulseltra dan PERWIRA LPMT.
“Rangkaian kegiatan disusun untuk menggambarkan kekayaan budaya, sejarah, dan keindahan alam Maros,” ujar Sapri Pamulu. Hal yang sama diungkapkan Kepala BPK XIX Sulseltra yang menekankan pentingnya Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan agar acara tahunan ini dapat berlangsung lancar dan sukses.
Anggota Komisi E DPRD Sulsel, A. M. Irfan AB, menegaskan bahwa Gau Maraja Leang-Leang Maros 2025 harus menjadi momentum besar dalam memperjuangkan Leang-Leang sebagai Warisan Dunia UNESCO. “Kita harus menjadikan ini sebagai momentum untuk memperjuangkan Leang-Leang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Ini bukan hanya kebanggaan Maros, tapi juga kebanggaan Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Akademisi UNHAS, Prof. Muhlis Hadrawi menekankan pentingnya keterlibatan akademisi dalam menggali sejarah peradaban manusia di Maros. “Leang-Leang menyimpan jejak peradaban manusia tertua di dunia. Dengan temuan lukisan prasejarah berusia lebih dari 57.300 tahun dan rangka manusia tertua, Maros adalah bagian penting dalam sejarah global,” ungkapnya. (*)


