Laporan: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, mengucapkan seruan “Viva Zapata!” pada Senin (18/112024), saat menghadiri pertemuan Pemimpin Negara-negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) di sela-sela KTT G20 di Brasil.
Dalam suasana informal dan penuh canda, Prabowo mengusulkan agar pertemuan tingkat tinggi selanjutnya diadakan di Kota Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyambut positif usulan tersebut, dan Prabowo menutup percakapan dengan seruan “Viva Zapata!“, yang disambut senyum lebar dari Sheinbaum dan tepuk tangan dari para pemimpin lainnya.
***
Siapa yang dimaksud Presiden Prabowo dengan menyebut, “Viva Zapata!”. Ya, seruan “Viva Zapata!” merujuk pada Emiliano Zapata, tokoh revolusi Meksiko yang dikenal dengan perjuangannya membela hak petani atas tanah. Ucapan ini mencerminkan semangat solidaritas dan penghormatan terhadap perjuangan rakyat kecil.
Emiliano Zapata lahir pada 8 Agustus 1879 di sebuah desa kecil bernama Anenecuilco, Meksiko. Dari kecil, ia menyaksikan ketidakadilan yang menimpa para petani—orang-orang yang bergantung pada tanah untuk hidup mereka tetapi dipaksa tunduk pada pemilik tanah besar dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak. Pengalaman ini menanamkan dalam dirinya semangat untuk memperjuangkan keadilan sosial dan agraria.
Zapata bukan sekadar pemimpin militer; ia adalah representasi aspirasi rakyat miskin. Dengan motto yang sederhana namun kuat, “Tierra y Libertad” (Tanah dan Kebebasan), ia menyerukan agar hak atas tanah dikembalikan kepada mereka yang mengolahnya. Di bawah kepemimpinannya, Tentara Pembebasan Selatan menjadi kekuatan revolusioner yang tidak hanya bertempur untuk menggulingkan rezim yang korup, tetapi juga untuk membangun sistem yang lebih adil bagi petani.
Perjuangan Zapata menonjol karena ia selalu menempatkan rakyat sebagai pusat tujuan. Ia menolak kompromi yang mengorbankan petani demi politik kekuasaan, berbeda dengan banyak tokoh revolusioner lainnya. Tragisnya, semangatnya berakhir di pengkhianatan—Zapata dibunuh pada 10 April 1919. Namun, gagasan dan perjuangannya tidak mati; ia tetap menjadi simbol abadi perlawanan terhadap penindasan dan perjuangan hak tanah di Meksiko.
Lebih dari sekadar pahlawan militer, Zapata mengajarkan bahwa revolusi sejati lahir dari kebutuhan rakyat biasa, dan bahwa perubahan sosial memerlukan keberanian, konsistensi, dan keberpihakan pada yang lemah. Hingga kini, namanya dikenang sebagai suara yang tak pernah padam bagi petani Meksiko dan simbol global bagi keadilan agraria. (*)


