BerandaArtikelKata Surga itu dari Nusantara, bukan dari Arab

Kata Surga itu dari Nusantara, bukan dari Arab

Oleh: Santo Saba Piliang *)

Related Post: Disinilah Awal Veda

PALONTARAQ.ID – Artikel ini tidak sedang menyebarkan “Faham” suatu ajaran tertentu, Apalagi menistakan atau melecehkan nya..

Perhatikanlah seluruh relief dasar pada bagian dasar Borobudur difoto oleh K Cheppas 1890 kemudian di tutup 1891, Ada 160 panel relief dasar, tidak ada satupun yang memvisualisasikan adanya adegan “Porno”.

Kemudian terpublikasi dengan penamaan “Karmawibhangga” ini menggunakan tafsir dari naskah “Mahakarmawibhangga “, Namun tidak sepenuhnya mengikuti naskah itu, hasil pengamatan Bernet Kempers di tulis dalam bukunya 1970 : 151 & 1976.

Simak apa yang tertera pada relief yang ter/di- “Tutup”, Literasi kata tertera pada figura panel nya adalah:
Virupã
Mãhéçãkhya Vyąsąda,äbhídya,mītthyädrstï
Kųsălă
Sûvãrnăvărnă,ćaityãvãndãnä
Māhojáskásámådhânà,şuşvârâ
Şvarga,bhă….(tdk terbaca)
Şvarga,bhă… (tdk terbaca)
Mãhěs(şă)khyãmădhãnä
Cākrāvārtį
Şvąrggã
Măhē(şä)khyãsãmãvâdhąną,ğhæntä
Çãkrãvãrtï
Şabdåsråvānā
Şvãrggã,bôghį
Prásáditâ,vàstràdãnã
Şvãrggã
Kųsãlädhãrmãbæjănā
Bhőgį
Şvãrggã
Pātākā
Ádyâbhógì
Şvãrggã
…tąná  …tidak terbaca
Şvãrggã
Ćhätrădãnã … mähãnă
Şvãrggã
Şvãrggã,pűspādānā
Şvãrggã
Mąlądhănã,bhõgì,şvãrggä
Ànjálï,vinayadharmakayacitta

Ada 12 kata “Şvãrggã”, bukan tertulis kata ,”Jannah” atau “Nirvana”, ini bukti Borobudur tidak berdasar ajaran yang terlahir dari luar nusantara, sejatinya yang tergambar di sini adalah “Ajaran Asli” Nusantara.

Dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia kata “Svargga” diserap menjadi sawarga (Sunda), suruga (Makassar), sorge (Sasak) sarugo (Minangkabau) dan swarga (Jawa).

Simak kajian teks literasi yang berasal dari kitab kitab leluhur kita :
12 Literasi teks kata “Şvãrggã”, ini bukan dari arab atau india, Literasi teks kata ini membuktikan Bahasa dan ajaran yang mendasarinya adalah asli milik kita bangsa Nusantara Indonesia.

Kata “Svargga” adalah kata asli Nusantara karena tidak memiliki deklinasi berupa bentuk kasus lokatif, yaitu “Svarge” atau “Svargge”.

Penulisan inskripsi ini tidak sesuai dengan tata bahasa “Sansekerta Panini” dan mengenai deklinasi apabila kata tersebut nominatif dengan tambahan contoh pada kasus ‘h’ atau ‘Visarga’ , Berdasar kajian telaah dari Macdonell 1954:371 & Zoetmulder 1995:1169.

Fahami bahwa “Svarggaloka” dalam ajaran asli nusantara, ini adalah dunia ketiga yang penuh dengan sinar cahaya dan kebahagiaan yang menjadi tempat tinggal bagi orang-orang suci.

Dalam lontar “Putru Pasaji” disebutkan terdapat alam para dewa dewi “Svargga Manik”. Dalam sumber kutipan lontar “Geguritan Bhima Svargga”, Svargga Loka ini dipahami merupakan alam suci, kahyangan para Dewa sebagai persinggahan sementara bagi orang-orang yang berjiwa baik.

Dalam kitab kitab leluhur nusantara lainya, terkadang tertulis dengan kata : Suargo, Svârggã, Svãrggãloka, Kâdəwãn, Kâyângân. Teks literasi “Şvãrggã” adalah bahasa asli Nusantara, “Suargo” atau “Svargga”, Svãrggãloka..yang kemudian hari terserap menjadi kata “Surga” literasi ini asli milik bangsa Nusantara, bukan dari arab.

Dalam Eskatologi Islam ,”Akhirah/Akhirat” (الآخرة) dipakai untuk mengistilahkan kehidupan setelah kematian, “Jannah” (جنّة‎‎) adalah konsep “Surga”, Sedangkan arti “Jannah” dalam bahasa Arab adalah “Kebun” tidak di temukan teks literasi kata “Surga” didalam kitab suci, jadi teks literasi ini asli milik bangsa Nusantara, bukan dari arab.

“Jannah” yang menjadi tempat tinggal Adam sebelum diturunkan ke Bumi berbeda dengan surga yang dijanjikan oleh Allah kepada manusia pada hari akhirat. Jannah di akhirat membebaskan manusia dari segala jenis tugas apapun. Selain itu, surga di akhirat terbebas dari godaan setan. Ini berbeda dengan jannah yang menjadi tempat tinggal Adam yang diliputi dengan aspek kehidupan dunia.

Wahyu 21:3, “Surga” atau “Kerajaan Surga” adalah kehidupan kekal yang dijanjikan Yesus kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Istilah “surga” dipakai oleh penulis Alkitab menunjuk pada tempat yang kudus di mana Allah saat ini berada. Kehidupan kekal, ciptaan yang sempurna, tempat di mana Allah menghendaki untuk tinggal secara permanen dengan umat-Nya.

Reruntuhan kuil Ekur di Nippur, yang diyakini oleh orang Mesopotamia kuno sebagai “Dur-an-ki”, “tali penambat” surga dan bumi.

Di dalam “Weda”  dikatakan bahwa “Swarga” adalah “Dunia ketiga” yang penuh sinar dan cahaya yg merupakan tempat tinggal para Dewa diistilahkan “Swarga Loka”

Bhagawad Gita mengatakan :”Swarga” merupakan persinggahan sementara ”Setelah menikmati Swarga yang luas, mereka kembali ke dunia”, Swarga sebagai tempat kesenangan sementara, sedangkan kebahagiaan yang sejati adalah bersatunya “Atman”/Jiwa dengan “Brahman” Sang Pencipta.

Perhatikan “Weda” di sini bukan Weda yang berasal dari india, seluruh tulisan suci terdahulu di Nusantara itu di sebut weda dan Weda yang dari india pun di masa terdahulu yang menulis adalah leluhur kita Bangsa Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka

Leluhur kita di India ada sejak 3.102 SM sampai 1.300 SM yang kemudian menulis Veda di daratan india saat itu.

Bangsa Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka
mulai menulis kitab-kitab suci Weda di india, Kitab suci ini dituliskan dalam 4 bagian seperti Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda.

“Moksartham jagahita ya ca iti dharma” yang artinya “Dharma” bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani”, ini palsafah dasar utama leluhur Indonesia terdahulu, di tandai dengan literasi kata di relief dasar Borobudur Panil No.138 Pada bingkainya tertera tulisan :

“Kusaladharmabajana” & “Vinayadharmakayacitta”

Sekali lagi “Dharma” ini bukan dan tidak berasal dari india, inilah ajaran asli nusantara yang di bawa leluhur kita menjadi cikal bakal lahirnya 3 ajaran disana, dan leluhur kita adalah bangsa Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka

Bangsa yang membawa ajarannya dan menulis “Veda” di india adalah bangsa Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka tertera di relief panel dasar no 43 dengan teks literasi kata : Mãhéçãkhya.

Di india “Veda” pada masa dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas terjadi munculnya penafsiran berbeda beda terhadap kitab “Veda awal” yang melahirkan, Aranyaka dan upanizad.

Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda, yaitu Buddhism, Jainism, Hinduism yaitu :

Pada tahun 563–483 SM, Lahir Sidharta Gautama tokoh “Buddhism”

Pada tahun 549–477 SM, Lahir Mahavira tokoh “Jainsm”

Pada abad 9 M, Era Inggris di india lahir agama yang tidak berasal dari seorang pendiri atau satu titik waktu sebagaimana agama lain untuk membedakan tidak keduanya terdahulu juga tidak Islam, di saat ini “Hindu” + “isme” secara formil ada 1830 di india.

Yang Mulia Siddartha Gautama, menjelaskan “Buddhisme” sebagai sebuah rakit yang, setelah mengapung di atas sungai, akan memperbolehkan sang penumpangnya untuk mencapai “Nirwana/Nibbana” adalah kebahagiaan tertinggi.

Kebahagiaan “Nibbana” tidak dapat dialami dengan memanjakan indera, melainkan dengan menenangkannya, ‘Nibbana” bukanlah suatu tempat, “Nibbana” bukanlah suatu ketiadaan atau kepunahan “Nibbana” bukanlah suatu “Surga” atau “Svargga”.

Bangunan megah yang tertera kata “Svargga” ini berlokasi di javadvipa bernama asli Vhwănā Çhaķâ Phalā kini terpublikasi menjadi “Borobudur”…oleh “Casparis” yang menganggap di bangun pada abad 8 Masehi atas dasar “Perkiraan” saja.

Terlabeling berdasar salah satu ajaran yang terlahir di india sejak negara mengizinkan mengadakan upacara “Tri Suci Waisak” secara nasional di Borobudur pada 22 Mei 1953. (*)

 

(* Santo Saba Piliang, Exploration & Research – INDONËSIARYĀ, True Back History of Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT