BerandaArtikelSunnah dalam Islam (1): Sunnah Qauliyah

Sunnah dalam Islam (1): Sunnah Qauliyah

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Syarat Hadits Shahih dan Sanad Paling Shahih

PALONTARAQ.ID – Kata “Sunnah” adalah kata masyhur dan digunakan meluas dalam khazanah keilmuan Islam yang menunjuk kepada teladan dan otoritas Nabi. Merujuk buku Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam oleh Musahadi Ham, kata sunnah berakar dari huruf sin dan nun yang berarti mengalir atau berlalunya dengan sangat mudah. Sedangkan secara etimologis, sunnah berarti jalan atau tata cara yang telah mentradisi.

Kata sunnah bentuk jamaknya adalah sunan dan digunakan enam belas kali di dalam Al-Qur’an untuk arti jalan atau aturan yang telah mapan, hukum atau garis tingkah laku, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sunnah adalah perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dilaksanakan tidak berdosa.

Sunnah juga bisa diartikan sebagai aturan agama Islam yang berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad SAW, mulai dari: Sunnah Qauliyah (Ucapan atau Perkataan Nabi SAW), Sunnah Fi’liyah (Perbuatan Nabi SAW), Sunnah Taqririyah (Sikap Diam atau Kebiasaan Nabi SAW).

Sunnah menurut istilah ahli fiqih (fuqaha’) ialah segala sesuatu yang sudah tetap dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukumnya tidak fardhu dan tidak wajib, yakni hukumnya sunnah. (Sumber: Kitab Irsyaadul Fuhuul asy-Syaukani (hal. 32), Fat-hul Baari (XIII/245-246), Mafhuum Ahlis Sunnah wal Jama’ah ‘inda Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 37-43).

Sunnah menurut istilah ulama ushul fiqih ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain dari Al-Qur-an, baik perbuatan, perkataan, taqrir (penetapan) yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar’i.

Sunnah Qauliyah

Sunnah Qauliyah diartikan sebagai seluruh perkataan Nabi Muhammad SAW yang didengar oleh keluarga, sahabat dan diteruskan (diriwayatkan, menurut Ilmu Hadits) oleh para tabi’in.

Contoh Hadits qauli (Sunnah dalam bentuk ucapan):

  1. Rasulullah SAW bersabda:

 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

 

Artinya:

“Di antara kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” [HR. At-Tirmidzi (no. 2317), Ibnu Majah (no. 3976), Ibnu Hibban (Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban no. 229), hadits ini hasan.

2. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِر

فَلْيُكْرمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

(متفق عليه عن أبي هريرة )

Artinya:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berbicara yang baik-baik atau diam.” (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah).

Demikianlah pengertian dan contoh Sunnah Qauliyyah. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT