Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Kesuksesan dalam pelayanan museum, bukan hanya ditentukan oleh pemandu museum itu sendiri, tetapi sangat bergantung pada koordinasi dan sinergitas semua unsur yang terlibat dan bertanggung jawab terhadap fungsi museum.
Pemandu museum merupakan garda terdepan dalam pelayanan, sehingga peran pemandu sebagai pelayanan utama dalam museum itu sangat vital. Untuk itu seorang pemandu wajib memahami etika dan teknik dalam pelayanan museum.
Terkait etika, beberapa hal yang wajib diperhatikan dan diterapkan dalam pelayanan kepemanduan museum adalah:
1. Sopan dalam BerbicaraÂ
- Tidak berbicara kasar, menyinggung perasaan pengunjung
- Tidak berbicara kotor atau merendahkan
- Tidak menjawab dengan kata “Ok”, sebaiknya diganti dengan ucapan “Baiklah”.
- Tidak memotong pembicaraan atau pertanyaan pengunjung
- Selalu memohon maaf kepada pengunjung apabila salah berbicara
2. Sopan dalam Perilaku
- Tidak membelakangi tamu/pengunjung
- Tidak memasukkan tangan ke dalam saku celana
- Harus permisi apabila melewati depan tamu/pengunjung
- Menunjuk sesuatu dengan tangan kanan
- Selalu menghormati dan menjaga perasaan tamu/pengunjung
3. Rapi dalam BerpakaianÂ
- Memasukkan baju
- Menggunakan sepatu
- Tidak menggunakan topi dalam ruangan
- Memakai kaos berkerah atau baju kemeja yang rapi, bersih dan wangi
- Tidak menggunakan masker
- Menggunakan batik lengan panjang dalam pelayanan tamu khusus.
4. Menarik dalam PenampilanÂ
- Selalu ceria dan menerapkan 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun) terhadap tamu/pengunjung
- Tidak cemberut di depan tamu/pengunjung
- Selalu menggunakan parfum (wangi) dan tidak bau keringat
- Selalu siap sedia permen mint, agar tidak bau mulut.
- Selalu energik, cekatan
- Menggunakan ID Card
Demikianlah beberapa hal terkait etika yang perlu diperhatikan dan wajib dipraktekkan dalam pelayanan kepemanduan museum.
Semoga bermanfaat adanya. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pemandu Museum/Ketua DPD Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) Provinsi Sulawesi Tengah.


