Oleh: Irsyad Syafar
PALONTARAQ.ID – Imam Adz Dzahabi menukilkan dalam bukunya Siyar A’lam An Nubala tentang bait-bait puisi yang dikirim oleh Imam Abdullah bin Mubarak dari medan jihad, kepada Imam Fudhail bin ‘Iyadh yang mengajar di Makkah dan Madinah. Ini beberapa penggalan puisinya:
يا عابدَ الحَرَمينِ لوْ أبصرْتَنا
لَعلمْتَ أنّك في العبادةِ تَلْعبُ
مَنْ كان يَخْضِبُ خدَّهُ بدموعِهِ
فَنُحُورُنا بِدِمَائِنا تَتَخَضَّبُ
أو كان يُتْعِبُ خيلَهُ في باطلٍ
فخيولُنا يومَ الصَّبِيْحَةِ تَتْعبُ
رِيْحُ العَبِيْرِ لكمْ ونحنُ عبيرُنا
رَهْجُ السَّنابكِ والغبارُ الأطْيبُ
Artinya:
Wahai yang beribadah di dua Masjid yang suci, kalau engkau lihat kami
Niscaya engkau akan tahu, bahwa engkau dalam beribadah itu hanyalah main-main saja.
(Engkau) yang pipinya basah berurai air mata
Sedangkan punggung kami basah bersimbah darah.
Atau (engkau) yang tunggangannya letih dalam hal yang batil
Adapun kuda-kuda kami, letih di pagi hari pertempuran.
Aroma minyak wangi adalah milik kalian.
Adapun parfum kami adalah keringat kuda dan debu-debu yang suci.
* * *
Abdullah bin Mubarak adalah seorang ulama besar, faqih, muhaddits, zuhud dan rajin berjihad di jalan Allah. Beliau berguru langsung kepada Tabiin dan Ulama besar abad kedua Hijriyah, semisal Abu Hanifah, Al Auza’i, Sofyan Ats Tsauri dan Malik bin Anas.
Sedangkan Fudhail bin ‘Iyadh, juga seorang Ulama besar abad kedua. Beliau berguru kepada Al A’masy, Ats Tsauri, Ja’far Ash Shadiq dan lain-lain. Beliau adalah guru dan ulama hadits di Makkah dan Madinah. Sehingga digelar dengan imam Al Haramain. Beliau lebih tua 10 tahun dari Abdullah bin Mubarak, sekaligus guru baginya.
Puisi yang dikirim oleh Abdullah bin Mubarak ini bukan bermaksud mencela Fudhail bin Iyadh atau merendahkan ibadahnya di Makkah dan Madinah. Sama sekali tidak. Apalagi Fudhail itu guru beliau sendiri. Tidak mungkin Abdullah bin Mubarak yang terkenal dengal ilmu dan akhlaknya akan melakukan hal itu.
Ini hanyalah semacam “surat cinta” kepada sang guru yang menggambarkan bahwa medan jihad itu memang sangat luar biasa. Secara kemuliaan, tentulah jihad itu lebih tinggi dibanding mejelis ilmu di tanah suci sekalipun. Puisi itu juga mengandung nasehat kepada saudara seiman agar menyadari ketinggian orang yang berjihad di jalan Allah.
Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadh membalas puisi itu dengan menuliskan sebuah hadits untuk disampaikan kepada Abdullah bin Mubarak:
جاءَ رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقالَ: يا رسولَ اللهِ علِّمْنِي عملًا يعدِلُ الجهادَ
قالَ لا أجِدُهُ قالَ هل تستطيعُ إذا خرجَ المجاهدُ أن تدخُلَ مسجدًا فتقومَ لا تَفْتُرُ
وتصومَ لا تُفْطِرُ قال لا أستطيعُ قال قال أبو هُرَيرَةَ إن فَرَسَ المجاهدِ يستَنُّ فِي طُولِهِ فيكْتُب له حسناتٌ
Artinya:
“Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ajarkan saya satu amalan yang menyamai jihad?” Rasulullah menjawab: “Tidak ada.” Rasulullah berkata lagi: “Apakah engkau sanggup, bila seorang mujahid sudah pergi (berjihad), lalu engkau masuk ke masjid, dan shalat terus tak pernah berhenti, lalu engkau puasa terus tidak pernah berbuka?” Lelaki itu menjawab, “Saya tidak sanggup.” Abu Hurairah mengomentari: “Sesungguhnya kuda seorang mujahid yang dikekang talinya untuk perjuangan, itu dituliskan baginya berbagai kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini senada dan semakna dengan hadits lain riwayat Shahabat Abu Hurairah ra, dimana ia berkata:
قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟
:قَالَ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». قَالَ : فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا . كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ
لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ . وَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ . لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى .
Artinya:
Dikatakan kepada Nabi Saw: “Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah? Nabi Saw berkata: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Para shahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Kemudian Nabi Saw bersabda pada kali yang ketiga: “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, shalat, dan khusyu’ dengan (membaca) ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali.” (HR Muslim).
* * *
Masih banyak lagi ayat dan hadits shahih lain yang menempatkan jihad di jalan Allah menjadi yang lebih mulia dari berbagai ibadah lainnya. Karena itu tidaklah pantas dan tidak layak kalau ada yang “nyinyirin” orang yang sedang berjihad dengan jiwa dan hartanya untuk menjaga dirinya, keluarganya, kehormatannya, bahkan tanah suci Palestina. Apalagi sampai menuduh dengan berbagai fitnah dan syubuhat.
Kalau anda memang pakar di majelis-majelis ilmu, tapi anda belum pernah turun ke medan jihad, atau minimal belum pernah hidup sehari-hari bersama para Mujahid, maka sebaiknya tahan mulut dan jari anda. Para pejuang (ahlu tsughur) lebih pakar tentang perjuangannya dari pada anda yang hanya fasih di atas mimbar.
Hadaanallah waiyyaakum ajma’in. (*)


