Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Usai Terima Rekor MURI, Fadli Zon: Indonesia Harus Menulis Ulang Sejarahnya
PALONTARAQ.ID – Apa itu Historiografi? Secara sederhana, Historiografi adalah studi tentang bagaimana sejarah ditulis. Lebih dari sekadar penulisan kronologis peristiwa masa lampau, historiografi merupakan disiplin ilmu yang mengkaji metode, pendekatan, dan interpretasi para sejarawan dalam merekonstruksi dan menarasikan masa lalu.
Historiografi dapat dikatakan “sejarah dari penulisan sejarah” itu sendiri. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, historia yang berarti sejarah dan graphein yang berarti menulis. Secara harfiah, historiografi adalah tulisan sejarah. Namun, dalam perkembangannya, makna ini meluas menjadi sebuah kajian kritis terhadap Karya-karya sejarah.
Sejarawan terkemuka Indonesia, Kuntowijoyo, historiografi adalah tahap terakhir dalam metodologi penelitian sejarah, dimana seorang sejarawan menuliskan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah catatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, akademisi Louis Gottschalk mendefinisikannya sebagai bentuk publikasi, baik lisan maupun tulisan, mengenai peristiwa atau kombinasi peristiwa di masa lampau.
Intinya, ketika kita mempelajari historiografi, kita tidak hanya melihat “apa” yang terjadi di masa lalu, tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa” peristiwa tersebut ditulis dengan cara tertentu. Ini melibatkan analisis terhadap:
Pertama, Sudut Pandang Sejarawan. Menyangkut Latar belakang, ideologi, dan tujuan sejarawan dapat mempengaruhi cara mereka menafsirkan dan menyajikan fakta sejarah.
Kedua, Ketersediaan Sumber. Hal ini menyangkut jenis dan kelengkapan sumber sejarah yang tersedia pada suatu masa akan membentuk narasi yang dihasilkan.
Ketiga, Konteks Zaman. Misalnya, terkait Iklim politik, sosial, dan budaya di mana seorang sejarawan hidup turut memengaruhi karya mereka.
Keempat, Metodologi. Hal ini menyangkut Metode penelitian yang digunakan, dari kritik sumber hingga analisis data, akan menentukan kualitas dan sifat karya sejarah.
Perkembangan Historiografi di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan historiografi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa babak utama, yang masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri:
Historiografi Tradisional
Corak penulisan sejarah ini berkembang pada masa kerajaan Hindu-Buddha dan Islam. Ciri utamanya adalah bersifat istana-sentris, artinya fokus pada kehidupan raja, keluarga kerajaan, dan peristiwa-peristiwa penting di lingkungan keraton.
Karya-karya seperti “Babad Tanah Jawi” atau “Nagarakretagama” sering kali mengandung unsur mitos, legenda, dan genealogis yang bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan penguasa. Aspek supranatural dan kosmologis sering kali lebih dominan daripada analisis kausalitas yang rasional.
Historiografi Kolonial
Seiring dengan datangnya bangsa Eropa, muncul corak penulisan sejarah yang berfokus pada aktivitas bangsa Belanda (Eropa) di Hindia Belanda. Historiografi ini bersifat Eropasentris atau Neerlando-sentris, di mana Orang-orang Eropa digambarkan sebagai tokoh utama yang aktif dan progresif, sementara pribumi sering kali hanya menjadi objek atau figuran dalam narasi besar kolonialisme.
Penekanan Historiografi Kolonial adalah pada sejarah politik, ekonomi, dan militer dari sudut pandang penguasa kolonial.
Historiografi Nasional
Sebagai reaksi terhadap historiografi kolonial, setelah kemerdekaan Indonesia muncul semangat untuk menulis sejarah dari perspektif bangsa sendiri. Historiografi nasional bersifat Indonesia-sentris, menempatkan bangsa Indonesia sebagai subjek utama dalam sejarahnya.
Tujuannya adalah untuk membangun identitas dan karakter bangsa (nation building), menyoroti perjuangan pergerakan nasional, dan membangkitkan rasa kebanggaan nasional. Tokoh-tokoh pahlawan nasional dan narasi perjuangan kemerdekaan menjadi tema sentral.
Historiografi Modern
Seiring perkembangan dan kemajuan Ilmu-ilmu sosial, historiografi modern mulai menerapkan pendekatan multidimensional. Tidak lagi hanya berfokus pada sejarah politik “orang-orang besar”, corak ini mulai melirik sejarah sosial, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah masyarakat dari lapisan bawah (history from below).
Metodologi penelitian sejarah menjadi lebih kritis dan ilmiah, dengan penggunaan teori-teori ilmu sosial untuk menganalisis peristiwa masa lalu secara lebih mendalam dan objektif.
Dengan memahami historiografi, masyarakat dapat membaca karya sejarah secara lebih kritis. Hal ini membantu pembaca tidak hanya menerima narasi sejarah sebagai satu-satunya kebenaran, tetapi juga untuk mempertanyakan siapa yang menulisnya, untuk tujuan apa, dan berdasarkan bukti apa.
Pada akhirnya, historiografi mengajarkan bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan fakta yang statis, melainkan sebuah interpretasi yang terus-menerus berkembang dan diperdebatkan. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis Buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep”, Biografi Perjuangan Andi Burhanuddin dan Andi Mappe-Kapten Harimau Indonesia.


