Laporan: Etta Adil
Related Post: Menikmati Wisata Alam “Bantimurung”
PALONTARAQ.ID – Penulis mengenal Bantimurung sejak masih duduk di Bangku Sekolah Dasar (SD) karena liburan akhir sekolah (dalam Tahun 1988) dilaksanakan di Kawasan Wisata Alam yang terkenal dengan air terjunnya ini, berada dalam lingkup wilayah Kabupaten Maros, kabupaten tetangga dengan Pangkep.
Setelah sekian lama tak mengunjungi Bantimurung—Tiga kunjungan terakhir, yaitu dalam Tahun 1994 (Tamat SMA), Tahun 1997 (masa kuliah di AKL Depkes Ujungpandang), Tahun 2012 (rekreasi selepas KKN STAI DDI Pangkep)—selalu ada kerinduan untuk ‘ajjene-jene’, tak hanya sekadar membanting kemurungan di Bantimurung, tapi lebih dari itu menikmati alam, kehidupan sosial, dan sejarahnya.


Banyak yang berubah dari penampilan kawasan Bantimurung, begitu juga tambahan fasilitasnya, tapi sulit untuk mengatakan bahwa kini Bantimurung tak tampak lebih cantik dari sejak pertama kali mengenalnya. Entah mengapa? Mungkin banyak destinasi baru di tempat lain memoles diri lebih seronok hingga diakrabi oleh kalangan milenial.
Saat kembali menyambangi Bantimurung, Kamis lalu (23/6/2022), penulis miris menyaksikan bahwa dalam kenyataannya masih banyak Orang Bantimurung mengemis hidup di Bantimurung. Sebagai pribumi, “tuan tanah”, harusnya bisa sedikit mendongakkan dagu dengan kehidupan yang lebih layak, karena tanah, gunung, air, dan hasil buminya menyajikan pesona destinasi wisata bagi pendatang, dan tentu saja menambah pundi PAD bagi pemerintah daerah di sektor pariwisata.

Jejak prasejarah dan tapak kehidupan purba sangat kental di kawasan Bantimurung-Bulusaraung ini, sebut saja misalnya Kawasan Prasejarah Leang-leang, Pattunuang, Leang Puteh, Kawasan Satwa Karaengta, Pegunungan Bulusaraung, serta Permandian Alam Leang Lonrong. Belum lagi, Kawasan Bantimurung menjadi lokasi utama “Kingdom of Butterfly”, tempat tinggal fauna khas kupu-kupu beragam jenis.
Kemana penataan ekonomi kreatif bagi orang tempatan? Disana, ada jeritan budaya dalam irama gambus terpaksa harus ngameng di pinggir jalan. Pelaku kesenian tradisional yang penuh kearifan lokal terpaksa terseok-seok menadah tangan hanya untuk menjumput seribu-dua ribu rupiah, atau bahkan recehan dari pendatang yang menikmati keindahan tanah leluhurnya.


Harusnya orang tempatan mendapatkan prioritas utama menjadi bagian dari komunitas ekowisata, menjadi pengelola wisata di tanah airnya, dan seterusnya dapat dibuatkan paket ekowisata, karena ada banyak pesona alam di sekitarnya, serta dengan beragam cerita sejarah dan prasejarah didalamnya, dimana banyak orang, keluarga atau leluhur yang ingin dilekatkan namanya bersamaan cerita daerah itu.
Penulis cukup mengakrabi Sejarah Daerah Maros, terlebih sejak menuntaskan buku Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros. Sejak itu pula, penulis berusaha mengakrabi narasi sejarah tentang “Toddo Limayya ri Marusu”. Bantimurung seharusnya dipandang sebagai salah satu bagian dari narasi sejarah dan budaya dalam lingkup wilayah Toddo Limayya ri Marusu, khususnya Kekaraengan Simbang, termasuk didalamnya kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan.


Ya, Bantimurung, bukan hanya sekadar bagian dari narasi sejarah. Iya, harusnya tantangan pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal yang telah diturunkan dan dijaga sejak awal oleh Karaenga ri Simbang, Marusu’. Menjaga gunungnya, airnya, serta flora dan fauna yang ada didalamnya, apalagi di kekinian dinyatakan sebagai bagian tak terpisahkan dari Kawasan Geopark, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Disisi lain, Bantimurung juga adalah tempat mencari penghidupan dan menyambung kehidupan bagi sebagian orang yang memilih hidup berdampingan dengan lingkungannya. Jaga juga mereka dari terusir karena tak mampu lagi menghidupi diri dari berjualan nasi kuning, telur asin, kacang rebus, jagung bakar, kareppe’, atau sekadar mengawetkan kupu-kupu yang tak mampu lagi terbang menebar pesonanya diantara semak belukar dan pepohonan dalam bentangan pegunungan karts Bantimurung.

Yuk, ke Bantimurung, tak hanya sekadar membanting kemurungan, tapi juga menjaga alam, budaya, sejarah dan kehidupan yang ada didalamnya. Karena itu, seharusnya dalam Bantimurung tak hanya menjadi laboratorium alam, tapi juga merawat narasi sejarah budaya didalamnya, dalam suatu perpustakaan dan museum dalam kawasan sejuk tersebut. (*)
(* Etta Adil, Pemerhati Budaya dan Penikmat Ekowisata.
Lihat pula: Legenda Tobarani dari Tanralili: Karaeng Tallua ri Marusu



