Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat
PALONTARAQ.ID – Suatu ketika, Hari raya tinggal menghitung hari, Hasan dan Husein bersedih karena mereka belum memiliki pakaian baru menjelang hari raya.
Rumah tangga sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak seperti sahabat-sahabat yang lain. Mereka termasuk barisan keluarga yang miskin kala itu, sekalipun mereka keluarga Rasulullah ﷺ
Kesedihan Hasan dan Husen bertambah ketika melihat teman-teman seusia mereka di seluruh penjuru Madinah sudah memiliki pakaian baru untuk menyambut hari raya.
Mereka pun tak tahan lagi untuk menahan kesedihannya hingga mereka pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai, Ibu….! Anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian hari raya kecuali kami, mengapa ibu tidak menghiasi kami…?,” kata Hasan dan Husein.
Fatimah pun hanya mampu menjawab, “Sesungguhnya pakaian kalian masih di tukang jahit…” katanya.
Inilah Jawaban yang selalu diberikan Fatimah setiap hari ketika Hasan dan Husein kembali bertanya. Hingga malam hari raya pun tiba, Hasan dan Husein masih bertanya tentang pakaian baru mereka.
Fatimah pun menangis, sebab sebenarnya ia tak punya uang untuk membelikan pakaian baru bagi mereka. Tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu rumah. Kemudian Fatimah bertanya, “Siapa…?”.
Orang itu menjawab, “Yaa putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu”. Fatimah pun membukakan pintu dan tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah dan diberikan ke Fatimah.
Fatimah kemudian membuka isi bungkusan tersebut. Ternyata isinya adalah sepasang gamis, celana, mantel, surban, dan sepatu hitam yang sangat bagus. Kemudian ia membangunkan Hasan dan Husein yang sedang tertidur. Setelah bangun ia pakaikan hadiah tersebut pada mereka.
Betapa senangnya kedua cucu kesayangan Rasulullah ﷺ itu tatkala keinginan mereka terpenuhi. Tapi Fatimah masih penasaran, siapakah tukang jahit itu, tiba-tiba datang dan memberi hadiah..?
Kisah yang memilukan ini di riwayatkan oleh Ibnu Syahr Asyub dari Ar-Ridha dan dinukil oleh Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitabnya Al-Amal
Kemudian Rasulullah datang, dan melihat kedua cucunya yang sudah rapi mengenakan pakaian baru yang indah. Dengan senang Beliau SAW menggendong keduanya, dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Lalu Rasulullah bertanya kepada Sayyidah Fathimah, “Apakah engkau melihat sang tukang jahit tersebut…?”
Sayyidah Fathimah menjawab, “Iya, aku melihatnya.”
Lalu Rasulullah SAW menjelaskan. “Duhai putriku. Dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan sang penjaga Surga.”
Para penghuni langit dan bumi bersedih jika kedua cucu Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersedih, malaikat pun bersedih.
Di riwayat lain, Hasan dan Husein menolak baju lebaran yang berwarna putih. Hasan meminta warna hijau dan Hussein meminta warna merah. Malaikat mendengar penolakan kedua cucu Rasulullah tersebut, tidak lama kemudian malaikat menyiram air kedalam peti yang berisi baju.
Rasulullah menanyakan kepada Jibril: mengapa cucuku meminta baju warna hijau dan merah? Jibril menjawab, “Ya Rasul Allah kedua cucu mu, Hasan akan syahid akibat diracun sehingga sekujur tubuhnya berwarna hijau. Sedangkan Hussein syahid karena di bunuh dengan berlumuran darah.
Dalam kisah yang ditulis Syeikh Ali bin Hasan dan Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Berpuasa dan Berhari Raya, disebutkan bahwa suatu saat Nabi Muhammad ﷺ menolak membeli jubah yang ditawarkan kepadanya.
Diriwayatkan Bukhari Muslim, Ibnu Umar mengisahkan: Umar ra pernah mendapatkan jubah sutera tebal yang dijual di pasar. Kemudian, ia membawanya ke hadapan Rasulullah ﷺ seraya berucap, ‘Wahai Rasulullah belilah jubah ini dan pergunakanlah untuk berhias diri pada hari raya dan ketika menyambut kedatangan delegasi’.”
Rasulullah ﷺ menolak tawaran itu. “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian (di akhirat)”
Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dan al-Baihaqi dengan shahih kepada Ibnu Umar biasanya Nabi Muhammad ﷺ mengenakan pakaian terbaik ketika Idul Fitri dan Idul Adha.
Di dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/144), Ibnul Qayyim mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ biasa berangkat (ke tanah lapang) pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang paling bagus.
“Beliau ﷺ memiliki satu hullah yang biasa dikenakan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari Jumat. Sesekali beliau memakai dua burdah (kain bermotif) hijau, terkadang memakai burdah yang bukan berwarna merah.”
Catatan :
HULLAH: Selimutnya terbuat dari tenunan negeri Oman, panjangnya empat hasta dan sejengkal, lebarnya dua hasta sejengkal.
ﻭﻟﺒﺲ ﺣُﻠﺔ ﺣﻤﺮﺍﺀ
Beliau mengenakan Hullah yang berwarna merah. Hullah adalah kain penutup badan dan selimut atau pakaian sejenis jubah
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat 🙏
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ
(* Ditulis merujuk kepada sumber: Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Zaadul Ma’aad Ibnul Qayyim.



