Laporan: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – Webinar Internasional seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya kembali digelar Institut Leimena bekerjasama dengan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Kamis (21/4/2022) Pukul 19.30-21.30 WIB. Kali ini mengambil tema Religion, Women, and Cross-Cultural Religious Literacy atau “Agama, Perempuan, dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya”.
Webinar yang didukung Templeton Religion Trust menghadirkan pembicara kunci Prof. Dr.Phil. Al Makin, S.Ag., M.A., Rektor UIN Sunan Kalijaga dengan Narasumber: Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., MA (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga), Prof. Katherine Marshall (Vice President, G20 Interfaith Association Senior Fellow, Georgetown University), Dwi Rubiyanti Kholifah (General Secretary, Asian Muslim Action Network), Dr. Chris Seiple (Senior Research Fellow, University of Washington), Pdt. Dr. Mery L.Y. Kolimon (Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor) dengan Moderator Hasna Safarina Rasyidah dari UIN Sunan Kalijaga
Menarik untuk menyimak kajian tentang Keterlibatan dan peran perempuan dalam agama yang pada kenyataannya sangat signifikan, meskipun sejarah agama-agama pada umumnya androsentris. Dalam wacana dan praktek agama yang androsentris pemahaman dan tradisi-tradisi agama dikonstruksi, dikembangkan oleh dan dari perspektif laki-laki, dan oleh karenanya yang menjadi fokus utamanya adalah pengalaman laki-laki (Rohmaniyah, 2014). Konstruksi wajah agama yang androsentris dilahirkan dan melahirkan dominasi maskulin yang sangat kuat sehingga menampilkan potret agama yang patriaki dan seksis.
Konstruk yang patriarki dalam wacana dan sejarah agama menempatkan laki-laki sebagai pusat sejarah, standar norma dan kepentingan, sebaliknya perempuan diposisikan sebagai jenis kelamin yang terpinggirkan. Laki-laki dengan superioritas dan keistimewaannya dipandang sebagai agen yang memiliki otoritas dan kekuasaan untuk memproduksi wacana dan norma keagamaan, sedangkan perempuan sebagai sosok yang dikuasai, diatur dan dikontrol.
Agama atau pemahaman agama pada akhirnya menjadi sexis dan diskriminatif. Artinya, pemahaman agama yang dominan memberikan keistimewaan kepada laki-laki dan pengalaman laki-laki serta menempatkan laki-laki sebagai superior, dan pada saat yang sama menempatkan perempuan bebagai obyek dan menganggapnya sebagai pihak yang inferior (Peach, 2002).
Pemahaman dan praktek agama yang diskriminatif bertentangan dengan semangat agama apapun. Agama diturunkan kepada manusia untuk membimbing setiap penganutnya, baik laki-laki maupun perempuan, mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Agama tidak hanya untuk, tentang dan menjadi kebutuhan laki-laki, tetapi juga perempuan. Agama, Islam misalnya, menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mahkluk yang setara karena pembeda substansial normative antara kedua jenis kelamin adalah kadar takwanya kepada Allah.
Meskipun demikian, pemahaman terhadap teks agama atau kitab suci tidak dapat dilepaskan dari horizon sang penafsir. Pemahaman dipengaruhi latar belakang kehidupan dan bidang keahlian interpreter, konteks dan kondisi obyektif masyarakat, serta episteme yang digunakan. Lingkaran hermeneutis dalam proses interpretasi ini seringkali menyebabkan lahirnya pemahaman yang bias gender. Interpretasi yang bias gender artinya adalah bahwa interpretasi tersebut dipengaruhi oleh konstruksi interpreter tentang pembedaan laki-laki dan perempuan yang bersifat sosial-kultural.
Lembaga Pendidikan, Lembaga agama, keluarga dan Lembaga politik menjadi locus yang penting dalam melanggengkan dan atau merubah konstruksi pemahaman dan praktek agama yang androsentris, patriaki dan seksis. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi dan Institut Leimena memiliki agenda penting untuk berkonstribusi membangun peradaban yang lebih baik.
Isu gender dan diskriminasi sosial dalam ruang agama-agama dan praktek keagamaan menjadi tema penting yang tidak dapat dipisahkan dari Studi Islam dan masyarakat beragama. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya kali ini diselenggarakan untuk turut berpartisipasi membangun masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang lebih egaliter, adil dan memberikan kesempatan pada setiap manusia yang mencapai puncak keberhasilan dan kebahagiaannya.
Webinar ini menjadi penting sebagai upaya untuk sharing knowledge and experiences para tokoh agama, aktivis maupun akademisi tentang relasi Agama, Gender dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Acara ini juga mendesak dalam rangka menemukan rumusan pemikiran dan aksi antar agama yang dapat mendorong Kerjasama yang lebih produktif, efektif dan berkelanjutan demi kemanusian. (*)


