Laporan: Etta Adil
PALONTARAQ.ID, WASHINGTON – Sekitar 550 mahasiswa berjanji menolak pekerjaan atau magang di Amazon dan Google sampai kedua raksasa teknologi informasi itu mengakhiri kontrak dengan pemerintah dan militer Israel. Janji untuk Boikot Amazon dan Google tersebut dibuat dalam bentuk kampanye ‘No Tech for Apartheid’ untuk menekan perusahaan agar berhenti mengambil untung dari apartheid Israel.
Dilansir dari The New Arab, Kamis (7/4/2022), kampanye global itu dijalankan oleh kelompok Jewish Voice for Peace dan MPower Change. Sebelumnya, Amazon dan Google menandatangani perjanjian ‘Project Nimbus’ pada Mei 2021 lalu senilai lebih dari Rp 14 triliun dalam bentuk penyediaan teknologi cloud kepada pemerintah dan militer Israel.
Ratusan mahasiswa internasional di Washingtong berikrar tidak akan mengambil pekerjaan atau magang di Amazon dan Google. Alasannya, selama ini warga Palestina sudah dirugikan oleh pengawasan dan kekerasan Israel. Dengan menyediakan teknologi cloud kepada pemerintah dan militer pendudukan Israel, Amazon dan Google berarti telah ikut membantu apartheid Israel lebih efisien, lebih keras, dan bahkan lebih mematikan bagi warga Palestina.
“Sampai Amazon dan eksekutif Google memilih untuk berada di sisi kanan sejarah dan memutuskan kontrak, kami berjanji untuk tidak mengambil pekerjaan atau magang di Google atau Amazon. Teknologi harus digunakan untuk menyatukan orang, bukan memungkinkan apartheid dan pembersihan etnis,”-Demikian ikrar mereka.
Kampanye tersebut juga menyerukan mahasiswa dari universitas di seluruh dunia yang telah bergabung dengan karyawan Google dan Amazon agar ikut menyuarakan pemutusan hubungan dengan militer Israel. Oktober 2021 lalu, 90 karyawan Google dan 300 karyawan Amazon berbicara menentang kesepakatan itu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh The Guardian.
Awal bulan April 2022 ini, sekitar 500 pekerja Google juga menandatangani petisi yang mendukung karyawan Google yang mengklaim bahwa dia dikeluarkan dari perannya karena memprotes Project Nimbus. Dia menuduh raksasa internet itu membalas secara tidak adil karena aktivitas pro-Palestinanya. (*)


