Oleh: Mahrus Andis
Related Post: Tadarrus Puisi
PALONTARAQ.ID – Saya sering menonton video lomba pembacaan puisi. Para peserta lomba tampil dengan gaya masing-masing. Namun penampilan mereka umumnya satu versi, yaitu; berteriak-teriak.
Lucunya, pembaca senior dan junior pun seirama, yakni; berteriak-teriak. Bahkan ada pembaca puisi yang keluar sebagai juara lantaran ia membaca puisi “Kerawang dan Bekasi”, karya Chaeril Anwar, dengan ekspresi yang berteriak-teriak.
Sepenggal puisi Chaeril Anwar dimaksud berbunyi:
“Kami yang kini
terbaring
antara Kerawang
dan Bekasi
Tidak bisa teriak
merdeka dan
angkat senjata
lagi …”
Nah, ketika mengekspresikan kalimat “teriak merdeka”, pembaca berteriak kencang seperti dalam suasana perang. Padahal penyair Chaeril Anwar sudah bilang “tidak bisa teriak merdeka”.
Yang paling lucu dan, maaf agak memalukan, para Dewan Juri yang menjadikan pembaca puisi tersebut sebagai juara, rupanya juga tidak berbakat menjadi juri lomba.
Ya, mungkin ia berteman dengan Panitia? (baca: ada main bisik-bisik, antara juri dengan panitia hahahaha, maaf ini praduga tak bersalah). Tapi, paling tidak, para Dewan Juri itu sudah terlatih pula membaca puisi dengan gaya berteriak-teriak.
Membaca puisi, sebaiknya biasa-biasa saja. Mungkin bisa berteriak di saat tertentu, dan bisa juga berbisik-bisik atau mendesah di saat yang lain. Irama atau intonasi pembacaan, hanya faktor kesekian saja.
Faktor utama ialah apakah isi puisi itu sampai ke hati pendengar? Jangan-jangan penonton (audiens) terdiam tenang mengikuti pembacaan puisi, bukan karena kagum, melainkan karena sedang berpikir mencari kesempatan untuk segera keluar dari ruangan (baca: ada tenggang rasa kesetiakawanan hahahaha lagi).
Untuk menguasai teknik pembacaan puisi, sebaiknya belajar dulu kepada pemain teater. Teaterawan sangat menguasai manajemen vokal, momentum ekspresi, pengaturan nafas dan tempo, serta pengucapan diksi yang pas.
Pemain teater juga, umumnya, memiliki warna suara yang enak. Karena itu, mulailah berlatih membaca puisi lewat teater. Dan jangan biasakan diri selalu membaca puisi dengan gaya berteriak-teriak; layaknya demonstran di jalan raya. ***
-Makassar, 28 Oktober 2021-
Sumber: DISINI


