Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mengenal Kitab Alfiah Ibnu Malik
PALONTARAQ.ID – Kitab Nahwu dalam bentuk nadhom, “Kitab Alfiah Ibnu Malik” selalu saja menarik diperbincangkan, dibalik penulisannya ternyata menyimpan cerita menarik tentang hubungan guru-murid, tentang adab yang seharusnya tak boleh dilupakan dan dinafikan dalam menuntut ilmu.
Imam Muhammad Ibnu Malik memang dikenal memiliki kadar intelektualitas tinggi. Baru awal mukaddimah saja, sudah menorehkan pertanyaan dan kontroversial di kalangan para ulama Nahwu. Hal ini karena mengawali nadham bait Alfiyyah dengan fiil madhi
#قال محمد هو ابن مالك
Artinya:
“Muhammad yakni putra Malik telah berkata”
Dan itulah keunikan dari beribu keunikan dalam Kitab Matn Alfiah Ibnu Malik, yang sekaligus menunjukkan betapa uniknya Muhammad Ibnu Malik sebagai musannif dalam menuliskan karyanya/hafalannya. Sebenarnya 1000 nadhom alfiah yang akan ditulisnya telah tersimpan dalam memori otaknya, tinggal beliau pindahkan diatas kertas. Itulah sebabnya Muhammad Ibnu Malik menulis: “qala” dibanding menulis: “yaqulu”.

Masih dalam Bab Muqaddimah juga, hal menarik lainnya terjadi pada awal penyusunan kitab Alfiyah Ibn Malik. Yakni tentang mengapa dalam Nadhom Alfiyah Ibnu Malik terdiri atas 1002 bait, padahal seharusnya hanya 1000 bait saja sesuai dengan namanya Alfiyah (seribu).
Setelah Imam Muhammad Ibnu Malik menyimpan semua isi kitab Alfiyah Ibnu Malik di dalam memori otaknya, beliaupun mencoba mewujudkannya dalam bentuk susunan sebuah kitab. Saat menulis muqaddimah, pada bait kelima, beliau menulis
فائقة ألفية ابن معطي #……………………………..
………………………….#……….…………………….
Artinya:
“Kitab Alfiyyah ini lebih mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi.”
Tiba-tiba semua hafalan kaidah nahwu yang tersimpan dalam memori otak beliau yang merupakan rancangan 1000 bait nadham itu pun sirna. Imam Muhammad Ibnu Malik tak dapat melanjutkan tulisannya dan tak ingat satu kalimatpun setelahnya.
Kebingungan mendera dan mengusik hati beliau. Berhari-hari lamanya penulisan kitab ini terhenti. Hingga suatu hari beliau berziarah ke makam gurunya, Imam Ibnu Mu’thi. Almarhum Gurunya ini telah lebih dulu menulis nadham kaidah nahwu, yang diberinya judul “Alfiyyah Ibnu Mu’thi.”

Lihat pula: Video Gema Muharram 1443 H – Lomba Nadhom Alfiah Ibnu Malik
Sebagai penghilang kesedihannya, Imam Muhammad Ibnu Malik membaca tahlil, tahmid, dan takbir di makam gurunya tersebut dan tanpa sadar beliau tertidur disana. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Gurunya, Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Muhammad Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitabnya tersebut terdapat suatu kesalahan.
Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku apakah kamu lupa siapakah aku ini? Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah nazam terakhir yang beliau tulis. “Ya di situlah letak permasalahannya,” pikir beliau.
Dalam bait nadham terakhir yang ditulis Muhammad Ibnu Malik, ditulisnya bahwa kitab Alfiyah yang disusunnya lebih mengungguli Kitab Alfiyah yang disusun terlebih dahulu oleh gurunya, Imam Ibnu Mu’thi. Hal ini sangat bertentangan dengan akhlakul karimah, tata krama yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya.
Untuk menebus kesalahan dan sebagai permohonan ampunan kepada Allah SWT serta kepada gurunya, maka ditulisnya dua bait nadhom dibawah ini:
وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا
Artinya:
“Meskipun demikian, beliau (Imam Ibnu Mu’thi) tetap memiliki kelebihan dan pantas dipuji. Sebab dalam mengarang kitab Alfiyyah, beliau lebih dahulu dari pada saya (Imam Ibnu Malik).”
والله يقضي بهبات وافرة# لي وله في درجات الأخرة
Artinya:
“Semoga Allah melipatgandakan pahala yang Allah berikan kepadaku dan kepada beliau guruku (Imam Ibnu Mu’thi) kelak di akhirat nanti.”
Setelah ditulisnya ungkapan hatinya tersebut, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 nadham yang semula hilang dari memori otak beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab Alfiyahnya.

Dari uraian cerita di atas, dapat diketahui yang semula nazam Alfiyyah Ibnu Malik berjumlah 1000 nadhom, bertambah dua nazam pada bab Muqaddimah sehingga menjadi 1002 nadhom.
Lihat pula: Mengapa mesti Mengajarkan Nadhom Alfiah Ibnu Malik?
Wallahu A’lam bis Shawab, kisah diatas sebagaimana penulis kutip dalam “Menyingkap Kearifan Imam Ibnu Malik dalam deretan Bait Berisikan Kalam Hikmah, Falsafah Hidup, Nasihat dan Kalam Tasawwuf.” karya M. Khalilur Rahman.

Dari kisah diatas, tentang hubungan Imam Ibnu Mu’thi dengan Imam Muhammad Ibnu Malik adalah kisah yang seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi kita semua, pelajar dan penuntut ilmu, bahwa betapa berbahayanya jika meninggalkan adab, khususnya kepada guru. Bukankah Imam Syafi’i pernah mengingatkan kita semua bahwa dalam belajar, “Adab dulu, baru Ilmu!”
Barakallahu fiikum. (*)
Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Kabupaten Pangkep, Sulsel/Penulis telah mendapatkan Ijazah Sanad Kitab Al-Tibyan, Kitab Qatrun-nada wa Ballushada, dan Kitab Milhatul I’rab. (*)


