Oleh: Nuruddin al Indunissy
PALONTARAQ.ID – Bismillah walhamdulillah, asholatu wassalamu ‘ala Rosulillah. Semoga coretan singkat ini sampai kepada jiwa yang membutuhkannya, menjadi cahaya yang menunjuki mata hati dan nutrisi yang mengenyangkan akal.
Tubuh manusia terdiri dari unsur ruh yakni energi/sumber kekuatan yang ghaib dan unsur jasad tau material yang nyata dengan segala kebutuhan dan karakteristik fitrah (sifat dasar) alamiahnya yang perli dipenuhi.
Tulisan ini akan menjelaskan secara singkat, bagaimana kerjasama penting cara kerja sistem Imunitas tubuh dan aktivasi kekuatan spiritual Iman yang sempurna untuk melawan virus atau object penyakit yang tidak terlihat dan terdeteksi mata dan alat canggih manusia.
Ketika logika manusia tidak bisa lagi berkata-kata, maka saat itulah iman bicara. Namun bagaimanakah menerjemahkan kekacauan dan rasa sakit yang dibuat penyakit yang tidak jelas ini dengan kekuatan iman yang seadanya?
Virus adalah sebuah katrgori penyakit yang tidak terdeteksi keberadaannya, penyakit yang “objeknya” tidak terlihat. Sehingga tidak mungkin ditembak, dibunuh atau dilenyapkan eksistensinya.
Namun disisi lain, manusia adalah mahluk sempurna yang bisa mengelola dan menyikapi output atau hasil dari kekacauan yang terjadi pada sistem kerja tubuh dengan perbaiki dan upgrade sistem ketahanan tubuh dan menghubungkan kekuatan utama ruh-nya kepada Dzat yang menjaga dan memberinya kekuatan sejak awal penciptaan.
Hubungan manusia dengan tuhannya sangat penting, karena ini satu-satunya kekuatan yang akan bertahan ketika semua kekuatan cinta dan energi harapan pada obat dan manusia di muka bumi lenyap entah kemana. Ketika tidak ada lagi harapan di bumi, maka langit masih luas untuk berharap.
Jadi, point pertama adalah perbaiki hubungan kita kepada Allah agar prasangka kita diperbaiki. Jika husnudzhan kita kepada Allah baik, maka Allah adalah dzat yang maha baik yang seluruh kehendak-Nya adalah baik.
Iman atau keyakinan dan harapan akan kebaikan yang didapatkan dari Allah akan menyalakan dan menghidupkan kekuatan jiwa dan spiritual manusia. Sederhananya keyakinan yang baik akan merubah cara pandang/perspectif atau prasangka kita kepada Allah.
Jika prasangka sudah baik, maka akan tumbuh harapan, kekuatan dan kenikmatan dalam bersabar dan merasa cukup kepada Allah dan seluruh hal yang Dia sediakan secara halal dan toyyib di muka bumi ini.
Selanjutnya, perkuat prasangka ini dengan membuka memori lama tentang musibah yang pernah dialami. Serangkaian peristiwa sulit yang mampu kita lewati dan mengantar kita pada pagi hari ini.
Allah lah yang memberi kita rantai ujian itu dan Allah pula yang memberi kekuatan untuk menghadapinya, hingga kita bertahan sampai hari ini. Dan hikmah yang kita dapat senantiasa lebih besar dari musibah yang menimpa kita.
Hal kongkrit yang dilakukan pada point pertama ini bukan renungan atau khayalan, namun upgrading iman dengan menambah keta’atan. Tetap solat meski sakit, berdiri atau duduk, stabil atau gemetar. Biarkan para malaikat dilangit menyaksikan kita sebagai mahluk terkuat yang terus berdiri meski digerogoti penyakit.
Taubat nasuha untuk dosa yang pernah dinikmati jiwa dan jasadnya. Kedua unsur yang membangun dan menghidupkan kontruksi manusia itu tidak lepas dari dosa sebagai bagian dari fitrah dan taubat adalah metode penyuciannya sementara sakit adalah cara alami penghapusannya.
Untuk maintenance kekuatan spiritual, bangunlah dzikir dan tilawah al Quran untuk membentengi dari waswas syaitan yang berpotensi besar melakukan guncangan dan provokasi kepada jiwa manusia yang sedang melemah disebabkan menahan rasa sakitnya.
Yang kedua, sempurnakan prasangka baik ini dengan mengaktifkan benteng akal sehat di dalam ruang hardware otak kita dengan menggali dan menambah database tentang kekuatan dan kelemahan penyakit ini.
Misalnya pengetahuan tentang kecilnya prosentasi angka kematian dibanding angka yang terinfeksi. Dan banyaknya angka kesembuhan dari orang yang pernah terinfeksi.
Atau melihat singkatnya masa inkubasi, yaitu sekitar 14 hari. Dari mulai infeksi awal hingga tubuh menciptakan pertahanan sendiri dan hidup berdampingan dengannya.
Jangan melihat angka kematian yang terus meningkat tanpa melihat angka kehidupan (survivor) yang justru lebih banyak. Ingat rasa takut bisa membunuh kambing dalam kandang yang dihadapkan kepada srigala lapar dihadapannya.
Cemas ini project syaitan, baik syaitan jin ataupun manusia. Ia ditiupkan syaitan manusia melalui media yang dimakan mata dan telinga juga dihembuskan oleh syaitan jin dalam dada manusia dalam bentuk waswas.
Ketiga, jangan melakukan isolasi terlalu extreme; bersosialisasilah dengan aman dan teman-teman positif yang akan singkronisasi hal-hal positif dan menguatkan jiwa kita. Terutama keluarga dan teman-teman dekat biasanya kita tertawa dan kuat bersama.
Ini sangat penting, adanya protokol kesehatan, masker, jaga jarak, sosial distancing ini untuk orang yang terinfeksi dan maintenance kehidupannya agar bertahan. Jangan buang diri ditepi kuburan. Banyak cara bersosial, baik media sosial ataupun warung coffee dan ruang nyata lainnya.
Isolasi total itu akan meningkatkan depresi dan halusinasi yang luarbiasa. Kecuali beberapa hari pertama saat tubuh panas menandakan sedang terjadinya perlawanan sengit dari tubuh ketika virus itu datang dan reaktif.
Pengecualian juga berlaku sekiranya isolasi mandiri bisa meningkatkan hubungan dengan Allah, ibadah-ibadah khusus dari dzikir, tilawah, membaca dan menyimak ilmu yang energizing akal dan hati kita.
Sempatkan tubuh bergerak. Menghirup udara segar yang banyak dan biarkan berkeringat beberapa menit setiap harinya. Bersepeda, joging, atau ajak main anak-anak. Beri jiwanya ruang untuk hidup dan bahagia.
Berikutnya, tips terakhir. Jika point-point diatas sudah difahami dengan baik. Apalagi sudah melekat dijiwa seorang mukmin, maka tidak perlu lagi kita tergantung pada obat penghilang sakit atau obat kimia lain.
Jangan korbankan prinsip hidup sehat kita dengan guncangan pandemi ini. Perbaiki nutrisi dengan makkanan terbaik yang direkomendasikan Nabi kita Muhammad Sholallahu Alaiyhi Wasallam yang telah terbukti melewati puluhan epidemi dari masa ke masa.
Ajwa Aliyah yang anti racun, Qustul Hindi untuk kinerja pernafasan, Habbatussauda anti-virus alami, Zamzam air ajaib yang ilmiah, Jahe dan Madu si minuman syurga, juga herbal alam lain yang sunnah dan penuh berkah.
Obat kimia tidak haram, namun jika kita ambil ikhtiar ini lambat laun kita akan tergantung dan terikat. Sehingga tawakkal kita setengah tergadai pada obat. Jika sakit itu mulai menyebar dan ruh kita terhubung kepada Allah, maka Dialah sumber kekuatan dan kehidupan sesungguhnya.
Ajari anak-anak kita hidup tanpa obat, maka 3 atau 7 tahun kemudian kita akan tercengang menyaksikan bahwa manusia itu bisa hidup tanpa obat. Alhamdulillah saya dan keluarga sudah kommitment hidup tanpa obat bahkan 20 tahun terakhir ini saya tidak konsumsi obat samasekali termasuk ketika seluruh indikasi virus ini menyerang saya 7 hari kemarin. Alhamdulillah, Hadza min Fadhly Robbi
Jika pun harus konsumsi obat penghilang sakit, vitamin dan sejenisnya maka pastikan itu sekali dan terakhir untuk bertahan. Ingat, sekali. Bukan sesekali. Tubuh kita punya kekuatan, jangan lemahkan dengan obat yang meracuni dan mengacaukannya.
Jika harus ada tambahan oksigen, infus maka pastikan tawakkal kita terus terhubung kepada Allah sepenuhnya. Jangan terganggu dengan alat medis yang menjajah tubuh kita.
Jika nutrisi masih masuk, oksigen cukup maka istirahatlah dengan cukup. Biarkan tubuh kita yang sempurna melawan virus-virus lemah yang baru saja lahir dimuka bumi ini. Saatnya melatih kesabaran..
Sabar adalah kekuatan yang tak pernah tidur, senjata yang tak pernah tumpul dan pasukan yang tak pernah mundur.
Bagi seorang mukmin, sakit penggugur dosa jika ia mengimani kebaikan Allah didalamnya lalu ia bersistighfar. Sakit bahkan berpahala ketika ia bersabar karenanya.
Lalu, jika sakit itu membuat kita bermaksiat dan mendzalimi diri sendiri lalu bagaimana ia akan menambah pundi pahala dan meningkatkan keimanan?
Biarkan jiwa kita yang beriman mengalahkan rasa sakit dan menguburnya ditubuh kita. Biarkan setiap sel yang sakit itu menjadi ajang penyucian jiwa raga kita, hingga kelak Allah ambil kita dalam keadaan Dia puas dan ridho.
Baarokallahufii ahlikum wamaalikum. Semoga Allah anugerahkan kita nikmat berupa ketaatan, kekuatan, kesabaran dan kecintaan terhadap Apa-apa yang Allah takdirkan untuk kita. Aamiin.
(* Nuruddin al-Indunisiy, Founder Rehab Hati Foundation.
(** Sumber tulisan: WA Group Trainer Rehab Hati.


