BerandaBahasaMengenal Seloka sebagai Puisi Lama dalam Khazanah Sastra Klasik Indonesia

Mengenal Seloka sebagai Puisi Lama dalam Khazanah Sastra Klasik Indonesia

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengenal Talibun sebagai Puisi Lama dalam Khazanah Sastra Klasik Indonesia

PALONTARAQ.ID – Jika Pantun Berkait adalah sebuah rantaian yang rapi, maka Seloka adalah bentuk puisi lama yang paling tajam karena sering kali mengandung sindiran, kelakar, dan hikmat yang disampaikan secara metaforis.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Sastra Klasik Indonesia merupakan mozaik kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai moral. Di antara berbagai ragam puisi lama, Seloka menempati posisi yang unik. Ia sering kali dianggap sebagai “kakak” dari pantun karena strukturnya yang lebih bebas namun memiliki kedalaman makna yang lebih satir.

Jika pantun secara umum digunakan untuk menyampaikan perasaan cinta atau nasihat yang santun, maka Seloka lebih condong digunakan untuk mengkritik perilaku sosial, menyindir kebodohan, atau memberikan peringatan melalui kelakar yang cerdas.

Secara kultural, Seloka mencerminkan sifat masyarakat Nusantara yang memprioritaskan harmoni. Alih-alih menyampaikan kritik secara kasar dan frontal, para leluhur kita menggunakan Seloka sebagai media eufemisme—menyampaikan kebenaran yang pahit dengan balutan rima yang manis.

Kata “Seloka” berasal dari bahasa Sanskerta, shloka. Dalam tradisi sastra India kuno, shloka adalah bentuk bait puisi yang digunakan dalam teks-teks besar seperti Mahabharata atau Ramayana. Namun, seiring masuknya pengaruh budaya tersebut ke Nusantara dan berakulturasi dengan budaya Melayu, makna dan bentuk Seloka mengalami transformasi.

Di Indonesia, Seloka tidak lagi terikat pada aturan ketat bait Sanskerta, melainkan berkembang menjadi puisi melayu klasik yang sangat akrab dengan tradisi lisan. Ia menjadi media bagi rakyat jelata hingga pujangga istana untuk merespons kondisi zaman. Sebagai puisi lama, Seloka memiliki ciri khas yang membedakannya dari pantun, syair, maupun gurindam.

Umumnya Seloka terdiri dari 4 baris, mirip dengan pantun. Namun, ada juga Seloka yang memiliki lebih dari 4 baris (mirip talibun) atau berbentuk rangkaian bait yang saling berkaitan. Seloka biasanya menggunakan rima akhir a-a-a-a atau a-b-a-b. Namun, dalam beberapa jenis Seloka (terutama Seloka Berkait), aturan rimanya bisa lebih fleksibel asalkan hubungan maknanya tetap terjaga.

Berbeda dengan pantun yang memisahkan sampiran dan isi secara tegas, pada Seloka sering kali batas antara keduanya menjadi kabur. Semua baris dalam Seloka bisa jadi merupakan satu kesatuan makna yang deskriptif dan berisi pesan. Terkait gaya bahasa, ciri yang paling menonjol dari Seloka adalah penggunaan metafora, alegori, dan sarkasme halus. Seloka sering menggunakan perumpamaan hewan atau benda untuk menyindir sifat manusia.

***

Seloka dapat dikategorikan berdasarkan tujuannya. Pertama, Seloka Sindiran (Satir). Ini adalah jenis Seloka yang paling populer. Digunakan untuk menegur seseorang yang berperilaku tidak pantas.

Contohnya:

Anak pak mamat menanam jati

Jati dipotong menjadi papan

Maksud hati memeluk gunung

Apa daya tangan tak sampai.

(Seloka ini menyindir orang yang memiliki ambisi terlalu besar namun tidak mengukur kemampuan diri sendiri).

Kedua, Seloka Nasihat. Berisi tentang petuah hidup yang harus dijalani agar tidak tersesat.

Contohnya:

Sudah gaharu cendana pula

Sudah tahu bertanya pula.

(Meskipun sering dianggap karmina, dalam konteks seloka, ini menyindir orang yang pura-pura bodoh atau malas berpikir).

Ketiga, Seloka Humor (Kelakar). Bertujuan untuk menghibur namun tetap membawa pesan moral.

Contohnya:

Ular naga mencari mangsa

Masuk ke lubang mencari ikan

Hidung tinggi mata ke atas

Jalan tersandung masuk selokan.

(Menyindir sifat sombong yang akhirnya merugikan diri sendiri).

Keempat, Seloka Berkait. Sama seperti pantun berkait, Seloka ini memiliki baris yang saling menyambung antar bait untuk menceritakan sebuah kisah atau kerumitan perasaan.

Seloka adalah bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kedalaman rasa dan pikiran. Ia adalah warisan yang mengajarkan kita untuk tetap kritis namun tetap santun, untuk tetap lucu namun berisi. Melalui Seloka, kita belajar bahwa kata-kata adalah senjata yang paling ampuh ketika digunakan dengan bijaksana—ia bisa memperbaiki keadaan tanpa harus memecahkan persaudaraan. (*)

Bahan Bacaan:

Alisjahbana, S. Takdir. (2004). Puisi Lama. Jakarta: Pustaka Rakyat. (Karya fundamental yang membedah perbedaan teknis antara pantun, seloka, dan gurindam).

Braginsky, V.I. (1998). Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Djamaris, Edwar. (1990). Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai Pustaka. (Memberikan tinjauan mengenai bagaimana seloka digunakan dalam teks-teks sejarah klasik).

Fang, Liaw Yock. (2011). Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. (Membahas asal-usul istilah Shloka dari India ke Melayu).

Hamidy, UU. (1991). Kreativitas Sastra Melayu. Pekanbaru: Unri Press.

Hooykaas, C. (1952). Perintis Sastra. Groningen: J.B. Wolters.

Lubis, Nabilah. (2003). Sastra Indonesia Klasik: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Bahasa.

Sweeney, Amin. (1987). A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Berkeley: University of California Press. (Sangat relevan untuk memahami bagaimana seloka berfungsi dalam budaya lisan).

Waluyo, Herman J. (2005). Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Peminat Sastra Indonesia/Guru dan Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT