Islam Ukhuwah Makhlukiyah

Ukhuwah Makhlukiyah

-

- Advertisment -

(Catatan Kecil Pengajian Daring, Prof. Dr. K.H. Nazaruddin Umar)

Oleh: Imran Duse

Related Post: 100 Pesan Alqur’an dalam Interaksi Sosial

PALONTARAQ.ID – Alhamdulillah, beberapa jam lalu, saya berkesempatan mengikuti pengajian daring BPP KKSS. Menggunakan platform Zoom, pengajian diikuti 138 peserta, dari berbagai daerah hingga luar negeri.

Ada perwakilan KKSS Amerika Serikat (New York dan Boston). Dari dalam negeri, ada dari Jayapura, Maluku Utara, Tarakan, Samarinda, Tanjung Pinang, Jakarta, dan seterusnya. Dan tentu saja Ketua Umum KKSS H. Muchlis Patahna, SH., M.Kn. dan Prof. Dr. H. K.H. Nazaruddin Umar, Penasehat KKSS, penceramah dalam pengajian ini.

Dari Samarinda, ada Prof. Dr. H. Masjaya, Dr. H.M. Ridwan Tasa, Dr. Mursalim, dan saya sendiri. Pengajian ini terasa akrab dan penuh kekeluargaan. Apalagi tak jarang Prof. Nazaruddin menggunakan bahasa Bugis.

***

Di awal ceramahnya, Prof. Nasaruddin memperkenalkan istilah yang buat telinga saya masih cukup asing: Ukhuwah Makhlukiyah (persaudaraan sesama makhluk).

Selama ini saya hanya mengetahui tiga jenis ukhuwah, yakni Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal ini, istilah Ukhuwah Makhlukiyah disebut dalam Al-Qur’an, dan merupakan aspek yang lebih penting dibanding tiga jenis ukhuwah yang selama ini kita kenal.

Dengan Ukhuwah Makhlukiyah, kita memperlakukan semua makhluk Allah dengan spirit persaudaraan.

Cara bersikap terhadap tetumbuhan, hewan, dan terhadap apa saja di sekitar kita, hendaklah dengan kesadaran bahwa semua itu makhluk ciptaan Allah dan karena itu harus kita sayangi pula.

Prof. Nazaruddin menjelaskan, di komunitas Bugis-Makassar, dimensi Ukhuwah Makhlukiyah sangat kental mewarnai adat dan kebudayaan mereka.

Leluhur kita begitu memberikan penghargaan dan sungguh menghayati kebersamaan dengan alam dan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Sebelum memulai menanam padi, lazimnya mereka melaksanakan upacara “Mappamula”. Begitu juga jika akan panen, ada semacam “upacara” sebagai tanda kesyukuran.

Orang Bugis-Mandar sebelum melaut, mereka menyapa laut lebih dahulu, “apakah boleh mereka melaut?”.

Itu merupakan bentuk persahabatan manusia Bugis (dalam hal ini adalah Bugis-Makassar, Bugis-Mandar, Bugis-Toraja) terhadap alam dan lingkungan mereka.

Itu adalah bentuk Ukhuwah Makhlukiyah. Jangan cepat-cepat kita mengatakan Itu musyrik.

Leluhur orang Bugis itu sangat tinggi ilmunya, karena mereka langsung berguru kepada “tanda-tanda alam”.

Mereka hanya akan pergi melaut jika laut memberikan jawaban melalui “tanda-tanda”. Jika itu tidak ada, mereka tidak akan melaut.

Ada satu istilah bahasa Arab yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa manapun di dunia ini, termasuk bahasa Indonesia.

Kata itu adalah Muru’ah, dan padanan katanya hanya ditemukan dalam bahasa Bugis, yakni “Matanre Siri’.” Ini sangat tinggi maknanya. Tentang akhlak yang demikian mulia, sehingga hanya berkomitmen pada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Beliau mencontohkan, pernah ada seorang Raja di Soppeng yang menghukum dirinya sendiri dikarena ada suatu kesalahan yang ia perbuat yang menyebabkan gagal panen di daerah tersebut. Inilah contoh Matanre Siri’ itu.

Tentang ini, saya (bersama Aprial yang juga hadir dalam pengajian ini) pernah mewawancarai Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Prof. Baharuddin menceritakan bahwa dulu, sekitar abad 17, ada seorang Raja di Bone yang menghukum anak kandungnya sendiri karena melanggar adat.

Dengan cara “dibuang” keluar dari kampung. Sejak saat itu, di Bone, tak pernah lagi ada pelanggaran sosial dan adat. Bahkan kalau pun sandal di taruh di tengah jalan, tidak ada yang berani mengambilnya.

Inilah warisan leluhur kita yang menurut Prof. Nazaruddin mesti kita kaji kembali dan kita aktualisasikan dalam kehidupan.

Orang Bugis itu adalah satu-satunya etnik dengan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan itu tersurat dalam Ilagaligo, tentang Dewata Sewa’e.

Kalau orang Bugis respek terhadap pohon, sungai, laut, dan alam secara keseluruhan, itu jangan diartikan sebagai penyembahan. Melainkan sebagai bentuk Persahabatan; sebagai persaudaraan sesama makhluk.

Memang jika orang melihat kulit luarnya saja, maka dia tidak akan memahami kedalaman makna yang ada dalam adat dan tradisi leluhur manusia Bugis. Seperti kalau kita mengupas Bawang, kulitnya itu kan berlapis-lapis.

Konsepsi dan pandangan dunia manusia Bugis harus dibaca seperti itu. Jangan berhenti di kulit permukaan, tapi selami supaya kita sampai pada kedalaman makna.

Di akhir pengajian, Prof. Nasaruddin mencontohkan sebuah riwayat tentang bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan seekor Kijang.

Saat itu, bersama sejumlah sahabat, Rasulullah melewati sebuah perkemahan (adalah hal biasa di kalangan masyarakat Arab saat itu yang hidup berpindah-pindah, lalu mendirikan kemah di suatu tempat yang dianggap cocok).

Di antara kemah itu, terdapat seekor Kijang yang sedang diikat. Tiba-tiba Rasulullah berhenti. Para sahabat yang mengiringi mulai bertanya-tanya, ada apa gerangan Rasulullah berhenti, sementara tak ada sesuatu yang tampak oleh mereka.

Rupanya Rasulullah SAW mendengar suara “permintaan tolong” dari Kijang tersebut. Berbeda dengan sahabat, Rasulullah mengerti bahasa binatang.

Rasulullah pun mendekat ke Kijang tersebut. Sedangkan kaum yang berkemah sedang tidak di tempat, mungkin sedang berburu atau keperluan lain.

Lalu, terjadinya dialog ini (dibahasakan oleh saya. Mohon maaf Pak Prof. Nasaruddin, jika ada yang tidak tepat).

Karena Kijang itu minta tolong, maka setelah berada dekat Kijang tersebut, Rasulullah berkata apa yang bisa Beliau bantu.

“Tolong lepaskan ikatanku ini ya Rasulullah,” kata Kijang.

“Kalau untuk melepas ikatan itu, Aku tak bisa lakukan. Karena engkau sekarang adalah milik dari kaum yang berkemah disini,” kata Rasulullah.

“Betul Rasulullah. Aku ditangkap saat baru saja melahirkan anak-anakku. Mereka pemilik kemah ini sudah mengikatku.

Tapi aku mohon lepaskan ikatan ini hanya untuk pergi menyusui anak-anakku. Setelah itu, aku akan kembali dan Rasulullah boleh mengikatku lagi disini,” Kijang itu memelas.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan melepas ikatanmu ini, dan menunggumu disini,” Rasulullah menyetujui komitmen Kijang.

Maka berlalulah Kijang itu menemui anak-anaknya. Sementara Rasulullah menunggu di tempat perkemahan tersebut, memastikan bahwa Kijang itu akan kembali dan menjaga jangan sampai kaum yang berkemah sudah kembali.

Setelah beberapa lama, terlihat debu pasir beterbangan dan dibawa angin berlalu. Rupanya Kijang datang dengan berlari sangat kencang. Ia begitu gembira telah menyusui anak-anaknya.

“Silahkan ikat aku kembali ya Rasulullah. Terima kasih, aku telah menyusui anak-anakku,” kata Kijang.

Belum sempat Rasulullah berucap, tetiba datang rombongan pemilik perkemahan. Dan lebih takjub lagi kaum itu melihat kenapa Rasulullah ada di perkemahan mereka. Mereka rupanya senang berjumpa Nabi yang mulia itu.

“Apapun yang Rasulullah perlukan, silahkan diambil. Juga kalau Rasulullah membutuhkan Kijang itu,” kata salah seorang dari mereka.

Singkat cerita, Rasulullah pun meninggalkan perkemahan dengan membawa Kijang pemberian kaum itu.

Rasulullah SAW memegang tali pengekang Kijang itu hingga melewati punggung bukit (sampai tak terlihat lagi oleh kaum yang berkemah), dan setelah itu Beliau pun melepaskan Kijang tersebut.

“Sahabatku, pergilah besarkan anak-anakmu,” kata Rasulullah, dan Kijang itu pun berterima kasih lalu dengan riang berlari kencang menemui anak-anaknya.

Ukhuwah Makhlukiyah: mungkin kita perlu menengoknya di saat hampir semua orang di bumi bersembunyi dari Corona. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sambutan, 30 April 2020

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you