Beranda Sosial Budaya Seni Pertunjukan Mengakrabi Seni Tari Tradisional

Mengakrabi Seni Tari Tradisional

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: “Magguru” dan “Massikola” dalam Elong Pangaja

PALONTARAQ.ID – Tulisan ini saya persembahkan khusus di Hari Tari se-Dunia, hari ini (29/4/2020) sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya tetap mengembangkan dan mencintai seni tari tradisional, terkhusus tarian tradisional daerah Sulawesi Selatan.

Menjaga semangat, tetap prihatin dan merawat tari tradisional Sulawesi Selatan bukan perkara yang mudah. Semuanya harus berangkat dari rasa cinta, tanpa itu maka semua akan memudar dengan sendirinya, termasuk yang namanya rasa memiliki.

Penulis dan teman-teman seniman saat menjadi Juri FLS2N, Lomba musik dan tari tradisional tingkat Kabupaten Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Penulis dan teman-teman seniman saat menjadi Juri FLS2N, Lomba musik dan tari tradisional tingkat Kabupaten Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Tim Juri dan Para Penari Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)
Tim Juri dan Para Penari Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)

Tari Tradisional Sulawesi Selatan ada belasan jumlahnya, keseluruhannya merupakan perpaduan dari gerakan, musik, tata busana, dan unsur lainnya yang melengkapi pertunjukannya. Perpaduan itu mengabarkan pesan tentang tradisi dan narasi tutur masyarakat di masa lampau.

Umumnya tari tradisional itu berupa ungkapan atau ekspresi tentang perang, kegembiraan menyambut tamu, syukuran atas hasil panen yang melimpah, dan hiburan tersendiri bagi masyarakat setempat.

Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)
Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)

Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)
Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)

Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)
Bersama mereka, para pewaris tradisi, peserta Lomba Tari Tradisional. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Menanam Kultur Berbuah Jati Diri

Dalam lima tahun terakhir ini, penulis terlibat secara langsung dalam beberapa kegiatan mengakrabi seni tari tradisional, terkhusus di Kabupaten Pangkep. Diantaranya, Menulis Buku “Seni Tradisional di Pangkep” dan setiap tahun menjadi juri FLS2N tingkat Kabupaten untuk “Lomba Seni Tari dan Musik Tradisional”.

Tak sekadar sebagai pemerhati, penulis aktif melakukan serangkaian kegiatan perawatan dan pengembangan seni tari dan musik tradisional baik di lingkungan pendidikan maupun di wilayah pendampingan desa.

Ajang kreatifitas seni tari dan musik tradisional, FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Ajang kreatifitas seni tari dan musik tradisional, FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Ajang kreatifitas seni tari dan musik tradisional, FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Ajang kreatifitas seni tari dan musik tradisional, FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Bagi penulis, seni tari tradisional dan musik tradisional yang melengkapinya adalah “Pakkuru SumangE”, pemanggil semangat dan pembangkit motivasi untuk menghidupkan tradisi lainnya, termasuk didalamnya Upacara Adat siklus hidup.

Seni tari tradisional itu adalah satu kesatuan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat. Kehadirannya membuat keindahan lokalitas dan pemaknaan yang dalam tentang dinamika perkembangan masyarakat dari masa lampau hingga di kekinian.

Tarian tak hanya dipentaskan sebagai upaya menghidupkan adat, mengenang tradisi leluhur, tapi juga mengingatkan akan pengharapan bersama, tujuan bersama hidup dalam lingkungan sosial, serta cita-cita bersama membangun kesejahteraan dan kedamaian.

Bersama Andi Surya Dewan, seniman tari dan musik tradisional, sesama juri FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Bersama Andi Surya Dewan, seniman tari dan musik tradisional, sesama juri FLS2N Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Di dalam tarian juga, ada pemaknaan tentang busana adat, simbol-simbol tradisi, langkah dan gerakan menari. Sebagaimana juga musik, ketukan dan bunyi yang mengiringinya.

Sebagai contoh, Tari Patennung yang menggambarkan perempuan Bugis Makassar begitu sabar dan tekun menenun benang menjadi kain. Penari memakai Baju Bodo Panjang, Lipaq Sabbe (sarung), Curak Lakba, serta hiasan Bangkara, Rante Ma’bule, Ponto yang digunakan.

Terkait dengan properti, penari memakai sarung lempar diiringi instrumen alat musik tradisional Suling dan Gendang.

Penulis ditengah Persiapan Upacara Adat Menre Baruga di Desa Biringere. (foto: ist/palontara
Penulis ditengah Persiapan Upacara Adat Menre Baruga di Desa Biringere. (foto: ist/palontara

Tarian Tradisional menyambut tamu. (foto: ist/palontaraq)
Paduppa, Tarian Tradisional menyambut tamu. (foto: ist/palontaraq)

Ada pula Tarian Ma’gellu atau Pagellu yang asalnya dari Toraja, tapi kini sudah dapat dipertunjukkan juga oleh daerah lain disebabkan mudah dipelajari dari Channel You Tube.

Tari Pagellu ini saat ini sudah umum dipentaskan dalam penyambutan tamu, hari jadi daerah, dan bahkan dilombakan, padahal sejatinya tarian ini khusus dalam Upacara Ma’Bua’, berkaitan dengan upacara pentasbihan rumah adat Toraja (Tongkonan) atau saat upacara Rambu Solo’ (Rapasan Sapu Randanan).

Pergeseran ini berjalan terus dan memasuki ruang kesenian di sekolah, sehingga tari tradisional yang awalnya menjadi etnis tertentu, menjadi milik bersama dalam lingkup Propinsi Sulawesi Selatan.

Penulis saat mendampingi Tetua Adat Desa Biringere dalam Upacara Adat Menre Baruga, yang sarat dengan musik dan tari tradisional.. (foto: ist/palontaraq)
Penulis saat mendampingi Tetua Adat Desa Biringere dalam Upacara Adat Menre Baruga, yang sarat dengan musik dan tari tradisional.. (foto: ist/palontaraq)

Penulis saat mendampingi Tetua Adat Desa Biringere dalam Upacara Adat Menre Baruga, yang sarat dengan musik dan tari tradisional.. (foto: ist/palontaraq)
Penulis saat mendampingi Desa Biringere dalam Upacara Adat Menre Baruga, yang sarat dengan musik dan tari tradisional.. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Annyala: Kebersalahan dalam Perkawinan Adat Makassar

Waktu berjalan, banyak kemudian tarian tradisional yang sulit dibedakan milik etnis Bugis atau Makassar, Mandar atau Toraja, karena keempat etnis ini telah menyatu secara sosial, sehingga kini tarian tradisionalnya pun menjadi milik bersama, hingga kini muncul kolaborasi, tari empat etnis.

Selain Tari Pagellu, Tarian Pa’pangngan juga mengalami nasib serupa, sebagaimana pula halnya Tari Pakarena dan Gandrang Bulo yang khas Makassar sudah dipertunjukkan pula di daerah etnis Bugis.

Begitu pula Tari dan Musik Tradisional Bugis sudah dipertunjukkan pula di daerah etnis Makassar. Hal ini sangat kentara terjadi di Kabupaten Maros dan Pangkep.

Tari Bosara, juga Tari Pajoge, dahulunya hanya dipertunjukkan dalam lingkup istana, kini menjadi milik publik.

Usai dialog budaya, penulis bersama pegiat seni musik dan tari tradisional di Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Usai dialog budaya, penulis bersama pegiat seni musik dan tari tradisional di Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Dalam Seminar tentang Bissu, Penulis mempertanyakan keberlangsungan hidup Komunitas Bissu dan seni pertunjukan tradisionalnya, Sere Bissu Maggiri. (foto: ist/palontaraq)
Dalam Seminar tentang Bissu, Penulis mempertanyakan keberlangsungan hidup Komunitas Bissu dan seni pertunjukan tradisionalnya, Sere Bissu Maggiri. (foto: ist/palontaraq)

Pada zaman dahulu, Tari Bosara hanya ditampilkan pada acara penting untuk menjamu para raja dan bangsawan dengan suguhan kue-kue tradisional.

Kini, meluas pertunjukkannya, juga sudah ditampilkan pada berbagai pesta dan upacara adat, dan bahkan menjadi standar tari pemerintah kabupaten untuk menampilkannya jika ada tamu daerah atau perhelatan budaya, meski tak selalu sepadan dengan penyajian seharusnya kue tradisional pelengkapnya.

Masih banyak pula Tari Tradisional lainnya yang mengalami pergeseran makna dan peruntukan pertunjukannya, seperti Tari Ma’randing, Tari Ma’badong dan Tari Manimbong di Toraja.

Buku karya Penulis, "Seni Tradisional di Pangkep." (foto: ist/palontaraq)
Buku karya Penulis, “Seni Tradisional di Pangkep.” (foto: ist/palontaraq)

Di Kabupaten Pangkep, sejumlah tarian tradisional, seperti Tari Pakarena Burakne (Pamingki), Sere Bissu Maggiri, Pamasari, dan lainnya terancam kehilangan generasi penerus, jika tetap mempertahankan unsur keasliannya. Banyak contohnya sebagaimana juga di daerah lainnya di Sulawesi Selatan.

Lihat pula: Biringere tegaskan Identital Lokal lewat Sanggar Seni

Karena itu, Mari mengakrabi seni tari tradisional sebagai bagian dari identitas kita. Seni Tari, sebagaimana juga Musik Tradisional adalah bagian tak terpisahkan yang melengkapi kebudayaan kita, sebagai masyarakat ‘berbudaya’ di Sulawesi Selatan.

Selayaknya penanaman nilai dan kandungan pesan budaya dalam seni tari tradisional ini, bagian tak terpisahkan dari pertunjukannya.

Seni Tari Tradisional harus terus dipentaskan dimanapun berada, supaya tetap bisa mewarnai aspek kehidupan sosial budaya kita, dari lingkungan sosial hingga sekolah dan kampus.

Terakhir, penulis ingin berpesan, agar kita semua tak henti-hentinya berperan dan turut serta untuk merawat, menjaga, mencintai, dan mengembangkan seni tradisional kita, sebagai bagian dari pewarisan peradaban dan pendidikan untuk masa depan.

Tabe’,  Salamaki Tapada Salama’. 

Selamat Hari Tari se-Dunia, 29 April 2020. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...