Feature Serial Renungan Pagi (13): Menahan Marah

Serial Renungan Pagi (13): Menahan Marah

-

- Advertisment -

 

Oleh: Abdul Gaffar Ruskhan

PALONTARAQ.ID – Apa kabar Saudaraku? Semoga semua berada dalam keadaan sehat walafiat, mampu menjadikan puasa sebagai sarana pelatihan jasmani dan rohani, dan selalu mendapat lindungan dari Allah Swt. Amin!

Pada suatu hari ada salah seorang sahabat Nabi, Abu Darda, datang menghadap Rasulullah saw. minta nasihat sehingga nasihat itu dapat dijadikan pegangan hidupnya. Jawab Nabi SAW. , “Jangan marah!”

Belum puas dengan jawaban itu, sahabat Nabi itu minta lagi nasihat lagi. Jawaban Nabi sama, “Jangan marah!”

Di dalam riwayat Thabrani, sahabat ini meminta Nabi saw. menunjukkan perbuatan yang memasukkanya ke dalam surga. Nabi saw. menjawab, “Jangan marah, maka surga menjadi milikmu .”

Bahkan, dalam hadis riwayat Ahmad, sahabat Abdullah bin Umar bertanya kepada Nabi tentang sesuatu yang menjauhkannya dari marah Allah SWT. Nabi menjawab, “Jangan marah!”

Marah adalah kondisi jiwa yang muncul pada saat seseorang tersinggung, tidak dihargai, dihina, atau diperlakukan dengan tidak wajar, bahkan tidak adil.

Marah bisa juga muncul karena haknya terganggu atau terabaikan. Sifat itu dimiliki oleh umumnya Manusia.

Marah atau tidaknya bergantung pada kemampuan seseorang mengelola emosi marah itu sehingga tidak marah?

Bukankah sikap menahan marah itu menjadi ciri orang bertakwa yang akan Allah siapkan baginya ampunan dan surga seluas langit dan bumi (Qs. Ali Imran:133–134).

Dalam pergaulan sehari-hari seseorang dapat saja marah. Di rumah ketika anak menagis, orang tua marah; suami terlambat pulang, istri marah; istri terlambat membukakan pintu, suami marah; asisten rumah tangga beristirahat sebentar, majikan marah.

Di jalan ada mobil yang menyalip mobilnya, orang marah; mobil tersenggol sedikit, sopir marah. Di kantor bawahan terlambat datang, atasan marah; salah pekerjaan bawahan, atasan marah lagi.

Pokoknya dalam berbagai keadaan dan tempat, kita sering menyaksikan dan mendengar orang lain marah. Bahkan, diri kita pun tidak luput dari marah.

Mengapa seseorang marah? Ada penyebabnya. Biasanya marah muncul karena tidak menerima apa yang dilakukan orang lain terhadapnya, milik, keluarga, atau orang lain yang terusik.

Bisa juga beban tugas yang berat atau ada masalah di tempat kerja, marah pun terbawa sampai ke rumah.

Jika marah itu dilampiaskan, dampak kejiwaannya puas atau menyesal. Kepuasan didapat karena yang marah merasa berhasil melampiaskannya kapada orang yang dimarahi.

Penyesalan terjadi jika orang yang marah harus berurusan dengan hukum atau orang yang dimarahi cedera karena kemarahan yang tidak bisa dikendalikan.

Siapakah pemenangnya? Tidak ada pemenangnya, tetapi justru pelaku marah itu yang kalah. Jika kedua belah pihak sama-sama marah atau bertengkar, yang kalah ada keduanya.

Pernahkah kita melihat orang bersitegang atau berkelahi di jalan gara-gara sepele? Hanya karena senggolan kendaraan pihak yang terlibat saling membentak.

Pengguna jalan sampai berhenti dan jalan pun menjadi macet. Dampaknya bukan hanya terhadap mereka, melainkan terhadap ketertiban umum.

Semua orang pasti menggerutu karena ulah mereka yang tak mampu mengendalikan marahnya. Puaskah mereka? Adakah pemenangnya. Tidak ada. Keduanya adalah orang yang kalah.

Rasulullah SAW bersabda,

 

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

 

Artinya:

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Sungguh orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ada lima kiat yang diajarkan Rasulullah saw. untuk meredam marah.

1. Ucapkan taawuz (minta pelindungan kepada Allah)
Rasulullah SAW bersabda,

 

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

 

Artinya:

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat yang jika dibaca oleh orang ini (pada saat itu ada dua orang yang bertengkar), marahnya akan hilang. Jika dia membaca taawuz

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ

 

, maka marahnya akan hilang.” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Berwudhu

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya:

“Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudu.” (HR Abu Daud dan Ahmad)

3. Menahan diri (diam)

Nabi saw. bersabda,

 

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

 

Artinya:

‘”Apabila salah seorang kamu marah, hendaklah diam (dulu).” (HR Ahmad)

4. Mengubah posisi dengan duduk atau berbaring

Nabi saw. bersabda,

 

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْتَجِعْ

 

Artinya:

“Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaknya duduk! Kalau marahnya belum pergi (hilang), hendaknya berbaring!” (HR Ahmad)

5. Mengingat-ingat ganjaran bagi yang mampu manahan dan bahaya bagi yang melampiaskan marah. Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

Artinya:

“Siapa yang menahan marahnya, padahal mampu meluapkannya, akan Allah panggil di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR Abu Daud)

Dalam keadaan puasa jika ada orang yang marah, katakan, “Saya sedang berpuasa.” (إني صائم).

Dengan demikian, pertengkaran dapat dihindari dan kita pun tidak terseret ke dalam situasi perselisihan.

Jika itu kita biasakan, puasa kita bermakna, hati kita tenang, tensi menurun, dan insyaallah jasmani rohani sahat. Amin!

Wana’uzu billah minasy-syaithanir-rajim.

Wassalamualaikum wr. wb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan Rapid Test di Makassar akan digratiskan, khususnya bagi mereka yang...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan Sedekah PALONTARAQ.ID - "Apakah saya sudah bersedekah hari ini?" Pertanyaan ini...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Fikih

  Lihat pula: Materi Khilafah digeser dari Fikih ke Sejarah, Untuk Apa? PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Fikih

  PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Fikih, salah satu Mata Pelajaran Kepesantrenan untuk Kelas XI (Kelas II SMA/Aliyah) yang...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Tahfidz

  Mata Pelajaran : Tahfidz Kelas              : X (Kelas I SMA/Aliyah) Waktu           ...

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Al-Qur’an-Hadits

  Mata Pelajaran : Alquran-Hadits Kelas              : XI (Kelas II SMA/Aliyah) Waktu             : – Guru...

Must read

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan...

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you