Feature Pemberdayaan Masyarakat Titik Kastia, dari Membela Suami hingga Menjadi Pejuang Pangan

Titik Kastia, dari Membela Suami hingga Menjadi Pejuang Pangan

-

- Advertisment -

Foto bersama usai Diskusi Tematik Resiliensi di Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Titik Kastia bersama Pejuang Pangan lainnya usai Diskusi Tematik Resiliensi sebagai rangkaian peringatan International Woman’s Day (IWD 2020 di Kampung Likudengeng, Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel, (14/3/2020). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya:  Beatriks Rika, Petani Perempuan Pemulia Tanaman Padi

PALONTARAQ.ID – Satu penceritaan yang menarik dari Titik Kastia, petani perempuan asal Banggai, Sulawesi Tengah membuat penulis kagum. Dari yang awalnya ibu rumah tangga biasa, bangkit membela suami yang ditahan polisi karena memperjuangkan hak-hak tanahnya yang dirampas perusahaan melahirkan banyak kreatifitas ditengah konflik agraria yang dihadapinya.

Dalam Diskusi Tematik Resiliensi, masih dalam rangkaian kegiatan peringatan International Woman’s Day (IWD) 2020 (12-15/3/2020) yang digagas Oxfam Indonesia dan Perkumpulan Wallacea,  di Kampung Likundengeng, Desa Uraso Kabupaten Luwu Utara Sulsel, Titik Kastia menceritakan kisahnya sebagai korban penggusuran dari tanah garapannya.

Profil Titik Kastia sebagai Perempuang Pejuang Pangan di Media Mainstream. (foto: ist/palontaraq)
Profil Titik Kastia sebagai Perempuang Pejuang Pangan di Media Mainstream. (foto: ist/palontaraq)

Karena melawan, oknum polisi yang berkongsi dengan perusahaan menahan suaminya bersama 8 petani lainnya. Dari yang awalnya 9 petani ditahan, hari-hari berikutnya bertambah hingga ada 23 petani yang ditahan.

“Kami bingung harus mengerjakan apa jika suami kami ditahan. Selama ini kami hanya tahu bertani dan hidup dari lahan garapan. Jika suami kami ditahan, kami mau makan apa? Pada akhirnya muncullah kesadaran dan keberanian kami ke kantor polisi agar suami kami dilepas,” ungkapnya.

“Karena kami melawan, kami kemudian mendapatkan banyak teror dan intimidasi dari pihak perusahaan. Beberapa petani malahan diculik tengah malam, kemudian ditahan di kantor polisi setempat. Kami kira ini perbuatan orang perusahaan yang telah melapor sepihak kepada pihak kepolisian. Tindakan orang perusahaan ini yang malahan membuat kami bersemangat memperjuangkan hak-hak kami,” tambahnya.

Camping Gathering para pejuang pangan dan duta muda berdaya berkarya di Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel, 12/3/2020. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Camping Gathering para pejuang pangan dan duta muda berdaya berkarya di Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel, 14/3/2020. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Demikianlah Titik Kastia mengawali cerita perjuangannya di Tahun 2010 dan 2011. Setelah suaminya dan petani lainnya dilepaskan dari tahanan polisi, akhirnya para petani di kampungnya mengakui bahwa perempuan bisa juga berjuang dan dapat diandalkan berperan di sektor pertanian, meski tetap menjalankan tugas domestiknya sebagai Ibu Rumah Tangga.

Di desanya, Piondo Banggai, ada kemudian munculnya kesadaran para petani bahwa perempuan bisa juga terlibat dalam kegiatan pertanian, bahkan di awal-awal perjuangannya Titik Kastia juga menyempatkan mengajar anak TK untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Akhirnya Titik Kastia membentuk kelompok tani, untuk mengatasi nafkah berkurang setelah suami ditahan. Bersama 5 perempuan petani lainnya membentuk koperasi yang dinamainya Koperasi Perempuan Harapan Piondo (KPHP).

“Awalnya jumlah Anggota KPHP hanya 6 orang dengan simpanan pokok Rp 50 ribu. Alhamdulillah, sekarang anggotanya 53 orang, dan sudah membuka usaha simpan pinjam koperasi dengan modal awal 43 juta. Usaha lainnya adalah pengolahan hasil panen, pupuk dan jahe,” ungkapnya.

Diskusi Tematik Resiliensi dalam Camping Gtahering IWD 2020 di Kampung Likudengeng, Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel, (12/3/2020). (foto: mfaridwm/palontaraq)
Diskusi Tematik Resiliensi dalam Camping Gtahering IWD 2020 di Kampung Likudengeng, Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel, (12/3/2020). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Cara petani melawan perusahaan adalah membentuk Serikat Petani Piondo (SPP). Salah satu Tuntutannya adalah meminta perbaikan jalan ke perusahaan. “Karena selama ada perusahaan, jalanan menjadi rusak. Hampir setiap saat dikeruk pakai alat berat. Kami juga melawan perusahaan dengan sistem pendudukan. Perusahaan menanam, warga juga menanam disampingnya. Pada akhirnya itu perusahaan mengalah dan pergi,” imbuhnya.

Kini, Titik Kastia bersama petani lainnya dalam Serikat Petani Piondo mengelola tanah seluas 835,5 hektar yang terbagi atas lahan sawah seluas 250 hektar dan lahan kering seluas 603,5 hektar.

Dengan dibantu KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria), para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Piondo tersebut mengupayakan budidaya minyak nilam (minyak suling) yang saat ini harganya mencapai 570 ribu/kg, pertanian organik, serta pengolahan jamu rimpang (jahe), temu lawak dan temu putih.

Penulis bersama Pejuang Pangan asal Banggai, Titik Kastia. (foto: ist/palontaraq)
Penulis bersama Pejuang Pangan asal Banggai, Titik Kastia. (foto: ist/palontaraq)

Serikat Petani Piondo juga menanam tanaman non padi yang strategis, seperti jahe merah. Dengan pertanian tersebut, pendapatan ekonomi petani meningkat dan itu secara bertahap membuat para petani setempat menjadi berdaulat.

Di sisi lain, Koperasi Perempuan yang digagas Titik Kastia membangkitkan semangat perempuan, berinovasi dan memberi nilai tambah produk turunan jahe, seperti gula merah jahe bubuk, sabun jahe, minyak urut jahe, biskuit jahe, tingting jahe, sagon jahe serta beberapa produk bubuk siap konsumsi seperti kunyit bubuk, temu lawak bubuk, dan kencur bubuk.

Inilah berkah kreatifitas Titik Kastia sebagai perempuan yang tidak berpangku tangan ketika suami mengalami kesulitan. Tak hanya sampai disitu, Ia memotivasi para perempuan di Desanya yang awalnya hanya Ibu Rumah Tangga bangkit membantu suami, mendampingi dalam perjuangannya melawan arogansi perusahaan, dan para akhirnya menemukan irama sendiri dalam kebangkitan dan persatuannya yang berujung pada berdaulatnya para petani dan meningkatnya kesejahteraannya. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you