Sejarah Wisata Sejarah ke Museum Nasional RI

Wisata Sejarah ke Museum Nasional RI

-

- Advertisment -

Penulis di depan Gedung Museum Nasional. Disebut juga Museum Gajah karena Patung Gajah di depannya. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Gedung Museum Nasional. Disebut juga Museum Gajah karena Patung Gajah di depannya. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Sejarah Museum Nasional

PALONTARAQ.ID – Museum merupakan destinasi wisata edukasi yang baik bagi pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan bahkan peneliti. Museum sebagai tempat bercermin dari keseluruhan proses sejarah dan budaya yang pernah dilalui suatu daerah, etnis, bangsa dan negara.

Di kekinian, kunjungan ke Museum meningkat, bukan hanya sebagai tempat pembelajaran sejarah, tapi sebagai tuntutan eksistensi. Itulah sebabnya banyak pengunjung museum hanya datang untuk mencari spot Instagramable.

Museum Nasional RI (Republik Indonesia), atau yang biasa disebut dengan Museum Gajah merupakan salah satu destinasi wisata edukasi yang menjadi favorit di Jakarta Pusat. Terletak di Jalan Medan Merdeka Barat berdekatan dengan Kawasan Monas dan Perpustakaan Nasional RI.

Penulis di depan Patung Pusaran Sejarah. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Patung Pusaran Sejarah. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu event yang dilaksanakan di Museum Nasional (foto: ist/palontaraq)
Melacak Jejak – Jaap Kunst, “Suara dari Masa Lalu”, Salah satu event yang dilaksanakan di Museum Nasional (foto: ist/palontaraq)

Pada bagian tengah halaman depan Museum Nasional, Para pengunjung akan mendapati patung besar berbentuk pusaran. Inilah karya indah yang bercerita soal arus perjuangan sejarah hingga mencapai pada tujuan akhir yang lebih baik, karya dari pematung Nyoman Nuarta berjudul “Kuyakin sampai di sana” yang dibuat pada Tahun 2012.

Lihat pula: Yuk, belajar di Museum

Ketika sampai di Museum Nasional ini, pikiran penulis langsung ada keinginan untuk mengajak Anak-anak, pelajar dan santri yang ada di lingkungan sekolah tempat mengajar.

Penulis saat mengunjungi Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)
Penulis saat mengunjungi Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Patung Ganesha, salah satu koleksi Museum Nasional yang sedang dalam perbaikan. (foto: ist/palontaraq)
Patung Ganesha, salah satu koleksi Museum Nasional yang sedang dalam perbaikan. (foto: ist/palontaraq)

Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Suatu kesyukuran bagi penulis, dapat menjejak Museum Nasional, menorehkan tanda tangan di buku tamu, dan selanjutnya melakukan eksplorasi dalam dimensi ruang dan waktu sejarah panjang Nusantara pada setiap bangunan dan ruang dalam Museum Nasional.

Bersama dengan penulis, ada beberapa guru sejarah yang mengantar anak didiknya memasuki selasar dan ruang pamer ratusan prasasti dan arca di Gedung A Museum Nasional. Menarik sekali, Guru-guru Sejarah itu seperti yang penulis sering lakukan saat membawa anak-anak mengunjungi Museum Kota Makassar, Museum La Galigo di Fort Rotterdam, Benteng Sombaopu, dan destinasi wisata sejarah lainnya.

Lihat pula: Peristiwa Penting dari Sejarah Nusantara Abad ke-17

Selain memantapkan pembelajaran Sejarah Nasional, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Museum Nasional untuk mencari spot yang instagramable. Akh, bagi penulis, setiap sudut ruang kesejarahan adalah instagramable.

Tak sedikit muda-mudi ataupun wisatawan mancanegara yang datang dan berfoto di spot ruang prasasti dan arca di Gedung A Museum Nasional ini, begitu pula di gedung lainnya.

Patung Bhairawa Budha, dari Abad XIII-XIV. (Koleksi Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung Bhairawa Budha, Adityawarman, dari Abad XIII-XIV, Koleksi Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Salah satu arca, Koleksi Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salah satu arca, Koleksi Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada sisi bagian dalam, koleksi benda-benda bersejarah terbagi dalam dua sisi, yakni pada sisi Galeri Selasar Selatan dan Galeri Selasar Utara. Galeri Selasar Selatan menyimpan koleksi sejarah berupa arca dan bagian bangunan dari masa klasik Indonesia pengaruh Hindu-Budha dari Abad VIII hingga Abad X Masehi.

Sementara untuk Galeri Selasar Utara, menampilkan arca-arca dan bagian bangunan dari masa klasik Indonesia Abad XIII hingga Abad XV Masehi. Arca-arca ini berasal dari perkembangan Kerajaan Singasari yang dibuat dalam wujud dewata dan juga hewan yang berasosiasi dengan dunia Dewa-dewa.

Tak hanya pesona kesejarahan itu, dari sisi halaman hijau yang terletak di tengah-tengah antara sisi Galeri Selasar Selatan dan Galeri Selasar Utara itu, terdapat beberapa patung peninggalan sejarah di atasnya, menjadi spot favorit bagi para pengunjung untuk mengambil foto.

Halaman Hijau Gedung A. (foto: ist/palontaraq)
Halaman Hijau Gedung A – Penuh dengan ratusan arca dan prasasti diantara selasar, koleksi sejarah dari Zaman Sriwijaya, Singasari, Majapahit, dan kerajaan Hindu-Budha lainnya, merupakan koleksi sejarah dalam Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Menurut Pemandu Museum, Sayap baru Museum Nasional ini ditambahkan pada Tahun 1996 di sebelah utara gedung lama. Gedung inilah yang disebut dengan Unit B atau Gedung Arca.

Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional atau Museum Gajah banyak mengoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara, diantaranya berupa arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuno lainnya dan barang-barang kerajinan.

Kesemua koleksi dalam Museum Nasional tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relief sejarah, buku langka dan benda berharga.

Patung Gajah di depan Gedung Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung Gajah di depan Gedung Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada Tahun 2006 jumlah koleksi museum sudah melebihi 141.000 buah, meskipun hanya sepertiganya yang dapat diperlihatkan kepada khalayak.

Sumber koleksi berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda serta pembelian sehingga koleksi etnografi Indonesia di Museum Nasional ini cukup lengkap.

Penulis bagian tengah depan Gedung Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)
Penulis bagian tengah depan Gedung Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bagian tengah depan Gedung Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)
Penulis bagian tengah depan Gedung Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Bentuk edukasi yang bisa pengunjung Museum Nasional dapatkan, bukan hanya dari sajian koleksinya, namun juga kegiatan yang dilaksanakan di Museum Nasional dalam bentuk seminar, diskusi, pameran dengan tema khusus dan lokakarya. Pengunjung bisa mencari tahu tentang event di Museum Nasional lewat website resminya (klik DISINI).

Untuk koleksi Naskah-naskah manuskrip kuno tersebut saat ini lebih banyak disimpan dan dalam pemeliharaan Perpustakaan Nasional RI. Karena itu jika mengunjungi Museum Nasional RI, tak lengkap rasanya jika tak juga mengunjungi Perpustakaan Nasional RI. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you