Kami ingin jadi Umat Rasulullah SAW, bukan followernya Mahfud MD

by Penulis Palontaraq | Selasa, Des 3, 2019 | 68 views
foto: nasjo/palontaraq

foto: nasjo/palontaraq

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya: Papua Membara, Mahfud MD kok Bungkam?

PALONTARAQ.ID – “Ada yang mengatakan ‘Pak, bapak bilang tidak ada khilafah, tapi kan Nabi Muhammad itu mendirikan khilafah?’ Iya, tetapi khilafah itu bukan ajaran baku karena yang didirikan Nabi Muhammad itu tidak boleh diikuti,”  [Mahfud MD, 2/12]

Menkopolhukam Mahfud MD dalam acara Pembukaan Rapat Koordinasi Dakwah Nasional MUI yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat (2/12) menjelaskan ada tiga jenis Radikalisme. Mulai dari Radikalisme takfiri, Radikalisme jihadis, hingga Radikalisme dalam bentuk wacana Ideologi.

Dalam kesempatan itu, Mahfud MD juga menegaskan bahwa khilafah itu didirikan Nabi Muhammad SAW, namun karena khilafah bukan ajaran baku maka ajaran itu tidak boleh diikuti.

Pernyataan ini unik, penuh kontradiktif. Satu sisi, Mahfud MD mengakui Khilafah ajaran dari Nabi SAW, sementara disisi yang lain Mahfud MD meminta tidak boleh diikuti karena tidak bukan ajaran baku.

Karenanya, pernyataan Mahfud ini perlu diluruskan dari beberapa aspek :

Pertama. Metodologi untuk memverifikasi apa-apa yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW itu adalah dengan mengecek apakah riwayat itu Sahih atau tidak. Jika Sahih wajib dipedomani, jika dhaif wajib diingkari.

Mengenai ajaran Khilafah, itu ukurannya apakah hadits yang meriwayatkan tentang adanya khilafah, akan kembalinya khilafah, juga atsar sahabat ridwanullah yang ijma’ mempraktikkan khilafah itu Sahih atau tidak. Jika semua riwayat dan atsar Sahabat tentang khilafah Sahih, umat Islam wajib mengikuti.

Faktanya khilafah itu memang ajaran Nabi Muhammad SAW dan Sejarah telah mencatat khilafah dipraktikkan oleh Para Sahabat, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abbasiyah hingga yang terakhir di Kekhalifahan Turki Utsmani.

Tak ada satupun Ajaran Islam yang memferifikasi Ajaran Islam dengan metode baku atau tak baku. Contoh: menggerakan jari telunjuk saat tasyahud dalam Shalat itu tak baku, ada yang sejak tasyahud telunjuk di acungkan, ada saat pembacaan syahadat telunjuk baru diacungkan, ada juga sejak awal tasyahud telunjuk diacungkan dan digoyang-goyangkan.

Bagi ahli ilmu perbedaan ini hal biasa, dan seluruh Umat Islam boleh mengambil salah satu kaifiyah untuk dipraktikkan dalam Shalat. Jadi, tidak dengan logika baku tak baku maka tadyahud tidak perlu mengacungkan jari telunjuk.

Dalam kaidah Ushul Fikih itu ada methode kompromi, yakni menjamu (mengumpulkan) semua dalil dan jika memungkinkan dipraktikkan keseluruhannya, sepanjang dalilnya Sahih.

Sampai disini, nampaknya Mahfud MD tak paham kaidah ushul fiqh, kebisaan Mahfud MD hanya fasih dalam kaidah baku tak baku.

Kedua, Perbedaan praktik khilafah juga secara mateeril tak bisa dianggap ajaran khilafah tak baku. Ini sama persis, ketika demokrasi menggunakan Pilpres langsung atau perwakilan melalui DPR-MPR.

Baik dipilih langsung atau melalui wakilnya di DPR MPR, Presiden yang terpilih tetap sah. Lantas, apakah kemudian Mahfud MD juga menuding demokrasi tak baku? Karena ada perbedaan tata cara memilih Presiden?

Khilafah yang dipraktikkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya itu hanya beda terkait cara, bukan substansi. Khilafah itu sendiri memiliki substansi baku, yakni:

Tidak dianggap Khilafah jika pemimpinnya tidak dilantik dengan baiat, tidak disebut khilafah jika hukumnya bukan dari Al Quran dan As Sunnah, tidak disebut khilafah jika adopsi hukum dan perundangan diadopsi oleh selain khalifah.

Sederhananya, ada 4 pilar baku substansi khilafah, yakni : kedaulatan ditangan syara’, kekuasaan ditangan umat, hanya khilafah yang boleh melegislasi hukum dan perundangan, wajibnya hanya membaiat seorang Khalifah dan haramnya Kaum Muslimin kosong dari baiat kepada Khalifah.

Semua ini baku, jika salah satu tidak ada maka tidak bisa lagi disebut khilafah. Misal, mengaku negara khilafah tetapi hukumnya KUHP bukan hukum Al Quran dan As Sunnah. Maka, klaim khilafah seperti ini batal.

Ketiga, Telah ada pengakuan Mahfud MD bahwa khilafah ajaran Nabi SAW. Pernyataan ini cukup untuk menutup diskusi dengan pilihan: apakah umat ini akan mengikuti ajaran Nabi SAW sebagaimana dipraktikkan oleh para sahabat, atau justru followersnya Mahfud MD dengan jurus ‘baku tak bakunya’?

Bagi Orang-orang beriman, tentu lebih memilih mengikuti Rasulullah SAW, terikat dengan ijma’ sahabat, ketimbang ikut ajarannya Mahfud MD.

Diakherat kelak, kita tidak akan ditanya apakah praktik beragama kita baku atau tak baku, tetapi apakah kehidupan kita mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Ngeri sekali jika ada Umat Islam menolak Khilafah, mengikuti pendapat Mahfud MD. Di Akherat kelak, orang seperti ini akan digolongkan menjadi followersnya Mahfud MD.

Tentu kita tidak ingin seperti itu, kita akan konsisten mengikuti apapun yang diperintahkan Nabi SAW sepanjang ada dalil. Kita tak peduli, apakah yang dicontohkan Nabi SAW dan dipraktikkan para sahabat itu baku atau tak baku.

Alhasil, biarlah Mahfud MD terus menggonggong, khilafah tetap terus berlalu hingga saat yang ditetapkan, pertolongan Allah SWT tiba. Saat itu, umat akan kembali membaiat Khalifah dan kembali pada kemuliaannya. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response