Sesat Pikir ala Ma’ruf Amin

Wapres Ma'ruf Amin. (foto: ist/palontaraq)

Wapres Ma’ruf Amin. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya: Wapres latah!

PALONTARAQ.ID – Wakil Presiden (Wapres) RI, Ma’ruf Amin meminta Polisi dan Pemerintah Daerah untuk mengawasi Masjid-masjid. Dalihnya, ada ulama atau ustadz yang dalam acara dakwahnya mengandung narasi kebencian. (22/11).

Ma’ruf juga meminta dilakukan pendataan yang jelas masjid mana saja yang berpotensi terpapar narasi kebencian. Menurutnya, masjid perlu pembinaan supaya tidak menebar narasi-narasi kebencian, permusuhan, tapi sebaliknya membangun narasi kerukunan.

Pernyataan Wapres Ma’ruf Amin ini, jelas sangat bertentangan dengan logika dan akal waras dan bagi siapapun yang masih memiliki iman, disebabkan :

Pertama, agama Islam selain memuat ajaran untuk taat kepada Allah SWT juga menyeru pemeluknya untuk berlepas diri dari setan. Mengajak mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, sekeligus menyeru untuk meninggalkan maksiat dan membenci segala bentuk kemaksiatan.

Kebencian kepada kemaksiatan adalah ajaran agama Islam, sementara Ma’ruf Amin tak menyebut kebencian apa yang dimaksudnya, standarnya apa. Sehingga, pernyataan gebyah uyah (baca: generalisasi) yang Ma’ruf Amin sampaikan justru merupakan suatu narasi kebencian, yakni kebencian kepada masjid dan ajaran agama Islam.

Kedua, jika sasaran objek adalah adanya ‘kebencian’ tentu sasarannya sangat keliru jika hanya diarahkan kepada masjid. Sebab, narasi kebencian juga berpotensi terjadi di Wihara, Pura, Klenteng bahkan Gereja.

Berita Mainstream dari CNN Indonesia. (foto sc:/ist/palontaraq)

Berita Mainstream dari CNN Indonesia. (foto sc:/ist/palontaraq)

Lantas, kenapa Ma’ruf Amin hanya menuding masjid? Kenapa Ma’ruf tidak meminta polisi dan Pemda juga mengawasi Gereja? Kenapa sasarannya hanya kepada dakwah ustadz dan ulama? Kenapa tidak diterapkan pada Para pengakhotbah gereja?

Ketiga, belum ada bukti faktual hubungan kasualitas antara kebencian dan masjid. Justru, masjid selama ini menjadi tempat pertaubatan, tempat ibadah, tempat hamba mendekatkan diri kepada-Nya.

Lantas, dari mana asal kebijakan untuk mengawasi masjid? Apakah ini bersumber dari sentimen Islamophobia rezim?

Keempat, tuduhan ini juga diberlakukan general kepada seluruh masjid sehingga justru akan memecah-belah ukhuwah dan rasa persatuan diantara pengurus masjid. Frasa ‘masjid terpapar’ tidak dijelaskan rinci maksudnya.

Karena itu, pernyataan ini bisa menjadi ajang saling klaim dan saling tuduh antara masjid. Mengklaim sebagai masjid damai dan menuding masjid lainnya menganut dan menyebarkan kebencian.

Kelima, jika yang dimaksud kebencian itu adalah kritik ulama kepada kebijakan Pemerintah yang zalim, justru menjadi tugas dan tanggungjawab ulama untuk melakukan muhasabah (koreksi) terhadap penguasa.

Posisi ulama adalah penyambung lidah umat, untuk mengoreksi kesalahan rezim melalui pengetahuan dan ilmunya.

Ajaran muhasabah kepada penguasa ini hanya ada pada Islam. Sebab agama Hindu, Budha, Konghucu, Kristen dan Katolik memang tak memiliki norma untuk mengatur urusan kekuasaan dan bagaimana melakukkan koreksi terhadapnya.

Jadi sakit sekali batin ini, ditengah sulitnya membuat program untuk memakmurkan masjid, mengajak manusia taat dan beribadah ke masjid, Ma’ruf Amien justru menebar narasi tudingan dan kebencian kepada masjid.

Andai Allah SWT tak memberi umur panjang kepada Ma’ruf Amien, celaka sekali nasibnya jika kelak menemui ajal sementara dirinya belum bertaubat dari pikiran yang menebar tudingan dan kebencian kepada masjid. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response