Oleh: Nasrudin Joha
Tulisan sebelumnya: Sukmawati bandingkan Al-Qur’an dengan Pancasila, Nabi SAW dengan Soekarno. Ini Jawaban kami!
PALONTARAQ.ID – Perih, rasanya lebih dahsyat dari tersayat sembilu. Duka yang kurasa begitu terasa, mendalam dan getah nestapanya begitu pekat.
Rasa sakit tak terperi, karena Junjungan Nabi yang mulia dinistakan Wanita Durjana.
Ya Nabi, Ya Rasul,
Akan Kemana kukabarkan duka ini? Kepada penguasa yang justru menjadi pangkal musibah?
Atau kepada ulama yang menjadi ‘mahkota’ ulamanya di negeri ini yang mengaku menyesal telah membela agamanya?
Menyesal, kesaksiannya telah menyebabkan penista agama masuk penjara?
Kepada ulama lurus yang sulit kurengkuh? Yang atas dukaku, ia berseloroh agar aku mengadukan pada ulama yang lain?
Pada ulama yang telah menyesal membela agamanya ?
Tak ada satupun insan yang bisa menyamai keagunganmu duhai Rasul. Tak layak makhluk apapun disandingkan untuk diperbandingkan atasmu duhai Nabi.
Namun nyatanya di negeri dongeng ini, sosok kemuliaanmu dilecehkan dengan seonggok noktah sejarah, yang boroknya makin terkuak karena ulah nasabnya sendiri.
Sejarah negeri ini yang rindu memeluk dan tunduk pada syariah Islam, lalu dikhianati atas dalih persatuan dan demi menjaga kebhinnekaan.
Aku mulai berputus asa, pada harap terhadap penegak hukum. Parade kerusakannya telah melampau derajat kerusakan yang akut.
Aku tiada mungkin menggantang lautan, menakar kerikil dilaut lepas dan menghitung buliran pasirnya. Ketiadaberdayaan ini menuntunku hanya mengeluh kepada-Mu ya Rabbi.
Memohon agar ‘Tangan-Mu’ kembali menolong kami, menyantuni kepapaan kami, ketidakberdayaan kami atas semua kezaliman ini.
Ya Nabi, Ya Rasul,
Di Bulan Maulid ini, kami berlomba mengagunganmu. Mengirim sholawat dan salam untukmu. Namun, seorang wanita durjana justru merendahkanmu, kemudian berdalih mencintaimu.
Sesiapa saja yang membaca risalah ini, anggap saja ini ditujukan kepada Anda, mengajak Anda untuk ikut menanggung duka, mengajak Anda berbagi derita. Derita tak terperi karena wibawa sang Nabi dinodai.
Risalah ini mengajak Anda, mengetuk pintu-pintu langit, menghiba kehadirat yang maha kuasa, agar Allah SWT memberi pertolongan kepada kita.
Pertolongan yang akan memberikan rasa cinta yang mendalam kepada Rasululah Muhammad SAW, ridha berjuang dan berkorban apapun untuk kemuliaan beliau SAW.
Tak ada jalan lain, agar tak ada lagi pencederaan terhadap agama dan kemuliaan Rasulullah SAW, kecuali umat ini kembali berhukum kepada hukum Allah SWT, dan berusaha sekuat tenaga untuk menegakkannya dalam kehidupan nyata.
Saat Syariah Allah SWT ditegakkan, saat Islam diterapkan, InsyaAllah tak akan ada lagi mulut lancang yang berani mencederai kemuliaan sang Nabi. [*]


