Khutbah Jumat: Menjadi Muslim Ideal

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

MENJADI MUSLIM IDEAL *)

Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., MA, Wakil Ketua, PW Ikadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

 

Khutbah Pertama

الْـحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الْـمِلَّة، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَة، وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّة

وَبَعَثَ رَسُوْلاً لِيَكْشِفَ عَنَّا الْغُمَّة، وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُناَ الْكِتَابَ وَالْـحِكْمَة.

أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْـجَمَّة، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه

شَهَادَةً تَكُوْنُ لِلْمُؤمِنِيْنَ خَيْرَ عِصْمَة، وَأَشْهَدُ أنَّ محمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ لِلْعَالَـمِيْنَ رَحْمَة

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صلاةً تَكُوْنُ لَنَا نُوْراً مِنْ كلِّ ظُلْمةٍ، وسلَّم تَسليماً كثيراً

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: ((يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ))

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai utusan Allah telah menjelaskan kepada kita bagaimana memandang dunia ini dengan cara yang benar. Akan tetapi, sebagian orang salah memahami ajaran Nabi.

Maka timbullah persepsi-persepsi yang keliru terhadap dunia. Kita melihat, ada orang-orang beranggapan bahwa dunia hanyalah jembatan menuju akhirat.

Menurutnya, seorang muslim yang baik adalah yang hanya beramal untuk akhiratnya dan meninggalkan dunia sama sekali. Ia lupa, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan risalah Islam dengan tujuan agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat.

Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا 

Artinya:

“Dan carilah sesuatu yang Allah berikan kepadamu (yaitu) kampung Akhirat, dan janganlah engkau lupa bagianmu di dunia.” (Qs. Al-Qashash: 77)

Maka tidak salah jika seorang muslim beramal untuk dunianya. Bahkan, menjadi kewajiban seorang muslim untuk memakmurkan dunia, karena hal itu merupakan salah satu tujuan penciptaannya.

Dalam Alquran, Allah telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, yaitu; pertama; beribadah dan mengabdi kepada Allah. Dan yang kedua; memakmurkan bumi.

Maka manusia sebagai“Khalifatullah” (wakil Allah di bumi) mempunyai tugas untuk menjaga, membangun dan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua penduduk bumi. Dua tugas ini Allah jelaskan dalam Alquran.

Mengenai tugas yang pertama, Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Artinya:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariyah: 56))

Masjid Amirul Mukminin, Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Masjid Amirul Mukminin, Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sedangkan tugas untuk menjadi Khalifatullah Allah sampaikan dalam ayat:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً 

Artinya:

“Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: Aku akan menjadikan (manusia) sebagai khalifah di bumi.” (Qs. Al-Baqarah: 30)

Tidak semua yang ada di dunia ini buruk dan dicela. Justru seorang muslim bisa menjadikan dunia sebagai sarana untuk menggapai ridha Allah dalam makna yang sangat luas. Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Lihatlah aktifitas beliau sehari-hari. Sebagaimana beliau adalah seorang ahli ibadah yang menghabiskan malamnya untuk bermunajat kepada Allah, beliau juga seorang panglima yang memimpin kaum muslimin dalam menahan serangan musuh.

Sebagaimana beliau adalah seorang guru yang setiap hari menyampaikan ayat dan ajaran Allah SWT, beliau juga adalah seorang pemimpin masyarakat yang hadir untuk melakukan sidak di pasar, mendamaikan orang yang berseteru, menerima duta-duta dari kabilah dan negeri lain dan tugas kemasyarakatan lainnya.

Itulah keseimbangan yang menjadikan Islam hidup di dalam jiwa Rasulullah dan menjadi sumber kemakmuran masyarakat.

Masjid 99 Kubah, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Masjid 99 Kubah, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Tugas sebagai wakil Allah untuk memakmurkan bumi menuntut kita untuk mengimplementasikan ajaran Islam secara menyeluruh dalam semua sendi kehidupan.

Maka seorang muslim tidak boleh terasing dari lingkungan pekerjaannya, pergaulan sosialnya dan juga kehidupan bernegara secara umum. Ia harus memahami realitas kehidupannya dan berinteraksi secara aktif untuk mentransfer nilai-nilai ke-Islaman ke dalam semua sendi kehidupan.

Sikap acuh tak acuh dan tidak peduli dengan kondisi umat adalah kesalahan yang akan berdampak luas dalam kehidupan umat Islam.

Secara umum, -dalam masyarakat kita-, ada beberapa tipe kaum muslimin dalam berinteraksi dengan realitas kehidupannya;

Yang pertama; Orang yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk dunia. Hal yang dipikirkan dan dilakukannya adalah bagaimana mendapatkan sebanyak-banyaknya kesenangan. Ia bekerja membanting tulang untuk mendapatkan harta yang bisa digunakan untuk memuaskan syahwatnya.

Orang-orang seperti ini tidak ubahnya seperti hewan ternak yang hanya makan, minum, dan menikmati apa yang bisa dinikmati dari dunianya. Allah menggambarkannya dalam Alqur’an:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Artinya:

“Dan orang-orang kafir bersenang-senang dan makan sebagaimana hewan ternak, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Qs. Muhammad: 12)

Perhatikan bahwa Allah menyebut karakter tersebut dimiliki oleh orang kafir, yaitu mereka yang tidak beriman kepada Allah dan tidak percaya adanya balasan di akhirat.

Maka akan menjadi sangat buruk jika sifat itu dimiliki oleh seorang yang beriman. Karena seorang mukmin seharusnya sadar bahwa perbuatannya akan diberikan balasan di akhirat.

Bagaimana mungkin ia hanya memikirkan dunia yang sementara dan melalaikan persiapan menuju akhirat yang kekal? Tapi pada kenyataannya, ada sebagian kaum muslimin yang mempunyai karakter tersebut.

Yang kedua; orang yang mengasingkan diri dari lingkungan sosialnya. Baginya, kehidupan bahagia adalah yang dijalaninya sendiri, tanpa perlu mempedulikan masyarakat di sekitarnya.

Sebagian mereka mempunyai prinsip: yang penting saya tidak berbuat jahat kepada orang lain. Dia tidak mau merepotkan, juga tidak mau direpotkan orang lain. Ia tidak menjadi beban, tapi juga tidak mempunyai kontribusi positif bagi lingkungannya.

Tidak ada dampak apapun dari keberadaanya di tengah-tengah masyarakat.  Wujudnya sama dengan ketiadaanya. Tidak ada yang merasa terganggu dengan keberadaanya, dan tidak ada yang merasa kehilangan atas ketiadaannya.

Dalam terminologi syariat, ini disebut dengan Uzlah. Terdapat perbedaan dikalangan ulama mengenai mana yang lebih utama; apakah Uzlah (mengasingkan diri) atau bergaul dengan masyarakat?

Secara umum kita bisa menyimpulkan bahwa Uzlah dibenarkan dalam kondisi fitnah yang sangat besar yang membuat seseorang tidak mampu melaksanakan ajaran agamanya jika bergaul dengan masyarakat.

Atau dalam kondisi dimana tidak ada lagi kebaikan di masyarakat dan semua orang menentang Allah ta’ala. Maka dalam situasi tersebut, lebih utama bagi seorang mukmin untuk mengasingkan diri sebagaiman dilakukan oleh sebagian Nabi dan utusan Allah.

Akan tetapi jika motivasi untuk mengasingkan diri hanya karena tidak ingin direpotkan, atau bahkan karena sikap apatis terhadap kondisi umat, maka ini adalah hal yang dicela oleh Rasulullah SAW.  Hal ini bisa kita lihat dalam sabda beliau:

مَنْ لَمْ يَهْتَمْ بِأَمْرِ الْـمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

Artinya:

“Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (Hr. Ath-Thabrani)

Rasulullah SAW juga bersabda:

الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Artinya:

“Seorang muslim jika bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka adalah lebih baik, daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan gangguan mereka.” (Hr. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani)

Dalam menjelaskan hadis ini, ash-Shan’ani berkata: “Hadis ini menjelaskan keutamaan bergaul dengan masyarakat dan melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka.

Juga berinteraksi kepada mereka dengan baik. Ini lebih utama daripada orang yang mengasingkan diri dan tidak bersabar dalam bergaul.”

Yang ketiga; orang yang selalu menyalahkan faktor eksternal dalam segala hal. Ia mempunyai kesadaran bahwa umat Islam tidak dalam kondisi yang baik, akan tetapi selalu menyalahkan orang dan pihak lain.

Bahkan sebagian meyakini teori konspirasi secara membabi buta, sehingga beranggapan bahwa segala yang terjadi di masyarakat adalah atas rekayasa musuh Islam.

Jika terjadi krisis ekonomi, maka itu disebabkan oleh Yahudi. Jika aspirasi umat dalam mengusung calon pemimpin tidak berhasil, maka itu juga rekayasa dari Amerika, dan seterusnya.

Bahkan jika dia mengalami kecelakaanpun ia akan mengatakan bahwa itu adalah perbuatan Musuh-musuh Islam.

Dampak negatif dari sikap ini adalah munculnya sifat rapuh dan tidak berdaya dalam merespon isu-isu kontemporer. Seakan-akan semua sudah dikuasai pihak lain, sehingga umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada gilirannya, akan timbul rasa putus asa dan keengganan untuk berkontribusi serta melakukan perbaikan. Ini tentunya sangat buruk dampaknya bagi kemajuan umat Islam itu sendiri.

Yang keempat; Orang yang melihat dunia secara obyektif dan proporsional. Baginya, dunia adalah tempat dimana ia mengoptimalkan potensinya untuk memberikan sebesar-besarnya kemanfaatan kepada seluruh makhluk hidup.

Ia juga meyakini bahwa ada kehidupan kekal yang harus disiapkan yaitu akhirat, maka ia bersungguh-sungguh untuk menjadi hamba Allah yang selalu hadir untuk memuji dan menyembahnya.

Ia melaksanakan dua misinya dengan baik; menjadi wakil Allah untuk memakmurkan bumi, dan menjadi hamba yang selalu beribadah kepada Allah.

Ia tidak menjauh dari masyarakatnya, karena ia merasa mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan mereka kepada jalan yang benar. Ia bersabar dengan ganggunan dan kesusahan yang di hadapi. Ia akan masuk dalam bidang yang kuasai, dan memotivasi orang lain untuk berkontribusi sesuai bidangnya.

Ia berkeyakinan, jika semua bidang diisi oleh orang-orang baik, maka keburukan akan sirna dengan sendirinya.  Maka orang-orang baik harus mengisi bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya, dan semua bidang kehidupan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْـمُؤْمِنُ يَأْلِفُ وَيُؤْلَفُ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَأْلِفُ وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ 

Artinya:

“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan membuat orang merasa nyaman. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau bergaul dan membuat orang tidak nyaman. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia lain.” (Hr. ath-Thabrani)

 

Jika ia seorang guru, maka ia mengajarkan adab, sebelum mentransfer pengetahun. Ia menjadi role model bagi muridnya, sebelum menyuruh mereka melakukan perintahnya. Jika ia seorang pedagang, ia jujur dalam berniaga.

Berusaha mendapatkan keuntungan yang halal, dan kemudian men-tasharuf-kan hartanya dalam hal yang halal. Jika ia seorang pemimpin, ia amanah dan adil dalam memimpin.  Ia tidak korupsi dan memperkaya diri. Ia mengayomi, melindungi, dan menjadi pemimpin untuk seluruh rakyatnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Inilah sikap ideal yang kita harapkan dimiliki oleh setiap muslim. Maka marilah kita berusaha mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita melihat dunia secara proporsional, dan menjadikannya sarana meraih ridha Allah.

Mari berkontribusi secara positif kepada lingkungan sekitar kita, bahkan kepada bangsa, negara dan seluruh umat manusia.

Mari mengaplikasikan nilai-nilai ke-Islamana dalam keseharian kita, dan mengajak orang lain untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Jangan apatis dengan kondisi masyarakat, dan jangan berputus asa dengan kondisi umat.

Kebangkitan Islam adalah keniscayaan yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Rasulullah SAW berjanji, Islam akan menjangkau seluruh pelosok dan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat manusia.

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

  لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَار. وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَر

إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ، أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ. عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ، وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ

Artinya:

“Dari Tamim ad-Dari, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Agama Islam ini akan menjangkau semua tempat yang dijangkau oleh siang dan malam. Dan tidaklah ada satu rumah pun, baik di kota, desa ataupun pelosok, kecuali Allah memasukkan ke dalamnya agama ini, dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengannya.” (Hr. Ahmad)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه

(يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَـمِيْن، حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا

مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقّ

وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِـمِيْن، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادِكَ الْـمُؤْمِنِيْن

اللهم وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا

اللهم اجْعَلْ وِلَايَتَكَ فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ

اللهم أَبْرِمْ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ أَمْرًا رَشِيْدًا، يُعَزُّ فِيْهِ أَهْلُ طَاعَتِك

وَيُذَلُّ فِيْهِ أَهْلُ مَعْصِيَتِك، وَيُؤْمَرُ فِيْهِ بِالْمَعْرُوْف، وَيُنْهَى فِيْهِ عَنِ الْمُنْكَر

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

(* Menjadi Muslim Ideal, Seri Naskah Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi 186, Jum’at 14 November 2019.

 

Like it? Share it!

Leave A Response