Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – Zaman Khalifah al-Walid bin Abdul Malik adalan zaman keemasan dan semegahan Bani Umayyah. Pada zamannya kekuasaan Daulat Bani Umayyah diperluas ke Timur dan Barat. Ke Timur sampai di Hidustan dan perbatasan Tiongkok dan ke Barat sampai di Spanyol dan Perancis bagian Selatan.
Di zaman al-Walid bin Abdul Malik inilah peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh pesat, bangunan-bangunan megah, masjid yang indah juga didirikan seperti masjid raya ‘al-Umawy’ di Damaskus dan juga diperbaharui masjid ‘An-Nabawy’ di Madinah.
Khalifah al-Walid juga dikenal dengan Khalifah yang pengasih dan penyayang kepada para fakir-miskin. Dia sangat memperhatikan hal-ikhwal rakyatnya dan senantiasa berusaha meringankan penderitaan rakyat yang melarat.
Ini dapat dibuktikan dengan usahanya mendirikan beberapa rumah sakit untuk orang yang menderita penyakit kusta dan sebagainya. Ia mendirikan tempat-tempat penginapan yang lengkap dengan penjaganya, menyediakan penunjuk jalan dan penghibur hati bagi orang buta.
PENAKLUKAN DI ZAMAN AL-WALID
Ke Daerah Timur
Laskar Al-Walid yang dipimpin oleh panglima Qutaibah bin Muslim telah sampai keseberang sungai Jihon dan sungai Sihon, menaklukkan negeri Bukhara dan Samarkand, yaitu dua negeri yang terletak di Asia Tengah dan mayoritas penduduknya dari bangsa Turki.
Dengan penaklukan ini berarti Daulat Islam meluas sampai pada kerajaan Tiongkok.
Ke Daerah Barat
Di antara penaklukan di zaman Al-Walid juga adalah ke daerah Maghribil Aqsha (Barat jauh) yang pada masa sebelumnya ummat Islam pernah mendudukinya namun kedudukan disana tidak kokoh karena bangsa Barbar selalu memberikan perlawanan. Pada masa inilah al-Walid memperkuat kedudukan ummat Islam disana.
Mereka senantiasa menaruh dendam kepada para Amir Arab yang memerintah merka, karena para Amir disana kerap kali memperlakukan mereka seperti rakyat jajahan, disamping seringnya tentara Byzantium membantu perlawanan mereka.
Untuk memerintah daerah yang selalu bergejolak itu, Khalifah al-Walid mengangkat Musa bin Nushair menjadi wali Afrika Utara. Berkata usaha al-Walid ini Maghribil Aqsha takluk Musa bin Nushair melanjutkan penyiaran agama Islam di daerah tepian laut Atlantik (selain kota Kueta).
Penaklukan Andalusia
Pada tahun 92 H (711 M) Musa bin Nushair memerintahkan perwira Thariq bin Ziad, seorang panglima terkenal dari bangsa Barbar, untuk pergi menaklukkan daerah Andalusia (Spanyol) yang ketika itu berada dibawah pemerintahan raja Gothia-Barat yang penuh dengan kedzaliman, penindasan dan penuh ketidak adilan.
Sebelum menyeberang ke daratan Eropa tersebut Thariq bin Ziad beserta laskarnya mempersiapkan diri di lereng sebuah gunung, yang sekarang dikenal dengan nama pemimpin itu yaitu Jabal Thariq yaitu Gunung Thariq, yang juga biasa disebut Giblartar, Selat yang diseberangipun dinamai dengan nama serupa.
Sesampainya di Andalus Panglima Thariq bin Ziad membakar armadanya beserta persediaan makanannya supaya tentara Islam tidak mempunyai fikiran untuk melarikan diri. Siasat Thariq ini membuahkan hasil, perjuangan menaklukkan Andalusia berhasil dan Thariqpun bisa membunuh raja terakhir Gothia-Barat yang zalim itu, dan memperisteri jandanya.
Dengan penaklukan ini Islam telah mengadakan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh dan besar-besaran, baik dari sistim kenegaraan, strata sosial dan segala segi kehidupan bermasyarakat.
al-Walid memerintah selama 9 tahun 7 bulan, ia wafat pada usia 42 tahun 6 bulan. Dimakamkan di Damaskus, sepeninggalnya diangkatlah saudara kandungnya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai pengganti. (*)


