Kritik buat Polisi

by Penulis Palontaraq | Kamis, Sep 26, 2019 | 20 views
Penggunaan kekerasan dalam menghalau aksi mahasiswa. (foto: ist/palontaraq)

Polisi dan Penggunaan kekerasan dalam menghalau aksi mahasiswa. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Dahulu, ketika aku masih kecil, menjadi polisi itu hebat, menjadi polisi itu bermartabat, menjadi polisi itu membanggakan. Tak jarang, diantara cinta-cita anak ketika ditanya mau jadi apa, selain ingin jadi insinyur dan dokter, juga ingin jadi polisi.

Dahulu ketika aku masih kecil, diantara keinginan anak membeli seragam tentara, juga ingin memiliki seragam polisi. Lengkap dengan topi dan sarung tangannya.

Dahulu, ketika dari kejauhan muncul sekelebatan orang berseragam polisi, seketika semua ingin mendekat. Ingin mengagumi polisi dari jarak yang lebih dekat, apalagi jika bisa berfoto dengan polisi, sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa.

Sekarang ? Beda zaman beda perlakuan, yang dahulu berbangga sekarang merasa ingin jaga jarak. Bahkan, kalau bisa seumur hidup tidak berurusan dengan polisi, lebih baik.

Sampai ke anak kecil pun, rasanya saat ini jarang atau mungkin sudah tak ada anak kecil yang bercita-cita ingin jadi polisi. Tak ada juga, kebanggaan ketika menggunakan seragam polisi-polisian.

Dari kejauhan, ketika seseorang melihat sekelebatan orang dengan seragam polisi, orang ingin cepat pergi. Kalau ada jalan yang berbeda, semua memilih mengambil jalan yang berbeda dengan jalan yang diambil polisi.

Banyaknya polisi nakal, polisi memalak, polisi arogan, polisi zalim, membuat rakyat menjaga jarak dengan polisi. Kalau dahulu, simbol kezaliman orde baru direpresentasikan oleh tentara. Rakyat dan mahasiswa membenci orde baru dan tentara. Karena, saat itu represifme menggunakan sarana militer.

Saat ini, represifme menggunakan sarana hukum. Dengan dalih menegakan hukum, rezim berlaku represif menggunakan sarana polisi. Semua pengkritik rezim dikriminalisasi menggunakan sarana polisi.

Ketika demo menyampaikan pendapat dimuka umum, rakyat diadu dengan polisi. Entah apa doktrin yang diajarkan, polisi mengambil tindakan kepada rakyat, kepada mahasiswa, dengan tindakan yang berlebihan. Seolah, negara tidak boleh kalah dengan pendemo.

Tapi giliran OPM, polisi berubah jadi unyu-unyu. Mirip kerbau yang dicucuk hidungnya. Polisi berubah menjadi organ paling humanis sedunia.

Namun, menghadapi mahasiswa, polisi berubah brutal, menendang, memukul, menembak, mengejar, bahkan hingga masuk masjid tanpa membuka sepatu. Dahulu, polisi seperti ini tidak ada, karena itu dahuli polisi dikenal pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat.

Jadi, jika saat ini ada yang benci pada polisi, ada rakyat yang mengambil jarak pada polisi, jangan salahkan rakyat. Sebaiknya, polisi evaluasi diri.

Ketika rakyat yang salah, dikejar dan dipidana dengan pasal hoax. Tapi ketika polisi ralat statement, bahwa benar ada polisi lancang masuk masjid tidak copot sepatu, meralat pernyataan sebelumnya yang menyebut peristiwa serupa sebagai hoax, tidak ada sangsi hukumnya.

Jadi, saat ini bukan hanya rakyat yang menjaga jarak dengan polisi. Mereka, keluarga atau yang masih memiliki hubungan dengan polisi juga malu. Kalaupun berbangga, itu didepan muka. Dibelakang, orang muak dan mengumpat pada polisi karena lazim berbuat zalim.

Wahai polisi, sadarlah. Kelak diakherat, Anda akan dihisab. Dan kelak, Anda tidak dapat berdalih kezaliman itu perintah atasan. Atasan Anda di dunia ini, kelak di akherat akan berlepas diri atas semua kezaliman yang Anda lakukan. [].

Like it? Share it!

Leave A Response