Sendaratari “Putri We Tadang Mpali” menguak Legenda Kelahiran Kerajaan Wajo

Pertunjukan Sendratari "Putri We Tadang Mpali". (foto: ist/gramha.net)

Pertunjukan Sendratari “Putri We Tadang Mpali”. (foto: ist/gramha.net)

Laporan: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Pertunjukan Seni Drama dan Tari (Sendratari), “Putri We Tadang Mpali” yang mengisahkan Legenda Cikal Bakal Lahirnya Kerajaan Wajo berlangsung semarak dan mengundang decak kagum.

Pertunjukan Sendratari “Putri We Tadang Mpali” dengan Koreografer Ida El Bahra dan Penata Musik AwaL Coko-Upi PabLo-Ime Percussion hadir sebagai salah satu acara dalam Festival Panji Nusantara di Tulungagung dan MaLang, Jawa Timur, 11-12 juli 2019.

Sendratari ini mengisahkan bahwa pada zaman dahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama Kerajaan atau Kedatuan Luwu, yang dipimpin oleh seorang Raja yang Arif dan Bijaksana.

Sang Raja, yang lebih dikenal dengan sebutan DatuE memiliki seorang putri yang bernama We Tadang Mpali yang terkenal akan kecantikan dan keluhuran budi pekertinya di seantero Negeri

Suatu hari, Sang Raja mengadakan pesta di Kedatuan Luwu yang dihadiri oleh beberapa raja dan pangeran yang hendak melihat langsung kecantikan Sang Putri.

Salah seorang pangeran kemudian jatuh hati kepada Sang Putri dan mengutus beberapa punggawa untuk melamar sang puteri setelah pesta di Kedatuan Luwu.

Datu Luwu menjadi bimbang (perang batin),karena dalam adat puteri bangsawan dari Kedatuan Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pangeran dari luar Kedatuan.

Akan tetapi,manakala lamaran ditolak maka kemungkinan akan terjadi perang-pertumpahan darah, dan rakyatnya akan menderita.  Namun, demi menegakkan adat, akhirnya lamaran ditolak.

Beberapa hari kemudian Sang Putri  terkena wabah penyakit yang menjijikkan, sekujur tubuhnya dipenuhi luka yang bernanah dan berbau.

Sang Raja mengkhawatirkan penyakit tersebut menular dan menjangkiti rakyat. Akhirnya sang putripun diasingkan bersama beberapa pengawal dan dayang-dayang.

Dalam perjalanan, sang putri kemudian terdampar di sebuah tempat yang sejuk dan damai yang bernama To Sora (Bugis: To bermakna orang, sedang Sora berarti Sore) terdampar salah satu daerah di Wajo.

Akhirnya Sang Putri menetap dan hidup sederhana dipengasingan bersama pengawal dan dayang-dayang pengiringnya.

Suatu hari ketika Sang Putri duduk ditepi danau, tiba-tiba seekor tedong buleng (kerbau bule-albino) menghampiri sang putri dan menjilati sekujur tubuhnya. Seketika penyakit Sang Putri sembuh dan ia-pun bergembira dan hidup normal seperti biasanya bersama dengan pengikutnya.

Di tengah belantara, seorang pangeran sedang berburu bersama bangsawan lainnya. Tiba-tiba Sang Pangeran tersesat sampai di Permukiman Sang Putri. Sang Pangeran terkejut melihat kecantikan sang putri. Pangeranpun menghampiri, berkenalan dan saling jatuh cinta.

Sang Putripun memberikan keris yang diberikan oleh ayahandanya saat akan diasingkan sebagai tanda bahwa sang putri tidak dibuang dan masih menjadi Putri Luwu kepada sang pangeran untuk dibawa ke Kedatuan Luwu.

Sang Datu Luwupun akhirnya menerima keris sebagai tanda menerima pinangan dan menikahkan sang putri dengan pesta yang mewah.

Akhirnya sang Putri dan sang pangeran diangkat menjadi Raja  di tempat pengasingan mereka, yang kemudian daerah dimana mereka hidup dan memerintah dikenal dengan Kerajaan Wajo. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response