BerandaEkonomiConfessions of an Economic Hit Man

Confessions of an Economic Hit Man

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Related Post: Pengakuan Ekonomic Hit Man

PALONTARAQ.ID – Pernah mendengar istilah “Economic Hit Man”?  Jika belum, nampaknya buku “Confessions of an Economic Hit Man” perlu menjadi referensi, khususnya bagi mereka yang punya otoritas mengurus dan terlibat langsung dalam bidang ekonomi makro, dalam kaitannya dengan ketahanan keuangan dan kedaulatan ekonomi suatu negara.

Buku “Confessions of an Economic Hit Man” adalah buku yang ditulis oleh John Perkins dan diterbitkan pada tahun 2004,  berisi catatan Perkins tentang  kariernya sebagai “perusak ekonomi” (economic hitman). Menurutnya, ia telah menulis buku ini sejak tahun 1980-an, tetapi “ancaman atau suapan seringkali membuatku berhenti.”

Menurut bukunya, diantara tugas John Perkins adalah meyakinkan pemimpin politik dan finansial negara berkembang untuk berutang besar dengan institusi seperti Bank Dunia dan USAID. Setelah tidak bisa membayar, negara tersebut dipaksa tunduk terhadap tekanan politik dari Amerika Serikat mengenai berbagai masalah. (Lihat:  Film “Confessions of an Economic Hit Man” at IMDB)

John Perkins menyatakan bahwa Negara-negara berkembang memang disetting oleh Negara-negara maju dan kaya, dibuatkan berbagai macam program yang membuatnya bergantung dan tidak berdaulat secara ekonomi, lalu dinetralkan secara politik, dibuat jurang antara orang kaya dengan miskin, kemiskinan dibuat seakan masalah yang tak bisa diatasi,  dan ekonomi negara-negara tersebut dirusak secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang.

Bagaimana pengrusakan ekonomi yang dilakukan di Indonesia?

Dalam tugas pertamanya, John Perkins memproyeksikan kebutuhan listrik di Pulau Jawa, yang digelembungkan lebih dari dua kali lipat sehingga membuat pembengkakan investasi yang harus dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN),  sedangkan skema pembiayaannya melalui pinjaman luar negeri, begitu pula dengan kontraktor proyeknya sudah diatur dengan menunjuk perusahaan multi-nasional.

Data Statistik yang dimanipulasi John Perkins, kala itu, pada Tahun 1971, membantu PLN membuat ramalan kebutuhan listrik dengan daya yang “over-optimistic”. Akibatnya apa?  Indonesia terjebak dalam perangkap hutang dan selanjutnya memudahkan dikendalikan oleh negara adikuasa.

Lihat pula: Huawei dalam Pertempuran Dominasi Amerika vs China

Demikianlah  tugas John Perkins sebagai perusak ekonomi atau economic hit man.  Globalisasi dan mengejar pertumbuhan ekonomi menjadi kata kunci. Perkins dan jaringannya pun membuat estimasi optimis tentang perekonomian sebuah negara,  rekayasa laporan keuangan,  praktek penyuapan, dan berbagai tindakan amoral lainnya. Lembaga-lembaga riset bertaraf internasional dilibatkan agar  negara target setuju melakukan pinjaman besar-besaran, yang ujung-ujungnya tidak mampu untuk membayar kembali utangnya.

Semua yang pernah dilakukan John Perkins tersebut kemudian diakuinya dalam bukunya, “Confession Of An Economic Hit Man”. Perkins membongkar semua kegiatan yang dilakukannya selama menjadi agen Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (National Security Agency/NSA).

“Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB,” ungkapnya.

Perkins dan timnya bekerja membawa agenda koalisi bisnis dan politik, antara pemerintah AS, dunia perbankan, dan korporasi besar – yang disebutnya korporatokrasi. Operasi intelijen ekonomi ini berlangsung bertahun-tahun, hingga meledak pada Tahun 1998. Saat aksi spekulan memicu krisis moneter, nilai mata uang rupiah ambruk, pembayaran utang dan bunganya otomatis meningkat berkali-kali lipat. APBN pun rontok seketika.

Lihat pula: Menyaksikan Detik-detik Berakhirnya NKRI

Ekonomi Nasional tumbang di Tahun 1998. Mau tidak mau Indonesia harus berutang lebih besar lagi untuk menyembuhkan sakit kerasnya. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) siap memberikan donor, tentu dengan segudang syarat.

Sejak awal penerbitannya, buku “Confession Of An Economic Hit Man” ini langsung menuai kontroversi. Banyak yang menentangnya, terutama pemerintah AS, lembaga-lembaga keuangan internasional, perusahaan multinasional serta media-media pendukungnya. Kita pun boleh percaya, boleh juga tidak, karena memang penuturannya sangat subjektif.

Namun, Pakar ekonomi Kwik Kian Gie mengakui adanya kegiatan intelijen ekonomi – semacam yang dilakukan John Perkins. Kwik menceritakannya dalam beberapa buku yang ia tulis, salah satunya “Indonesia Menggugat” (2009).

Bahkan,  dalam bukunya “Menggugat Mafia Barkeley” (2005), Kwik Kian Gie mengungkapkan bahwa yang paling mencelakakan adalah ketika menteri dan pejabat publik sudah menjadi bagian dari pengrusakan ekonomi.  Fasilitas khusus tanpa alasan yang jelas bisa diberikan. Termasuk penurunan tarif bea masuk barang impor kepada pihak tertentu agar bisa mematikan usaha pesaingnya.

Lihat pula: Fakta Dibalik Film Sexy Killers

Kini istilah “Economic Hit Man” kembali muncul dan diungkapkan sendiri  Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan mengakui bahwa sekarang sedang berlangsung operasi intelijen ekonomi yang bertujuan menggoyang Indonesia.  Instrumennya adalah perang mata uang (currency war) dua raksasa ekonomi, antara China dengan Yuan-nya versus AS dengan US Dollar-nya.

“Currency war (dimanfaatkan) untuk melemahkan rupiah,” kata Budi Gunawan di acara Halaqah Nasional Alim Ulama se-Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis 13 Juli 2017.  Perang dagang dan perang mata uang itu memang bukan perang kita. Namun beberapa ekonom percaya bahwa itu sifatnya akan destruktif ke semua negara, termasuk Indonesia.

“Economis Hit Man”, Ilusi Pertumbuhan, dan Statistik

John Perkins yang buka-bukaan dalam bukunya, “Confessions of an Economic Hit Man” mengemukakan bahwa Intervensi para perusak ekonomi bisa samar bahkan nyaris tak terlihat.  Hal ini diamini Kwik Kian Gie. Instrumen intervensinya bisa pendekatan World to Government oleh IMF atau Bank Dunia dengan alasan globalisasi. Business to Government, dengan alasan membuka iklim investasi, dan Intelectual to Government melalui konsultan, akademisi dan pakar yang memberikan prediksi bahwa kondisi fiskal negara bisa lebih sehat, misalnya dengan privatisasi BUMN, dan lain-lain.

Lihat pula: Mereka Ini yang Mau Merampas Kemenangan Prabowo

Ya. Kaum intelektual, para ahli ekonomi, sangat bisa terseret dalam ilusi ekonom perusak. Bahkan, bisa saja diantaranya justru si ekonom perusak. Sebagai  contoh kampanye deregulasi, ada pakar yang mendukung dengan alasan demi kebaikan iklim investasi. Ada pula pakar yang khawatir, karena deregulasi bak menyerahkan kontrol pemerintah kepada mekanisme pasar.

Hal ini sempat diakui pelaku bisnis keuangan tersohor, George Soros pada sebuah wawancara – dalam film dokumenter “Inside Job”. Soros mengakui bahwa kampanye deregulasi memiliki dukungan kuat secara keuangan dan intelektual. “Profesi ahli ilmu ekonomi adalah sumber dari ilusi itu,” ucap Soros.

Kondisi pembentukan ilusi ekonomi melalui para ahli juga diakui pakar geopolitik Suryo AB. Dalam perbincangan kami, Kamis, 20 Juli 2017, dia sangat menyesalkan ramainya adu ilmu para pakar, terutama akhir-akhir ini ihwal utang dan kondisi fiskal. “Stop bereksperimen terhadap negara. Duduk saja bersama cari solusi,” ucap Suryo.

John Perkins mengatakan bahwa dirinya kerap mendiskusikan karakteristik dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang menyesatkan. Misalnya, pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat untuk rakyatnya.

“Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi,” tulis John Perkins. Kondisi inilah yang sekarang sedang dikritisi sebagian kalangan ekonomi di Indonesia. PDB tumbuh, namun daya beli menurun, termasuk sektor manufakturnya yang tak tumbuh.

Lihat pula: Proyek Obor China, Itu Mah Proyek Luhut Cs

Kini, pengrusakan ekonomi itu semakin nyata. Dapat dilihat dengan mata telanjang dan terjadi perebutan kekayaan alam secara massif, sekalipun media mainstream berupaya menutupinya karena ‘tersogok’ oleh berita berbayar dan iklan pencitraan pemerintah. Jangankan berharap ekonomi meroket, ekonomi nasional malah nyungsep.

Kapitalisasi dan investasi China tak terkendali, TKA yang diduga dalam jumlah jutaan sudah menempati posisi pekerja dari investasi negaranya yang menguasai banyak proyek infrastuktur dan strategis.  Jebakan utang China ini bukan lagi mengancam kedaulatan ekonomi, tetapi juga kedaulatan politik dan pertahanan keamanan negara. Kita lihat saja nanti! (*)

 

 

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT