Oleh: Nawir @nawir.inen
PALONTARAQ.ID – SEXY KILLERS adalah film dokumenter yang akhir-akhir ini viral dan banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan yang menarik perhatian berbagai pihak.
Film yang menceritakan bagaimana kekayaan alam Indonesia dalam hal ini batu bara, mulai dari proses penambangan, dampak terhadap lingkungan sekitar dan pemanfaatan serta efek positif dan negatif yang ditimbulkan aktivitas tersebut dari hulu ke hilir.
Dari film dokumenter tersebut dapat kita lihat dan cermati ternyata dampak negatifnya lebih besar dari pengaruh positifnya. Khususnya untuk lingkungan sekitar, pencemaran lingkungan, terganggunya ekosistem dan juga masalah kesehatan, keselamatan serta kesejahteraan masyarakat sekitar tambang yang kadang diabaikan oleh para pelaku tambang.
Lihat juga: About Sustainable Development Goals (SDGs)
Tanggung jawab pemerintah juga masih sangat minim dalam menangani permasalahan tersebut. Kita kemudian mungkin akan kaget setelah tahu bahwa ternyata orang orang dibalik perusahaan raksasa tersebut ternyata adalah mereka yang sangat tidak asing di mata kita.
Terutama di masa pemilihan presiden tahun 2019 kali ini. Mereka tidak hanya menjadi CEO dari perusahaan tambang batubara tersebut tapi mereka juga berkuasa atas industri yang erat kaitannya dengan pemanfaatan hasil tambang tersebut.
Sebut saja salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan beberapa industri lainnya. Mereka adalah pengusaha yang merangkap sebagai politisi.
Demi mengamankan dan mengembangkan asset mereka, cara paling efektif adalah dengan jalan menjadi penguasa, ya pengusaha dan penguasa.
Lihat juga: Bagaimana Sistem Ekonomi Kapitalisme Bekerja?
Dengan demikian dapat dipastikan mereka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin melarat. Dengan kekuasaan, mereka kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang memihak pada kepentingan pribadi, kelompok dan orang atau koorporasi yang berada di balik mereka.
Tokoh-tokoh tersebut berperan sangat aktif baik di depan atau di balik layar, demi mengatur strategi pemenangan masing-masing pasangan. Jadi sangat wajar kemudian jika ada pihak yang mengatakan bahwa kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh sebagian kecil orang.
Sekitar 80% kekayaan negeri ini dikuasai oleh individu/perorangan melalui koorporasi mereka miliki. Hanya sekitar 20% yang dimiliki oleh negara, nominal tersebut sebenarnya juga sangat kecil sebab masih akan di bagi untuk beberapa post.
Para penguasa juga punya jatah di diangka tersebut, jumlah tersebut dikelola pemerintah dalam hal ini BUMN. Fakta yang ada bahwa ternyata yang menjadi komisaris di BUMN tersebut tidak lepas dari campur tangan penguasa saat ini.
Inilah realita yang ada di negeri super kaya, negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam dalam berbagai sektor. Kekayaan tersebut dikuasai oleh para pemodal, para kapital kapital yang rakus dan zalim.
Lihat juga: Beberapa Catatan terkait Debat Pilpres 2019
Dalam syariat Islam, kekayaan suatu negara tidak dikuasai oleh pribadi atau kelompok secara mutlak. Tetapi dikuasai oleh negara dan digunakan untuk membiayai operasional pemerintah dan terpenting digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut sebenarnya senada dengan UUD 1945 pasal 33 ayat 1 & 2, namun prakteknya bagaikan arang yang jauh dari panggang.Setelah menyaksikan film tersebut, saya pribadi tidak mengajak untuk golput.
Tapi saya lebih sarankan untuk menggunakan akal sehat sebaik mungkin dan jangan baperan, silahkan cermati untuk menentukan pilihan masing-masing. Ada kaidah yang mengatakan “lebih baik memilih yang sedikit mudharatnya ketimbang yang menimbulkan mudharat dan kezaliman yang lebih besar”.
Pilihan anda akan memberikan dampak bagi perubahan bangsa ini. Kecuali yang beranggapan bahwa keduanya tidak akan memberikan dampak yang kurang maksimal sebab sistem di negeri ini memang lebih pada sistem kapitalis.
Setiap individu berhak untuk menguasai dan memiliki kekayaan tanpa batas walau dengan cara yang tidak pantas. Kalau hal tersebut jadi pegangan, itu juga sebenarnya adalah sebuah pilihan.
Sebab setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat, silahkan tentukan pilihan anda masing-masing!
Bahodopi, Morowali 17 April 2019


